Membangun Ukhuwah

0
36 views
Doa lintas agama di Cawas untuk redakan pandemi covid-19 by Ponco Suseono Solopos

Puncta 22 Mei 2024
Rabu Biasa VII
Markus 9: 38-40

DALAM kehidupan masyarakat di kampung, semangat persaudaraan dan toleransi sangat kental terjalin. Di Paroki Cawas, Kabupaten Klaten, Jateng, masyarakat hidup dengan rukun walau berbeda latar belakang agamanya.

Kalau pas di Hari Raya Idul Fitri, umat Katolik di kampung ikut membantu saudara-saudari Muslim menyelenggarakan Sholat Ied.

Begitu pula sebaliknya, kalau Hari Raya Natal, mereka datang berkunjung untuk saling mengucapkan “Selamat Natal”.

Tidak hanya di Cawas. Sewaktu saya bertugas di Nanga Tayap, Ketapang, ada kampung yang namanya Pangkalan Suka. Di sana umat Katolik dan Muslim hidup dalam kebersamaan. Mereka rukun dan damai, hidup saling bersaudara dan saling menghormati.

Kalau lebaran, umat Katolik datang berkunjung ke rumah-rumah saudara yang Muslim. Sebaliknya kalau Natal dan Tahun Baru, umat Muslim ganti berkunjung ke rumah-rumah umat Katolik. Inilah Indonesia.

Murid-murid Yesus salah satunya Yohanes masih berpikiran terkotak-kotak. Ia beranggapan kalau bukan murid Yesus tidak boleh mengusir setan.

Ia berkata, “Guru, kami melihat seorang yang bukan pengikut kita, mengusir setan demi nama-Mu. Lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”

Tetapi Yesus berkata, “Janganlah kalian cegah dia. Sebab tak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barang siapa tidak melawan kita, ia memihak kita.”

Yesus tidak mengajarkan untuk membatasi atau membuat jarak dengan orang lain. Siapa pun boleh berbuat baik atas nama-Nya. Kebaikan tidak boleh dibatasi dengan sekat-sekat kelompok. Siapa saja bisa melakukan kebaikan.

Kadang agama justru membuat sekat atau batas-batas yang menghalangi orang saling berbuat baik. Agama kadang dipakai untuk membatasi orang lain berbuat kebaikan.

Semestinya agama justru mengajarkan untuk saling menghargai satu sama lain, bukan memusuhi atau membenci saudaranya.

Pikiran Yohanes itu masih bersifat kelompokisme. Ia membeda-bedakan orang sehingga mencegah orang lain yang bukan kelompoknya untuk berbuat baik. Kebaikan seolah-olah hanya milik kelompoknya sendiri.

Yesus membuka pikiran sempit para murid. Yesus mengajarkan kepada para murid untuk membangun ukhuwah atau persaudaraan dengan semua orang. “Barang siapa tidak melawan kita, ia memihak kita.”

Mari kita membangun semangat persaudaraan sebagai satu bangsa, satu tumpah darah, satu warga dunia yang sama-sama sederajat di hadapan Allah. Kita ini bersaudara sejatinya.

Jalan-jalan di Yogyakarta,
Jangan lupa beli bakpia.
Dunia adalah rumah bersama,
Kita semua saling bersaudara.

Cawas, torang samua basudara
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here