Masker yang Baik dan Berkualitas untuk Misa Luring di Gereja

0
161 views
Ilustrasi: Seruan Ketua Komisi Kepemudaan KWI Mgr. Pius Riana Prapdi agar selalu memakai masker setiap kali melakukan kegiatan di luar rumah. (Komkep KWI)

SALAH satu Protokol Kesehatan yang penting sekali dan sangat bersifat individual adalah membangun “tradisi” atau kebiasaan selalu memakai masker. Ini bersifat individual, karena ini sungguh tergantung kita pribadi dan melindungi kita juga secara eksklusif.

Misa luring tetap dapat dilakukan dengan Protokol Kesehatan ketat.

Selain cuci tangan dengan langkah dan durasi yang tepat, lalu juga harus tetap ketat melaksanakan protocol menjaga jarak aman yang konsisten. Karena itu, memakai masker adalah keharusan. Itu pun masker harus dipakai dengan benar dan maskernya juga berkualitas.

Lalu mengapa harus dibahas?

Bukankah tinggal memakai masker dan mengikuti misa, lalu selesailah perkara. Namun tunggu dulu, tidak semudah itu aspek rinci bermasker terkait kekhasan ibadat misa.

Masker adalah pelindung utama

Kalau yang di bahas dalam artikel ini sudah kita lakukan, syukur kepada Tuhan. Namun jika belum, mari segera kita selesaikan.

Dengan membacanya, memahami dan melakoninya dengan konstan.

Karena demikian ini argumentasinya. Andai saja kita sudah menerima vaksinasi lengkap, namun hal itu juga tidak menjamin kalau sekali waktu kita juga masih bisa terpapar.

Karenanya, kita wajib tetap konsisten melakukan Protokol Kesehatan yang benar. Itulah yang bisa menjamin untuk setidak-tidaknya jangan sampai tertular karena dampak doplet yang ”terbang”.

Hanya vaksinasi yang efektif akan mampu menghasilkan antibodi dan itu sangat bermanfaat. Guna mengurangi keparahan, jika terjadi kesakitan.

Suasana misa di mana masing-masing orang tetap melakukan pisah jarak dan mengenakan masker. (Sr. Maria Seba SFIC)

Penyaring virus

Masker itu adalah barrier. Ia menjadi penyaring (filter) hembusan udara yang akan kita hirup maupun kita hembuskan.

Beranjak dari prinsip itu, maka pilihlah masker yang efektif untuk menyaring udara pernapasan kita dan gunkanlah dengan cara yang benar.

Pakailah masker yang efektif yaitu masker medis- bedah yang terdiri dari minimal tiga lapis dan memiliki plat di bagian hidungnya serta sudah terigistrasi di Kemenkes RI.

Makin lebih baik lagi, jika kita menggunakan masker kualifikasi N95/K95 dengan merek dagang yang terpercaya dan sudah terdaftar di Kemenkes RI.

Karena tidak efektif menyaring dan menutup rapat hidung dan mulut, maka sebaiknya jangan lagi memakai masker kain, masker scuba, dan masker buff

Tahun 2020 di awal pandemi, jenis-jenis masker itu masih dianjurkan karena semata keterbatasan masker dan daripada tidak pakai masker sama sekali.

Saat ini, setelah 15 bulan pandemi berjalan, ketersediaan masker medis-bedah sudah banyak tersedia dengan harga terjangkau.

Karena fungsi masker adalah menyaring udara yang akan kita hirup, maka masker harus bisa menutup rapat tanpa celah pada area hidung dan mulut kita.

Uji sendirilah masker yang kita akan digunakan, apakah masih ada celah disekitar hidung, dan mulut?

Jika masih bercelah maka udara bebas tanpa tersaring masker yang rentan mengandung virus akan dapat terhirup langsung ke mulut atau hidung kita.

Ingatlah bahwa Covid-19 itu adalah penyakit napas akut yang berat, maka masuknya terutama dari lubang hidung kita.

Sungguh ironis jika masih ada kita jumpai orang  yang menggunakan masker dengan hidung yang tak tertutup masker.

Yang bermasker demikian pun masih tetap bisa membahayakan dirinya sendiri. Itu karena ia menghirup udara tak tersaring. Ia juga tetap bisa membahayakan orang lain. Karena dengan membawa virus, maka dia akan menghembuskan napasnya ke lingkungan sekitarnya. Secara langsung tanpa tersaring.

Meski di rumah saja, Uskup Keuskupan Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC tetap setia mengenakan masker.

Belarasa yang riil dan nyata

Bermasker yang baik itu beraspek peduli diri sendiri. Juga belajar berbelarasa secara kongkrit dengan orang lain.

Jangan lengah dengan membuka-buka masker di saat berada dalam kerumunan orang.  Karena takkala masker kita buka walau sesaat maka kita akan rentan tertular.

Ini harus kita ingat benar. Orang bisa saja terular tanpa gejala walaupun pakai masker.

