Menjadi Imam dalam Keluarga

0
143 views
Ilustrasi - Pintu sudah tertutup. (Ist)

Renungan Harian
Senin, 23 Agustus 2021

Bacaan I: 1Tes. 1: 2b-5. 8b-10
Injil: Mat. 23: 13-22
 
“SAYA
tidak pernah tahu, pun juga tidak pernah bermimpi untuk menikah dengan laki-laki yang kini menjadi suami saya. Rasanya semua terjadi mengalir begitu saja.

Aku berkenalan dengan dia, lebih tepatnya dikenalkan dengan dia. Aku tertarik dengan pembawaannya yang tenang, enak diajak bicara dan yang penting dia seseorang yang punya prinsip.

Aku merasa dia adalah laki-laki yang tepat bagi saya, bisa menjadi suami dan bapak bagi anak-anak yang kulahirkan nanti.
 
Saat dia mengajakku menikah, aku berbunga-bunga dan dengan senang hati mengatakan iya.

Sekarang persoalan besar di depan mata menghadang, aku dan dia beda keyakinan.

Ia beragama Katolik, sedang aku beragama Kristen Protestan. Semua keluargaku memintaku agar kami menikah dalam Gereja protestan, sedangkan keluarga dia meminta kami untuk menikah seturut tata cara Gereja katolik.

Ada pembicaraan yang amat berat dan alot.

Dari sisi keluarga dia berpendapat bahwa perempuan harus mengikuti laki-laki.

Sementara dari sisi keluargaku, kalau betul dia mencintai aku, maka dia harus mengikuti aku.
 
Dengan pelbagai pertimbangan untuk kebaikan dan masa depan keluarga kami, akhirnya saya memutuskan untuk ikut dengan agama dia.

Salah satu pertimbangan yang paling penting sehingga aku membuat keputusan itu adalah adanya keyakinan dalam diriku bahwa dia bisa membimbing aku dan keluarga kami kelak untuk hidup dengan lebih baik.

Dengan keputusan yang bulat aku menjadi Katolik dan diberkati dalam Gereja katolik, meski dengan rIsiko aku “dibenci” oleh keluargaku.
 
Aku sadar dengan keputusanku, maka aku belajar tentang imankkatolik dan berjuang untuk hidup sebagai orang katolik yang baik.

Selain demi hidupku sendiri, tetapi yang lebih penting agar aku juga bisa membimbing anak-anak kami kelak.

Dalam perjalanan waktu, aku sungguh terlibat aktif dalam Gereja Katolik dan membawa anak-anak kami untuk juga hidup sebagai anak-anak Katolik yang baik.

Namun tidak demikian dengan suami saya.
 
Dia yang katolik sejak kecil dan yang meminta saya untuk ikut dalam agamanya yang mana pada saat itu aku percaya dia bisa membimbing aku dan anak-anak ternyata semua itu tidak terjadi.

Ia sibuk dengan pekerjaan dan teman-temannya, sehingga hampir tidak pernah pergi ke gereja. Aku selalu pergi bersama anak-anak tanpa suami.

Mimpiku untuk bisa ke gereja bareng, ikut kegiatan bersama dan sama-sama saling mendukung dalam aktivitas gereja tidak pernah terjadi.

Bahkan saat saya mengingatkan dia, maka akan terjadi pertengkaran hebat dalam keluarga kami.
 
Sampai suatu saat, saya merasa untuk apa saya ikut agamanya; untuk apa aku dulu mengalah; untuk apa aku melakukan semua ini kalau ujungnya seperti ini.

Bukankah lebih baik aku hidup dengan agamaku saja, aku sudah aktif, sudah diterima dan tidak usah harus bergulat dengan berbagai penyesuaian yang sering kali harus membuat aku bergejolak.

Entah mengapa aku merasa semua yang kulakukan adalah sia-sia dan membenarkan kata-kata orang tuaku bahwa semua tidak seperti yang aku mimpikan.

Aku sampai pada keputusan untuk meniggalkan Gereja katolik dan kembali kepada agamaku sehingga aku tidak harus ribut dengan dia karena mengingatkan.

Aku telah kehilangan sosok imam dalam keluargaku.

Bukan kehilangan, tetapi tidak pernah ada imam dalam keluargaku tepatnya. Aku merasa telah dijebak dan dijerumuskan untuk masuk dalam agama ini, sementara dia tidak pernah masuk ke dalamnya.
 
Meski aku sudah sampai pada keputusan itu, aku masih termangu apakah betul akan menjadi lebih baik?” seorang ibu berkisah tentang pergulatan imannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini, sejauh diwartakan dalam Injil Matius.

Kritik Yesus terhadap orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena tidak bisa memerankan sebagai imam yang mengantar umat kepada keselamatan, tetapi justru menjadi batu sandungan dan penghalang bagi umat untuk masuk dalam keselamatan.

“… karena kalian menutup pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kalian sendiri tidak masuk dan kalian merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.”
 
Bagaimana dengan aku?

Aku orang yang menghantar atau menghalangi orang lain masuk dalam keselamatan?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here