Mgr. Victorius Dwiardi OFMCap Pimpin Jubahan 37 Frater di Seminari Tahun Rohani Lawang

0
73 views
Prosesi misa penjubahan 37 frater calon imam diosesan dari 10 keuskupan di Seminari Tahun Rohani (TOR) San Giovanni XXIII Lawang, Malang. (Fr. Prolamator Aryo)

INI prosesi penjubahan para 37 frater calon imam diosesan dari 10 keuskupan di Seminari Tahun Rohani Lawang, Malang, Jatim. Terjadi hari Minggu 4 Februari 2024. Ketika para pemuda berani menjawab panggilan Tuhan. Untuk kemudian menjalani  tahapan formasi awal di Seminari Tahun Rohani San Giovanni XXIII Lawang, Malang. Dilaksanakan secara simbolis dengan prosesi penjubahan.

Misa penjubahan dipimpin oleh Uskup Keuskupan Banjarmasin Mgr. Victorius Dwiardi OFMCap, Rektor. Bersama Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXII Malang Romo Tri Wardoyo CM, Direktur Seminari TOR Lawang Romo Aloysius Louis Rusdiana Lauw Pr, dan beberapa imam lainnya.

Acara prosesi penjubahan ini juga dihadiri oleh para frater, suster, bruder, serta umat yang berasal dari keluarga dan undangan. Sejumlah frater dari semua tingkat Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang juga turut hadir. Untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekan mereka yang akan menjalani formasi selama beberapa tahun ke depan.

Seremoni misa penjubahan sesuai tradisi di Seminari TOR Lawang selalu dipimpin oleh uskup perwakilan dari setiap keuskupan yang mempercayakan calon imamnya dibentuk di Seminari Malang. Dilakukan secara bergantian. Kali ini, Uskup Keuskupan Banjarmasin, Kalsel.

Uskup Keuskupan Banjarmasin Mgr. Victorius Dwiardy OFMCap. (Proclamator Aryo)

Hari penuh syukur

Dalam homilinya, Mgr. Victor secara tegas menyampaikan salam “syalom” kepada umat sebanyak tiga kali. Disampaikan sebagai upaya untuk memastikan bahwa semangat dalam pesta syukur yang luar biasa ini benar-benar dirasakan oleh seluruh umat.

“Hari Minggu V ini diwarnai oleh perayaan penuh syukur: pemberian jubah bagi 37 para frater TOR. Jubah merupakan busana khusus bagi calon rohaniwan, imam, dan pelayan Allah. Akan dikenakan oleh 37 frater dalam perayaan ini. Sehingga, hari ini menjadi istimewa dan berbeda dari Minggu-minggu biasanya,” ungkap Mgr. Victor.

Prosesi penerimaan jubah bagi para frater baru calon imam diosesan dari 10 keuskupan yang memulai tahapan pembinaan awal di Seminari Tahun Rohani (TOR) San Giovanni XXIII Lawang, Malang. (Proclamator Aryo)

Jubah bukan aksesori hidup rohani

Ia menambahi, peristiwa pemberian pakaian rohani ini membawa makna mendalam, bukan hanya sebagai peristiwa rutin. “Hari ini membantu kita untuk merenungkan makna dari upacara ini, yang sejatinya berbicara tentang pemberian pakaian, khususnya pakaian rohani kepada orang-orang muda. Ini bukanlah peristiwa biasa,” lanjut Mgr. Victor.

Mgr. Victor menegaskan, pakaian yang diterima oleh para frater bukan sekadar aksesori atau dekorasi. Ini merupakan simbolisasi panggilan dan tanggungjawab rohani yang mereka emban.

Mgr. Victorius juga menguraikan, dalam konteks lembaga hidup bakti, pemberian pakaian (jubah) memiliki makna mendalam dan kaya. Jubah ini menjadi simbol identitas; merujuk pada kesetiaan kepada umat Allah dan misi rohani.

Dalam dimensi rohaniah, individu yang mengenakan jubah ini telah memasuki tahap kesiapan untuk menjalani kehidupan baru. “Setelah mengenakan pakaian jubah ini, mereka masih bisa memilih untuk hidup seperti anak-anak di luar sana, dengan pilihan-pilihan lain, namun mereka dengan tegas menolak semua itu,” ungkap Mgr. Victor.

Datang dari 10 keuskupan

Para pemuda ini membuat pilihan yang sungguh-sungguh dengan mengenakan jubah. Ini menandakan keinginan mereka menjadi individu unik atau khusus, terpanggil, dan siap menjawab panggilan tersebut. Setidaknya pada tahap awal.

