Manajemen Perubahan Diri, Unika Musi Charitas Bina Seminari St. Paulus Palembang

0
183 views
Seluruh peserta webinar.

UNIVERSITAS Katolik Musi Charitas (UKMC) di Kota Palembang, Sumatera Selatan, terus bermitra dengan elemen masyarakat untuk pemberdayaan.

Belum lama ini, hari Jumat 26 Maret 2021 lalu, telah dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh beberapa dosen dan mahasiswa UKMC; khususnya dari Fakultas Humaniora dan Ilmu Pendidikan (FHIP) dan Fakultas Bisnis dan Akuntansi (FBA).

Bermitra dengan Seminari Menengah St. Paulus Keuskupan Agung Palembang, tim pengabdian tersebut mengadakan webinar daring dengan platform Zoom.

Kegiatan ini ingin memfasilitasi para seminaris untuk dapat lebih memahami manajemen perubahan diri pribadi dalam upaya meneguhkan panggilan hidup pilihan mereka.  

Narasumber utama webinar ini adalah Catharina Clara, S.E., M.Si dan Ega Leovani, S.E., M.M. dari Fakultas Bisnis dan Akuntansi.

Semua siswa seminari (seminaris) kelas akhir atau tingkat IV -biasa disebut Kelas Rhetorica- berjumlah 28 orang berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Para fasilitator.

Lima generasi

Pertama-tama, Ega Leovani, dosen Program Studi Manajemen di FBA UKMC, memaparkan keberagaman generasi yang ada dewasa ini.

Setidaknya ada lima generasi yang menjadi bagian dari populasi penduduk saat ini, tuturnya.

Satu sama lain memiliki perbedaan yang cukup mencolok karena perbedaan lingkungan dan cara berkembang pada saat-saat generasi tersebut, sehingga menghasilkan perbedaan nilai-nilai, kepercayaan, dan opini di antara generasi satu dan lainnya.

Ega Leovani menjelaskan berikut ini.

  1. Generasi Baby Boomers (yang lahir kurun waktu tahun 1946-1964) adalah generasi yang dinilai kompetitif dan mencari cara untuk melakukan perubahan dari sistem yang ada. Generasi baby boomers umumnya masih melakukan kegiatannya secara konvensional, tetapi cukup banyak juga yang sudah mencoba menggunakan teknologi.
  2. Generasi X (1965-1980) di Indonesia dikenal sebagai pekerja keras dan ulet.
  3. Generasi Millenial (1981-1994) merupakan generasi yang hidup di zaman yang sedang berubah, dari konvensional menjadi modern. Generasi ini tergolong cukup beruntung karena masih cukup kental merasakan budaya dan di saat bertumbuh dewasa, mereka mulai menggunakan teknologi.
  4. Generasi Z (1995-2010) adalah golongan yang tidak terpisahkan dengan gadget, terbiasa dengan gaya hidup yang simple, yang tidak mau ribet, karena sudah terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah.
  5. Generasi Alpha (Lahir > 2010) disebut sebagai iGeneration dan dewasa ini sebagai generasi yang paling berpengaruh terhadap kelanjutan masa depan populasi dunia.

Hindari FOMO

Ega Leovani menasihati, dalam konteks perubahan diri, sebaiknya menghindari fenomena FOMO (Fear of Missing Out).

Secara umum, FOMO adalah sebuah gangguan kesehatan mental yang menyebabkan seseorang terus menerus merasa “takut tertinggal” oleh informasi yang terus berkembang.

Narasumber juga menyampaikan tanda-tanda seseorang mulai terkena dampak FOMO pun lumayan beragam.

Salah satunya dapat dilihat dari kebiasaannya menghabiskan waktu selama berjam-jam di depan layar smartphone atau komputer.

Para seminaris peserta webinar.
Berbagai generasi.

JOMO sebagai solusi

Solusi mengatasi FOMO, demikian menurut Ega, adalah menerapkan JOMO (Joy of Missing Out).

Artinya, perasaan tidak peduli, karena tidak melakukan atau mengikuti tren tertentu.

Digital leadership

Sebagai calon pemimpin, ia mengharapkan para seminaris dapat menjadi Digital Leader.

Digital Leadership mengacu pada kepemimpinan di era baru, yaitu era yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi.

Kepemimpinan diperlukan demi memperbaiki banyak masalah yang diciptakan era disrupsi digital untuk menuju revolusi industri 5.0 Society Era.

Pemaparan dilanjutkan oleh Catharina Clara, juga dosen di Prodi Manajemen. Ia menyampaikan tentang perubahan besar-besaran dan relatif radikal di segala sendi kehidupan manusia.

