“Maria – Bunda Segala Suku”, Cara Keuskupan Agung Jakarta Merawat Kebhinnekaan Indonesia (1)

0
1,434 views
Kreasi seni memberi gambaran visual peristiwa Bunda Maria Menerima Kabar Gembira menurut 'pemahaman' seniman Filipina di lorong Gereja Kabar Gembira di Nazareth - Israel. (Mathias Hariyadi)

DI Israel –tepatnya di kota kelahiran Yesus yakni Nazareth—ada sebuah gereja dengan ‘warna’ tampilan khusus. Bukan warna catnya, melainkan tersedianya koleksi berbagai ornamen Bunda Maria dari segala bangsa.

Berbagai wujud ornamen itu berupa aneka wajah  ‘lukisan’ yang terpancang rapi dan bagus di sepanjang lorong halaman luar gereja ini. Gereja berarsitektur menawan dengan koleksi kreasi seni yang indah tentang ‘sosok’  Maria – Bunda Segala Bangsa ini ada di Gereja Kabar Gembira atau biasa disebut The Church of Annunciation – Nazareth.

Hal sama juga terpajang di bagian dalam bangunan gereja ini. Dengan format ukurannya yang lebih besar, paparan aneka ornamen tentang ‘sosok’ Bunda Maria dari berbagai negara di seluruh dunia ini rasanya memberi pesan berharga kepada para peziarah. Tiada lain adalah gema penting bahwa ternyata Bunda Maria itu telah ‘menjadi milik’ komunitas internasional.

Ekspresi iman bersemangat inkulturasi

Berangkat dari kultur budaya dan sejarah masing-masing bangsa di setiap negara tersebut, maka setiap gambar ornamen tentang ‘sosok’  Maria – Bunda Segala Bangsa itu tentunya juga mencerminkan cara bagaimana bangsa itu mengimani ibunda Yesus ini. Dengan sekilas pandang, maka sudah tampak jelas bagaimana misalnya umat katolik Indonesia akan menggambarkan ‘sosok’ Bunda Maria.

Dan hal itu akan sangat berbeda dengan cara umat katolik di Vietnam, di Amerika Latin, Amerika Utara (AS, Canada), Eropa Barat, Eropa Timur, Eropa Tengah, Rusia, Skandinavia, Asia Tengah (Turki, Libanon, Israel, Palestina), Asia Selatan (India, Bangladesh, Pakistan, Afghanistan), Asia Timur (Jepang, Korea, Tiongkok, Taiwan), Asia Tenggara, dan  Australia serta kawasan Pasifik.

Ekspresi seni yang menggambarkan secara visual tentang ‘sosok’ Bunda Maria. Aneka seni kreasi visual ini ada di lorong Gereja Kabar Gembira di Nazareth – Israel. (Mathias Hariyadi)

Bahkan kalau ditelisik lebih dalam lagi, ungkapan iman masing-masing kelompok etnis di Indonesia kepada Bunda Maria saja sudah amat beragam. Cara masyarakat Jawa, misalnya, tentu saja akan berbeda dengan saudara-saudari seiman katolik dari kawasan NTT. Pun pula, masyarakat Dayak di Kalimantan pasti juga berbeda cara mengungkapkan imannya kepada Bunda Maria dengan umat katolik etnis Batak di Sumatera Utara; juga umat katolik di Manado akan mengungkapkan secara berbeda dengan umat katolik di Ambon.

Isi sama dengan kemasan beda

Konten iman segenap umat katolik sedunia terhadap Bunda Maria itu pada dasarnya sama: perempuan yang telah melahirkan Yesus. Hanya saja,  bentuk ‘format’ ungkapan iman dari setiap bangsa itu  berbeda-beda.

Dan persis pada titik singgung inilah, sejumlah seniman dari berbagai negara –sebagaimana tersaji di sepanjang lorong dan di bagian dalam Gereja Kabar Gembira di Nazareth —lantas memiliki ‘caranya sendiri’ dalam  mengekspresikan imannya itu tentang ‘sosok’ Bunda Maria.

Sekali lagi, pengalaman personal masing-masing seniman berikut latar belakang kultur budaya dan sejarah bangsanya akan memberi warna tersendiri terhadap format ekspresi seninya terhadap ‘sosok’ Bunda Maria.

Sosok Bunda Maria menurut ‘pandangan’ seniman F. Widayanto di lorong Gereja Kabar Gembira di Nazareth – Israel. (Mathias Hariyadi)

Di Kota Kelahiran Yesus di Nazareth – Israel itulah, saya juga melihat ‘sosok’  Maria – Bunda Segala Bangsa hasil kreasi seni suguhan F. Widayanto dari Indonesia.

Di Keuskupan Agung Jakarta, pertengahan Mei 2017 lalu, berbagai suguhan hasil kreasi seni tentang ‘sosok’ Bunda Maria itu juga terjadi di Ibukota Republik Indonesia ini.

