Mawas Diri

0
141 views
Ilustrasi: Mawas Diri

MERASA bisa dan bisa merasa sering dipakai para bijak untuk memberi nasehat saleh. Istilah ini sepertinya hanya permainan kata, tetapi sebenarnya sebuah ajakan berhati-hati dalam bersikap.

Pun pula dalam menanggapi mengomentari suatu fenomena hidup. Terlebih saat ini, ketika memasuki kemajuan dunia medsos.

Ajining diri soko lathi, sebuah nasehat leluhur jawa, bahwa untuk sedikit bicara dalam berkomentar, karena komentar menjadi cerminan kehidupan pola pikir dan sikapmu. Ojo juweh, jangan mudah berkomentar.

Nampaknya nasehat Jawa ini sekarang menjadi kurang relevan lagi. Justru keahlian dan kepandaian memberi komentar terlebih disertai solusi saat ini justru menjadi profesi mendatangkan rejeki untuk kehidupan.

Contohnya profesi wartawan dan wakil rakyat di Senayan.

Merasa bisa merupakan cerminan sikap sombong dan menutup diri. Merasa tahu ,mengerti dan menguasai segalanya. Dirinya tak menyadari betapa cepat kemajuan jaman menuntut penyeimbangan pikir dengan belajar. Sikap merasa bisa menutup mata terhadap kemajuan itu.

Bak pepatah katak dalam tempurung.

Sebaliknya bisa merasa, merupakan ajakan untuk rendah hati. Bukan rendah diri alias minder. Bisa merasa tak lain adalah sikap mawas diri. Memandang, menilai dan menghargai orang lain, dilakukan seperti untuk dirinya sendiri. Jika dijiwet sakit mulo ojo jiwet wong liyo.

Kemajuan medsos sering kali membuat banyak orang mudah berbicara dan berkomentar apa saja terhadap kejadian dan fenomena kehidupan tanpa melalui perenungan. Banyak orang tak lagi mampu menangkap tanda-tanda zaman. Alhasil komentarnya lebih diwarnai cibiran dengan kecenderungan meremehkan.

Menerjang gelombang ini, setiap pribadi ditantang untuk bisa rendah hati agar mampu membuka diri terhadap ” beragam cara kreatif ” dengan orang lain. Tepat saat ini, bonum commune alias kebaikan bersama mewujudnyata. Saling memberi dan menerima.

Kerendahan hati sosial akan membentuk komunitas hati yang peka dan tajam melihat fenomena kehidupan, sehingga menuntun hati menjadi mudah tergerak untuk bertindak.

Group wa bukan hanya sarana pelepas lelah dengan guyonan. Group wa juga menjadi sarana sambung rasa. Bahkan dapat dimanfaatkan pula untuk berbisnis.

Bisnis via wa adalah bisnis hati, karena bisnis kalangan kerabat dan teman. Oleh karena itu mari kita gunakan medsos dalam bentuk wa dengan cerdik dan bijaksana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here