Ia bisa kena, karena kualitas maskernya belum tentu jenis masker yang efektif bisa menyaring hembusan napasnya yang berpotensi tetap menjadi droplet yang berbahaya terhirup.

Karena itu, mari kita sungguh setia memakai masker, saat misa kecuali saat akan komuni.

Disiplin mutlak perlu

Hal berikut terkait bermasker adalah kedisiplinan untuk tidak menyentuh lembar masker. Karena hidung kita di balik masker menarik udara pernapasan maka partikel kontaminan seperti debu, parasit, bakteri dan virus akan tertahan di lembar masker demikianpun sebalikya.  

Akibatnya, jika menyentuh dan memegang masker pada lembar masker, maka jari kita akan terkontaminasi.

Tetap bermasker saat misa luring

Hal ini menjadi krusial bagi semua saja yang terlibat dalam misa. Saat membuat tanda salib di dahi, mulut dan dada di awal pembacaan Injil, sebaiknya membuat salib kecil tanpa menyentuh masker.

Imam pun baik sekali jika saat mencium altar diawal dan akhir misa serta saat mencium evangeliarium dengan tanpa benar-benar menyentuh benda tersebut untuk mencegah kontaminasi.

Hal lain yang menurut kami perlu mendapat perhatian serius umat dan klerus adalah saat hendak menyantap Komuni Kudus.

Mau tak mau kita akan membuka masker dalam tempo beberapa detik.

Pada saat itu, membuka masker dengan cara yang benar penting, sehingga tidak terjadi tindakan yang berbahaya bagi diri kita.

Saat akan membuka masker, bukalah dengan memegang pada tali masker.

Tali masker jauh lebih minim kontaminan dibandingkan lembar masker.

Bisa dibayangkan, jika jari kita membuka masker dengan menarik lembar masker yang kontaminan lalu dengan jari itu pula kita memegang dan menyuapkan Hosti Kudus ke dalam mulut kita.

Ilustrasi: Mengikuti Misa Minggu Palma Online (Ist)

Tautan videonya berikut ini:

Karena itu kami menyarankan tahap-tahap melepaskan masker saat komuni adalah sebagai berikut:

  1. Merentangkan lurus kedua tangan dengan posisi menyambut komuni ke pembagi komuni.
  2. Setelah hosti ada di atas telapak tangan kiri, lalu pegang hosti dengan jari-jari tangan kanan.
  3. Sementara tangan kanan tetap memegang Hosti Kudus, bukalah masker dengan melepaskan kaitan tali masker dari telinga kiri dengan tangan kiri.
  4. Tangan kiri membawa maju tali masker ke depan wajah sehingga mulut terbuka.
  5. Tangan kanan yang memegang hosti kudus digerakkan dari bagian bawah masker yaitu dari dagu masuk ke mulut.
  6. Tangan kiri yang memegang tali masker kembali mencantolkannya ke telinga kiri sehingga masker kembali menutup hidung dan mulut.  langkah-langkah itu dilakukan dengan mantap dan tidak terburu-buru.
  7. Sampai di bangku, jika posisi masker hendak diperbaiki yaitu dengan memegang tali masker lalu memakai hand sanitizer.

Tautan videonya ada di sini:

Aspek masker lain adalah penggantian dan pembuangan masker yang telah digunakan.

Masker medis sebaiknya diganti baru setelah emat jam pemakaiannya, demikian jubir satgas Covid-19 dr. Raisa Broto Asmoro.

Gunting masker bekas pakai

Masker yang sudah dipakai harus diperlakukan dengan cara tepat untuk mencegah menjadi media penularan.

Kemenkes RI mengeluarkan Pedoman Pengeloloan Limbah Masker yang digunakan masyarakat. Masker yang dipakai masyarakat bukanlah limbah medis dari faisilitas kesehatan sehingga dikategorikan limbah domestik.

Namun untuk mengurangi risiko berbahaya bagi kesehatan, maka perlu beberapa langkah dilakukan untuk pembuangan masker bekas pakai.

Masker yang telah dipakai itu dikumpulkan dengan tali atau lembarnya yang dirusak/digunting agar mencegah orang tak bertanggungjawab bisa mendaur ulang.

Lalu masukkan masker bekas tersebut kedalam cairan disinfektan, klorin/pemutih atau minimal detergen berbusa.

Masker tersebut di masukkan ke dalam wadah plastik tertutup lalu dibuang ke tempat sampah.

Ilustrasi by ist

Saat melakukan hal diatas, tetap gunakan masker dan bersihkan tangan dengan mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer.

Semoga dengan melakukan protokol kesehatan dengan benar dan konsisten kita selalu bisa mengabdi Tuhan dan sesama dengan maksimal.

Semoga pandemi ini segera berakhir sambil kita tetap ora et labora dalam hidup ini. 

Jika semua syarat dan protokol kesehatan sudah kita taati, mari kita bisa mengikuti misa lagi di gereja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here