Meski tidak banyak media mewartawakan kegiatan iman bernafaskan seni ini, namun gema dari sebuah kegiatan ‘perlombaan’ yang menggambarkan sosok Bunda Maria itu layak kita cermati. Terutama, ketika Republik Indonesia yang kita cintai ini selama beberapa bulan terakhir ini mengalami ‘goncangan politik’ skala massif usai hingar-bingar Pilkada DKI Jakarta.

Berbeda dengan yang terjadi di Gereja Kabar Gembira (The Church of Annunciation)  di Nazareth – Israel yang mengusung semangat ‘internasional’, kali ini Keuskupan Agung Jakarta melalui gelaran lomba “Maria – Bunda Segala Suku” itu mengusung konsep merawat kebhinnekaan Indonesia sekaligus merawat  NKRI. Setidaknya itulah yang diungkapkan Uskup Agung KAJ Mgr. Ignatius Suharyo di Aula Gereja Katedral Jakarta hari Senin tanggal 22 Mei 2017 ketika hasil perlombaan itu diekspos ke ruang publik.

Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus versi kreasi seni karya seniman Croatia, Eropa Tengah. (Mathias Hariyadi)

Momen kedua Kebangkitan Nasional

Hasil kreasi seni itu telah ditorehkan oleh para seniman Indonesia, ketika mereka diajak untuk mengungkapkan gairah iman kristiani mereka terhadap ‘sosok’ Bunda Maria. Sama seperti yang terjadi di Gereja Kabar Gembira di Nazareth yang telah menggugah para seniman dari berbagai negara untuk berkreasi seni dengan muatan iman, maka pada gelaran lomba Maria – Bunda Segala Suku ini bisa dimaknai –demikian kata Mgr. Ignatius Suharyo saat itu—sebagai momen kebangkitan nasional kedua.

“Kebangkitan Nasional pertama  terjadi pada tanggal 20 Mei 1908. Momen  ‘kebangkitan nasional’ kedua terjadi pada tanggal  20 Mei 2017 sekarang. Inilah waktunya ketika mulai muncul kesadaran baru betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam sebuah bangsa bernama Indonesia ini,” kata uskup ahli kitab suci ini.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dinyatakan oleh Ir. Soekarno yang kemudian mendapat mandat menjadi pemimpin nasional sebagai Presiden RI pertama. (Ist)

NKRI, kata Mgr. Ignatius Suharyo, merupakan wujud karya Allah yang nyata di Bumi Nusantara ini. Yakni, fakta bahwa telah terjadinya arus semangat bersama dari berbagai elemen masyarakat yang terdiri dari berbagai etnis dengan aneka latar belakang yang bersama-sama berani mempertaruhkan hidupnya demi terciptanya sebuah nation baru: Indonesia.

Dalam konteks historis perjuangan bersama ‘melahirkan’ bangsa dan negara Indonesia itulah, kita semua –demikian ajakan Mgr. Ignatius Suharyo—layak melambungkan banyak doa kepada Bunda Maria untuk ikut serta merawat kebhinnekaan dan kesatuan NKRI.

“Pertama kali saya mendengar rencana panitia mau mengadakan sayembara melukis atau membuat patung Bunda Maria Segala Suku, maka  di hati terdalam saya mau mengatakan ini sungguh merupakan sebuah gagasan yang cemerlang. Karena itu, saya pun meyakini bahwa ide  menciptakan gambar atau patung Maria Bunda Segala Suku merupakan salah satu bentuk  usaha merawat NKRI,” ujar Mgr. Suharyo.

Dalam gelaran lomba tersebut, muncul berbagai kreasi seni bernafaskan iman kristiani akan ‘sosok’ Bunda Maria dalam wujud patung dan lukisan. Menurut Ketua Panitia, M. Hanafi, gagasan besar ini sebenarnya sudah ingin digelar sejak tahun 2015 lalu. Berbagai kendala menjadikan ide cemerlang ini mundur hingga akhirnya baru kesampaian pada pertengahan tahun 2017 ini.

Kedua pemimpin nasional yang juga Bapak Pendiri Bangsa Indonesia – Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta– menyaksikan pengibaran bendera Merah Putih tak lama setelah dideklarasikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. (Ist)

Belum selesai

Lahirnya nation baru bernama Indonesia itu secara politik dan hukum memang sudah terwujudkan dengan deklarasi politik bernama Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945. Namun, perjuangan ‘mengisi’ lembaran baru di atas pondasi nation anyar ini belumlah selesai. Karena itu, kata Mgr. Ignatius Suharyo, tugas mulia merawat kebhinnekaan Indonesia dan NKRI itu terus berlanjut dan perlu senantiasa digaungkan gemanya hingga saat ini.

Pondasi fundamental hidup bernegara dan berbangsa seperti Pancasia, UUD 1945, semangat Bhinneka Tunggal itu harus senantiasa dijaga, dirawat, dan –juga sangat perlu—didoakan terus-menerus agar jalinan kemasyarakatan berbasis semangat pluralisme ini tetap utuh tak terceraikan. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here