Liturgi Bukan Drama

0
1,016 views
Ilustrasi: Romo Windyatmaka SJ (alm) naik kuda dalam perayaan Minggu Palma. (Ist)

PERAYAAN Iiturgi selalu dilaksanakan dalam bentuk sImbol. Melalui simbol-simbol, perayaan liturgi mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi.

Simbol berbeda dari tanda

Simbol itu berbeda dengan apa yang disebut tanda. Itu karena tanda hanya memberi informasi. Sementara, melalui simbol-simbol liturgis maka dihadirkanlah apa yang dilambangkan yaitu realitas kehadiran Kristus yang menyelamatkan.

Bagaimana pun juga, liturgi berciri simbolis karena partisipasi kita di dalam hidup Allah belum dalam keadaan seperti Allah sendiri mengalami (1Kor.13:12).

Gerakan tubuh

Terdapat banyak simbol dalam liturgi, salah satunya adalah gerakan dan bahasa badan yang mencakup: berjalan, berdiri, duduk, berlutut dan membungkuk, menyiarap, penumpangan tangan, menepuk dada, ciuman dan berjabat tangan, pembasuhan tangan, tanda salib.

Simbol-simbol itu berkembang dan bertahan dalam perjalanan sejarah Gereja. Simbol-simbol dilaksanakan dan terkait erat dengan keindahan, veritatis splendor. Keindahan “bukan melulu dekorasi, tetapi lebih merupakan unsur hakiki dari kegiatan liturgi, karena keindahan merupakan sifat dan pewahyuan Allah sendiri.” (Sacramentum Caritatis, no. 35).

Apa yang terjadi hari ini?

Sering kali dimasukkan beberapa tanda yang yang tidak lazim, dilakukan sesuka hati, spontan begitu saja, tanpa pendalaman. Bahkan tanpa konfirmasi dari pimpinan Gereja setempat. Akibatnya? Terjadi kebingungan dan gosip di antara umat peraya liturgi, dalam paroki-paroki di sebuah keuskupan.

Tiba-tiba saja misalnya, imam naik kuda ketika perayaan hari Minggu Palma. Dilakukan dalam perarakan yang seharusnya sarat dengan simbol dan ungkapan iman. Liturgi “dibentuk” sendiri oleh seorang imam, tanpa sungguh memahami tradisi Gereja, dan sumber-sumber liturgi dari Bapa-bapa Gereja yang bukan hanya memahaminya secara mendalam, tapi juga menghayatinya secara bertanggungjawab.

Pusat perhatian adalah Kristus dan misteri penyelamatan-Nya

Terkesan penampilan yang dangkal, kekanak-kanakan, terjebak dalam seni teatrikal murahan, karena sekedar apa yang dikatakan Paus Fransiskus “show” (pertunjukan). Umat tidak mengalami simbol, tetapi justru suatu pementasan drama demi kepuasan imam dan Seksi Liturgi.

Pusat perhatian adalah imam dan bukan lagi Kristus serta misteri keselamatan yang mau dirayakan. Makna terdalam liturgi hilang dan terjerumus menjadi seremoni-ritual. Penampilan yang dangkal itu dibenarkan hanya berdasarkan pendekatan rasional dangkal dan kekanak-kanakan.

Ilustrasi: Perayaan liturgi Minggu Palma mengikutsertakan prosesi arak-arakan di mana imam naik kuda atau keledai. Searah jarum jam: 1. Imam di Keuskupan Weetebula, Sumba, melakukan prosesi arak-arakan Minggu Palma 24 Maret 2024; 2-3. Almarhum Romo Windyatmaka SJ saat masih berpastoral di Gereja St. Anna Paroki Duren Sawit; 4. Romo Ferry Wishijer Pr di Gereja Paroki Kalvari Paroki Lubang Buaya, Jakarta Timur. (Ist)

Perayaan liturgi tidak mampu menumbuhkan iman yang hidup; malah justru membuat kekacauan dan kebingungan bagi banyak umat. Orang lupa bahwa liturgi dirayakan oleh Gereja universal karena liturgi bukan tentang kita, tetapi tentang Allah.

Maka dari itu, “Gereja dengan susah payah berusaha, jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik dan ikut serta secara penuh khidmat dan secara aktif.” (SC, 48).

Perlu diingat lagi, pada mulanya dari sejarahnya karya seni berhubungan erat-bersatu dengan unsur ilahi, keyakinan agama, pemujaan kepada “mysterium tremendum et fascinosum”. Yaitu Yang Ilahi sebagai misteri yang menakjubkan, menakutkan dan sekaligus menarik, mempesonakan.

Dewasa ini, dua hal ini dipisahkan. Sejak awal, Gereja sangat menghargai seni sakral. Seni diolah dalam suasana keheningan, dengan meditasi dan doa, renungan berdasarkan Kitab Suci, dalam waktu yang lama, bahkan dengan derita, ketika “trial and error”.

Ilustrasi: Pengadilan Terakhir by Michelangelo.

Dibutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi disertai kedalaman hati yang jernih terbuka disinari Roh Allah. Perlu kesabaran untuk diterima umat dan pimpinan Gereja, berjalan dalam perjalanan sejarah Gereja untuk semakin matang. Dan dalam liturgi, semua cabang kesenian itu menjadi matang untuk mengungkapkan iman.

Adalah aneh demi alasan pastoral yang sebenarnya karena alasan pragmatisme sesaat, orang memasukkan begitu saja tambahan-tambahan. Untuk menarik minat umat dan bukan untuk memuliakan Allah.

Padahal semua simbol dalam liturgi harus memiliki daya kekuatan Roh Kudus. Simbol-simbol dalam liturgi harus mendatangkan keselamatan, kasih dan kerahiman Allah bagi umat dan masyarakat.

Maka janganlah seenaknya saja, tergopoh-gopoh memasukkan tambahan yang dangkal dan menggelikan.

PS: Artikel sama ini lebih dulu diimuat Majalah Liturgi, Vol 29 No. 1, Januari-Maret 2018, hal 52-52. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here