Home BERITA Literasi tentang St. Petrus Kanisius: Bersyukur Terima Gemblengan Pembinaan dari Guru Baik (3)

Literasi tentang St. Petrus Kanisius: Bersyukur Terima Gemblengan Pembinaan dari Guru Baik (3)

0
15 views
Santo Petrus Kanisius. (Ist)

ORANG suci memiliki masa lalu, sedangkan pendosa memiliki masa depan.

Ini literasi tentang kisah St. Petrus Kanisius. Pada masa hidupnya, St. Petrus Kanisius merasakan penyelenggaraan ilahi yang begitu besar dalam dirinya. Ia mengucapkap syukur dan berterimakasih atas banyak kenalan dan sahabat dalam hidupnya. Banyak orang membantu dan menolong Petrus Kanisius dalam pembentukan pribadinya; dalam hal iman, pemikiran, dan tindakan suci lainnya.

Menyadari adanya penyelenggaraan ilahi

Bacaan ini disarikan dari buku Testamen Pater Petrus Kanisius bagian kedua. Di bagian kedua dari testamen ini:

“Aku menyadari secara khusus penyelenggaraan ilahi terhadap diriku. Aku berharap hal itu diketahui pula oleh orang lain sehingga mereka memuji-Nya. Sebab, meskipun berada dalam hidup yang benar, aku tetap tak layak untuk ikut dalam rahmat Sakramen Mahakudus. Namun, syukurlah ada keselamatan ilahi di tengah kelemahan manusia.

Penghormatan dan terimakasih kuhaturkan pada mereka, orang-orang Samaria sejati yang menyampaikan sarana keselamatan tersebut. Mereka adalah orang-orang bijak dan setia. Kalau saja aku tidak dikuatkan dengan tangan yang kuat dan sering menerima sakramen, maka jiwaku akan mudah tergelincir ke arah kesesatan, seperti keledai yang terperosok dalam lubang lumpur.

Dididik guru di Cologne

Aku sangatlah terbantu, ketika remaja berusia 15 tahun di Cologne telah diserahkan pada seorang pendidik yang sangat terpercaya dan saleh. Dia adalah Nikolaus van Essche, imam dari Brabant.

Ia membimbingku ke arah hidup yang benar dalam kasih sejati dengan teguran-teguran tiap hari dan dengan teladannya. Ia menjauhkan hidupku yang dangkal dari berbagai hiburan masa muda. Ia juga menumbuhkan dalam diriku pikiran-pikiran untuk melayani Tuhan dan kasih yang mendalam akan kebenaran.

Di bawah guru tersebut, aku hidup bersama Laurensius Surius dari Lübeck di Cologne.

Aku membantunya kembali ke iman Katolik dari pengaruh ajaran sesat. Kemudian dia terkenal dengan pengetahuan dan kesalehannya sebagai Kartusian. Ada juga Yohanes Justus dari Landsberg. Ia seorang Kartusian terkenal; banyak menghasilkan tulisan-tulisan rohani.

Kami semua diasuh oleh guru yang sama dan menjalin persahabatan. Aku bersyukur tinggal di tempat suci, di Cologne, di Santo Gereon; juga mengalami perlindungan kuat dari para martir di Theba. Persahabatan dengan orang-orang terpelajar lain di Cologne sangatlah berguna dan menjadi sebuah kehormatan bagiku. Melaluinya, Allah mengajar dan menguatkan dan mempersiapkanku untuk sanggup berjuang – sesuatu yang kelak akan aku hadapi.

Janda saleh

Aku ingat akan seorang janda saleh yang memberi teladan kesalehan baik selama hidupnya setiap kali aku mengunjungi Arnheim. Ia bercerita padaku tentang pendirian sebuah tarekat imam. Kata janda itu, aku pun akan bergabung ke dalam tarekat itu.

Saat itu tidak ada orang yang tahu tentang para Jesuit seperti sekarang. Tak seorang pun di Italia, Perancis, atau Jerman ada orang bicara tentang Jesuit.