Era disrupsi ini menghadapkan manusia akan tingkat gejolak, ketidakpastian, kompleksitas, dan kebingungan yang semakin tinggi.

Peter F. Drucker menyatakan bahwa “The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence. It is to act with yesterday’s logic”.

Oleh karena itu, proyeksi apa yang terjadi di masa lalu untuk menentukan strategi di masa sekarang. Atau masa depan, bisa jadi menyesatkan.

VUCA

Kondisi labil yang begitu bergejolak ini dikenal dengan istilah VUCA.

VUCA sebagai akronim Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity adalah bukan hal baru.

Konsep tersebut mulanya diperkenalkan di US Army War College sebagai suatu konsep berkaitan dengan kondisinya medan perang sejak tahun 90-an.

Di dunia bisnis, konsep ini diperkenalkan dalam Harvard Business Review tahun 2014.

Intinya, manusia selalu akan menghadapi kondisi tersebut sebagai suatu fitrah manusia. Bahkan Tuhan menciptakan kondisi tersebut sebagai bentuk kasih sayang-Nya agar manusia mendapat tantangan mengasyikkan.

Tanpa adanya VUCA, hidup manusia akan menjadi membosankan, tanpa dinamika.

Manusia diciptakan untuk menghadapi perubahan, sebagaimana kisah Adam dan Hawa, yang harus menghadapi kondisi VUCA yang signifikan yakni dari kehidupan nyaman full service di surga, menjadi kehidupan self service di bumi.

VUCA menjadi lebih terasa di era Revolusi Industri 4.0. dengan kemajuan IT yang berjalan lebih cepat. Kondisi tersebutlah yang harus dihadapi juga oleh semua manusia.

Menghadapi perubahan yang begitu cepat, apa yang bisa kita lakukan untuk hidup kita. Setiap perubahan yang dilakukan manusia pasti ditujukan demi kemajuan kehidupan manusia dan sifatnya adalah baik.

Namun dalam praktiknya, hal yang positif pasti mengalami penyalahgunaan yang berdampak negatif dan merugikan kehidupan manusia itu sendiri. Sebagai manusia kita punya pilihan, apakah kemajuan teknologi dapat kita manfaatkan dengan positif dan membangun inovasi-inovasi dalam setiap bidang karya pekerjaan kita.

Langkah solutif

Mengakhiri pertemuan, Catharina Clara mensharingkan langkah-langkah dan cara bersikap di era disruptif ini.

  1. Effectiveness, do the right things. Segala sesuatu yang hendak kita lakukan adalah pertama harus kita tinjau dahulu. Apakah tindakan atau rencana itu sesuatu yang baik dan tepat, tidak salah.
  2.  Efficiency, do the things right. Setelah berlatih menentukan hal-hal yang tepat atau penting untuk diprioritaskan, dilaksanakan terlebih dahulu. Diberi proporsi terbesar dalam sumber daya yang dimiliki, maka langkah selanjutnya adalah melakukannya dengan tepat pula.
  3. Improving, doing things better. Ini adalah tahap mencari-cari cara untuk berinovasi, melakukan pekerjaan dengan cara yang lebih baik, mendengarkan atau mempelajari tips dari senior atau para ahli.
  4. Cutting, doing away with things. Singkirkan hal-hal yang tidak berguna.
  5. Copying, doing things that other people are doing. Tirulah orang-orang yang kita kagumi karena karyanya dalam hal-hal positif.
  6.  Kendati agak kontradiktif dengan langkah sebelumnya, different, doing things no one else is doing. Setelah belajar meneladani tokoh yang kita kagumi, maka tiba waktunya kita menjadi diri sendiri yang unik.
  7. Impossible, do things that can’t be done. Beranikah kita menjalankan sebuah misi impossible yang pada waktunya menjadi i’m possible?

Akhirnya, sebagai follow-up webinar ini, dua dosen FHIP yang terlibat yakni Yohanes Heri Pranoto, M.Pd dan Anselmus Inharjanto SCJ, M.Phil. mengajak para seminaris untuk berefleksi tentang imagologi diri.

Penulisan imagologi ini menjadi bentuk pelatihan bagaimana partisipan menggambarkan diri mereka di masa depan terutama menjadi digital leaders dan menghadapi VUCA.

Tim dosen dan mahasiswa berharap kegiatan PkM ini mampu membekali dan melatih para seminaris untuk mengelola perubahan diri demi keteguhan panggilan mereka.

Daftar Gambar:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here