Lentera Keluarga – Mulai Dari Yang Sederhana

0
169 views

Tahun A-2. Minggu Biasa XVII

Senin,  27 Juli 2020. 

Bacaan: Yer 13:1-11; Ul 32:18-19.20-21; Mat 13:31-35.

Renungan: 

DALAM  Matius 13, ada enam perumpamaan yang digunakan oleh Tuhan Yesus untuk menggambarkan tentang Kerajaan Allah. Perumpamaan tentang sesawi dan ragi ditujukan oleh Tuhan Yesus untuk menunjukkan proses Kerajaan Allah itu bertumbuh. Perumpamaan tentang Harta Tersembunyi dan Mutiara ditujukan kepada para muridNya untuk menunjukkan betapa berharganya Kerajaan Allah,. Dan perumpamaan tentang jala dan benih mau menunjukkan kepada siapa kerajaan Allah itu diberikan pada hari penghakiman. 

Dua perumpamaan hari ini, tentang sesawi dan ragi mau menunjukkan bahwa Kerajaan Allah itu diawali dari yang sederhana. Perumpamaan ini meneguhkan para murid dan orang banyak yang takut dan khawatir karena mereka akan kawanan kecil. Segala sesuatu dimulai dari yang sederhana, dan Allah akan memberikan pertumbuhan. Dan syaratnya adalah seperti ragi : mau melebur, bersatu dan hadir dalam dunia; tidak mengambil jarak dan menutup diri. Kedua pesan ini sangat kuat bagi gereja awal yang sangat sedikit jumlahnya. 

Kehadiran seorang misionaris asing  atau katekis di daerah misi nampaknya sederhana tetapi itu penting. Dengan cara-cara sederhana : mengajar, bercocok tanam, menyapa, membuat asrama, obat-obatan dlsb telah membuat gereja berkembang besar. Mereka berani memulai, melebur, bergerak dan menjawab kebutuhan masyarakat pada waktu itu. Mereka selesai dengan dirinya sendiri, mampu menundukkan kesendirian, ketidakadaan fasilitas, keterbatasan dlsb dan melihat peluang pewartaan Injil.  Semangat yang sama perlu kita kembangkan sebagai imam, religius maupun awam untuk terlibat dan menjadi bekat. Namun kembali, mereka yang mampu terlibat dan menjadi berkat harus selesai dengan dirinya sendiri. Jika tidak maka, kita akan menjadi misionaris yang sibuk di dalam gereja, sementara aktifitas masyarakat sudah bergerak jauh. 

Inspirasi ini juga dapat kita terapkan dalam hidup berkeluarga kita. Kita semua ingin menyelesaikan masalah kita dan mempunyai impian keluarga yang baik. Namun impian itu kadang tidak didukung oleh sikap kita yang membiarkan perasaan dan pikiran kita mengunyah masalah yang pada akhirnya justru meracuni diri sendiri. Impian itu harus dibangun dengan dan melalui hal-hal positif yang konkret.  Setiap kali kita ada masalah dalam perkawinan dan ingin menyelesaikannya, mulailah dari menjawab pertanyaan: apa yang hal-hal yang sederhana yang dapat saya lakukan supaya perkawinan dan keluarga ini bertumbuh. Jawaban itu tidak ditemukan dari orang lain atau pendamping, tetapi dari diri kita sendiri. Kadang-kadang hal-hal sederhana itu menjadi penyelesaian kasus-kasus yang sangat komplek dan rumit.  

Prinsip yang sama juga dapat kita pakai dalam usaha dan bisnis kita 

Kontemplasi:

Gambarkanlah dampak perumpamaan Tuhan Yesus ini bagi para pendengarnya, sebuah kawanan kecil, orang kebanyakan. 

Refleksi:

Apakah aku sibuk dengan masalah? Ataukan aku berani mengambil keputusan untuk membuat tindakan-tindakan kecil yang positif. 

Doa:

Ya Bapa, ajarilah kami untuk belajar setia, percaya dan mulai melakukan tindakan-tindakan positif untuk kebaikan gerejamu dan kebaikan keluarga kami. 

Perutusan:

Lakukanlah hal sederhana dengan ketekunan dan cinta untuk mengubah sesuatu yang besar.  

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here