Hidup pula di Brabant seorang saleh seorang perempuan bijak. Ia mengatakan padaku bahwa aku akan menyumbang banyak bagi Gereja dengan tulisan-tulisanku. Demi Allah, aku tidak berbohong soal ini. Aku hanya memberikan kesaksian yang benar.

Tentang masa studiku di Gymnasium Montaner Cologne, pada usia 19 tahun, tepatnya pada tahun 1540, aku mendapatkan gelar Magister Artium pada tanggal 25 Mei 1540. Ini tidak untuk memuji diri.

Di kota Katolik tersebut, aku sering mengajar dan berkhotbah, meskipun belum ditahbiskan. Aku berterimakasih dapat menjalin persahabatan dengan mereka yang membela iman Katolik.

Mereka adalah Ruard Tapper, Jakobus Latomus, Judocus Tiletanus, Fransiskus Sonnius, Wilhelminus Lindanus, Pedro Soto, yang kelak menjadi Kardinal Stanislaus Hosius, Uskup Michael von Merseburg, Friedrich Staphzlus dan banyak lainnya.

Ketika berusia 19 tahun, dengan gembira dan bebas, aku mengucapkan janji kemurnian. Aku membuat itu bukan karena percaya akan kekuatan sendiri. Namun, sebab aku yakin penuh bahwa Allah mengabulkan doaku untuk itu. Dia tidak membiarkan mereka dicobai melampaui kekuatannya. Dengan berbagai bantuan, aku senantiasa diteguhkan dari segala keraguan dan godaan.

Aku digerakkan untuk memperolah karunia-karunia yang paling utama sehingga senantiasa mewaspadai dunia dan segala jerat perangkapnya.

Renungan

Banyak orang yang membantu St. Petrus Kanisius dalam kehidupannya. St. Petrus Kanisius sangat bersyukur atas kehadiran orang-orang tersebut dalam hidupnya. Tanpa mereka, mungkin ia akan mudah jatuh pada godaan-godaan duniawi dan ajaran sesat. Bahkan, St. Petrus Kanisius menyebut mereka sebagai sarana penyelenggaraan Ilahi dari Tuhan sendiri untuk dirinya.

Dari kisah tersebut, kita dapat merenungkan mengenai pentingnya sistem dukungan sosial dalam proses pendidikan. Sistem dukungan sosial tersebut terdiri dari beberapa elemen, antara lain:

  • Dukungan emosional: Mencakup memberikan dukungan emosional dan psikologis kepada individu.
  • Dukungan Akademik: Mencakup semua dukungan akademik dari guru, tutor, atau teman sebaya.
  • Dukungan Sosial: Melibatkan hubungan yang positif dan membangun antara individu dalam komunitas pendidikan.
  • Dukungan instrumental, informasional, dan institusional.

Kesatuan dukungan emosional, akademik, dan sosial dalam lingkungan pendidikan orang dapat membuatnya mengalami pertumbuhan holistik atau menyeluruh. Ini tidak hanya berkontribusi pada kesuksesan akademik, tetapi juga pada kesejahteraan dan perkembangan pribadi siswa.

St. Petrus Kanisius bercerita bahwa ia mengalami hal sama. Ia semakin bertumbuh dalam iman, kebijaksanaan, dan pengetahuan. Yang tidak kalah penting, St. Petrus Kanisius merasa gembira menjadi pribadi yang begitu dicintai oleh Tuhan melalui orang-orang di sekitarnya.

Semoga dengan inspirasi kisah St. Petrus Kanisius tersebut, semua orang yang menjadi bagian dari suatu komunitas pendidikan. Entah itu kepala sekolah, guru, karyawan, juga murid serta wali murid yang sungguh sadar akan pentingnya sistem dukungan sosial tersebut dan mau terus-menerus mengusahakannya.

Pertanyaan reflektif

  • Siapakah sahabat-sahabatku yang menemani perjalananku sebagai murid maupun guru?
  • Apa saja peran maupun jasa mereka?
  • Bagaimana usahaku dalam mewujudkan lingkungan kelas maupun sekolah yang saling mendukung setiap pribadi di dalamnya untuk berkembang? (Berlanjut)

Baca juga: Kisah tentang Santo Petrus Kanisius (2)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here