Mata Hati

0
229 views
Ilustrasi: Menangisi kematian suaminya. (Ist)

Renungan Harian
Minggu, 24 Oktober 2021

  • Bacaan I: Yer. 31: 7-9.
  • Bacaan II: Ibr. 5: 1-6.
  • Injil: Mrk. 10: 46-52.

“AKU sesungguhnya bingung dengan sikap kakak perempuanku ini. Saya pikir dia menjadi lega, ketika suaminya sudah dipanggil Tuhan, karena memang suaminya itu menjadi sumber masalah.

Suami kakakku ini seorang laki-laki bejat  dan penjahat dalam arti sesungguhnya. Dia keluar masuk penjara sudah berkali-kali karena kejahatan yang diperbuatnya. Berkali-kali dia diingatkan kakakku dan keluarga kami, tetapi tetap saja dia tidak pernah berubah.

Untungnya, kalau disebut untung, keluarga kakakku tidak hidup dari hasil kejahatannya.

Kakakku bekerja keras menghidupi dirinya dan kedua anaknya, sedangkan suaminya dengan segala tindak kejahatannya menghasilkan uang hanya untuk kesenangan dirinya dengan perempuan-perempuan entah di mana.

Setiap kali dia pulang ke rumah kakakku hanya untuk minta uang dan bahkan terakhir dia menggadaikan rumah kakakku yang dibeli dengan keringat kakakku sendiri.

Setiap kali pulang hanya menimbulkan ketakutan bagi kakakku dan anak-anaknya.

Sudah berkali-kali kakakku minta cerai, namun tidak pernah terjadi. Karena kakakku selalu diancam akan dibunuh dengan anak-anaknya, kalau berani menggunggat cerai.

Maka kakakku hanya bisa diam, dan berharap semoga semua segera berakhir.

Bahkan pernah kakakku mengatakan bahwa dirinya berharap suaminya ditembak polisi karena kejahatannya sehingga tidak ada lagi.

Itulah mengapa aku heran dengan sikap kakakku yang sekarang meratapi jenazah suaminya yang meninggal, karena dikeroyok sejumlah orang karena kejahatannya.

Meski aku bingung aku juga ikut terharu melihat kesedihan kakakku.

Aku sempat bertanya: “Mengapa harus diratapi? Bukankah dia memetik apa yang telah ditanamnya? Dan bukankah dengan demikian kakak menjadi lebih tenang?”

“Bagaimana pun dia adalah bapak dari anak-anakku. Meski aku benci dan beberapa kali berharap dia tidak ada, namun tidak bisa dipungkiri bahwa aku mencintai dia.

Dia memang penjahat, tetapi rasa hati ini tidak rela bahwa dia mendapatkan perlakuan seperti ini,” jawab kakakku.

Aku hanya diam dan mencoba mengerti perasaan kakakku yang berduka.

Cinta yang masih ada membuat kakakku bisa melihat sisi yang lain dari suaminya yang penjahat itu,” seorang teman menceritakan pengalamannya.

Cinta memberi cara pandang yang berbeda.

Mata hati, mata cinta mampu melihat sisi baik, membuat seseorang mampu melihat dengan lebih terang dan jernih. Betapa sering aku mengadili dan merendahkan orang lain karena aku tidak memandang dengan mata hatiku.

Kalau aku sering mengeluh dan kurang bersyukur karena aku tidak mampu memandang dengan mata cinta.

Dengan kata lain mata hati dan mata cintaku buta.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Markus, aku juga mohon ingin bisa melihat. “Rabuni, semoga aku dapat melihat.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here