Menjadi Besar dengan Melayani

0
480 views
Melayani dan Memberikan Nyawa ilustrasi - emmausglasgow

Minggu, 17 Oktober 2021

Yes.53:10-11.
Mzm.33:4-5.18-19.20.22. Ibr.4:14-16.
Mrk. 10:35-45

DALAM dunia bisnis, untuk menarik para pelanggan, pelayanan kepada konsumen sangat diperhatikan.

Bahkan di barisan depan yang langsung berhadapan dengan konsumen ditempatkan orang yang menarik penampilannya.

Kalau perempuan diusahakan yang berparas cantik, ramah, senyumnya menawan, dan pandai menarik simpati.

Sedangkan kalau pria, yang gagah, wajah tampan, padai bergaul.

Mereka dibina untuk sekedar menyapa dengan ramah, gestur tubuh yang bersahabat, dan membuat orang yang bertemu dengannya merasa nyaman.

Itulah dunia bisnis dengan marketing yang berorientasi pada profit atau keuntungan semata.

Namun apakah di Gereja yang berusaha menawarkan nilai-nilai keutamaan hidup dan Kerajaan Allah, bisa kita temukan hal yang sama?

“Masak pastoran kalah dengan kantor polisi,” kata seorang bapak.

“Minimal di kantor polisi ada semboyan: Kami siap melayani,” lanjutnya.

“Di pastoran yang katanya tempat tinggal seorang pelayan Tuhan, namun yang kami jumpai sikap angkuh, merasa paling penting dan tak acuh dengan umat yang mestinya dilayani,” ujarnya.

“Memang tidak semua pastoran seperti ini, tetapi di tempatku itulah yang kami hadapi,” lanjutnya.

“Sikapnya keras, tidak mau mendengar masukan orang lain, merasa paling benar, bergaya bos, suka memerintah,” ujarnya lagi.

“Mereka datang bukan untuk melayani, tetapi dilayani bahkan menuntut pelayanan,” katanya lagi

Dalam Injil hari ini kita dengar.

“Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.”

Zaman sekarang yang bisa menguasai orang lain bukan orang yang berkuasa dengan jabatan yang tinggi. Melainkan orang yang bisa meluluhkan hati orang lain dengan pelayanan.

Kita melayani karena kita sudah lebih dulu dilayani Oleh Tuhan Yesus yang telah memberikan hidup-Nya untuk keselamatan kita.

Dan sebagai murid Yesus, kita harus memiliki passion untuk melayani sesama.

Melayani adalah gaya hidup murid Yesus bukan memerintah dengan marah-marah.

Seperti iklan produk minuman tertentu mestinya: Siapa saja, kapan saja dan di mana saja kita harus melayani.

Mengejar jabatan yang tinggi, pengetahuan yang tinggi, pengaruh yang tingi itu tidak salah jika semuanya tujuannya untuk melayani.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku dengan suka rela memilih melayani sesama atau menuntut orang lain melayaniku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here