Setelah mengenakan jubah ini, gaya hidup, identitas, perilaku, bahasa, dan sikap mereka mengalami perubahan. Harus sesuai dengan nilai-nilai rohani yang mereka hayati, yang pada gilirannya mempengaruhi cara mereka berperilaku. Sebagai calon imam atau frater, mereka masuk dalam kelompok rohaniwan yang memiliki peran khusus dalam meniti jalan panggilan Tuhan, membawa perubahan dalam sikap dan hati.

“Saya yakin, para frater yang berjumlah 37 orang dan berasal dari 10 keuskupan ini telah melalui banyak cerita dan peristiwa sebelum akhirnya memutuskan untuk berani memakai jubah ini. Perjalanan mereka, baik dalam pelayanan di Pastoran maupun kehidupan pembinaan di seminari telah membentuk mereka secara mendalam sebelum sampai pada keputusan untuk mengenakan jubah ini,” kata Mgr. Victor.

Transformasi perjalanan hidup baru pasca menerima jubah sebagai lambang hidup bersama Tuhan, (Proclamator Aryo)

Lama dan berproses

Menurutnya, semua peristiwa ini tidak terjadi secara spontan. Melainkan melalui berbagai proses dan langkah yang mendalam. Yang melibatkan refleksi mendalam tentang arti menjadi seorang frater, imam, atau pelayan umat.

“Semua langkah ini bukan keputusan yang diambil dengan mudah. Saya yakin, Anda semua datang ke sini dengan keyakinan yang kuat, pemahaman yang jelas, dan kebebasan untuk memilih. Anda datang ke sini untuk memberi diri, karena yakin memiliki tujuan dan panggilan yang jelas. Setidaknya pada saat ini, saya merasa memiliki panggilan untuk menjadi pelayan,” demikian Mgr. Victor menyampaikan kata-kata ini di atas mimbar kepada para hadirin. Khususnya tertuju pada para frater yang akan mengenakan jubah.

Panggilan yang tercermin dalam hidup para Frater ini bukanlah hasil dari usaha manusia semata. Apabila ditanya mengapa mereka memilih menjadi frater atau mengapa mereka bersedia mengenakan jubah, Mgr. Victor menyatakan: “Pasti bukan karena kekuatan, kehebatan, atau kebaikan mereka sendiri. Saya yakin ini adalah kehendak dan inisiatif Tuhan yang memandang mereka layak menjadi alat-Nya.”

Oleh karena itu, diyakini bahwa panggilan seperti ini tidak dapat dijalani atau dihayati dengan sukacita, syukur, dan kebahagiaan yang penuh jika tidak didasari oleh komunikasi, hubungan, kedekatan, dan kesatuan dengan Allah.

Doa merupakan roh hidup rohani

Mgr. Victor menegaskan bahwa untuk melaksanakan kehendak Tuhan dan menjawab panggilan-Nya, perlu menyadari, menerima, menjalani, dan menjawab panggilan tersebut dengan bimbingan, iman, kesatuan, dan doa bersama Tuhan.

Tanpa elemen-elemen tersebut, pilihan ini bisa menjadi suatu kekeliruan. Seperti ranting yang terpisah dan tidak berbuah yang pada akhirnya akan dipotong atau dibuang. Oleh karena itu, menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang yang ingin menjawab panggilan-Nya.

Mgr. Victor juga menegaskan melalui Bacaan Kedua, panggilan ini tidak hanya mengarah pada kepentingan pribadi semata. Mereka dipanggil untuk diutus ke segala bangsa, termasuk dalam situasi-situasi yang mungkin tidak sejalan dengan pemikiran manusia.

“Jika saat ini ada niat menjadi imam di tempat-tempat tertentu, pelayanan imam harus siap ditempatkan di mana saja. Bukan hanya di tempat yang nyaman bagi diri saya, tetapi ke segala tempat; itulah tujuan atau dasar dari panggilan ini,” tegasnya.

Misa prosesi penjubahan 37 farter tahun rohani Lawang, Malang, Jatim. (Proclamator Aryo)

Acuannya Bacaan Kedua

Rasul St. Paulus dalam Bacaan Kedua menyatakan, “Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil.”

Injil merupakan hal yang sangat penting dan mendesak. Paulus menjadi pemberita Kabar Gembira tidak dengan menonjolkan dirinya atau membanggakan kehebatannya. Melainkan dengan menjadikan dirinya sebagai pelayan yang siap melayani setiap orang. Ini mengimplikasikan sikap batin “bersedia melayani semua orang,” yang hanya dapat dicapai melalui keutamaan kerendahan hati.

Mgr. Victor menekankan bahwa kerendahan hati harus ada pada setiap orang yang ingin menjadi imam, hal ini harus dikembangkan, dipupuk, dan dijaga sejalan dengan panggilan.

Bukan ingin jadi bos

Mgr. Victor menyampaikan, “Untuk menjadi penguasa atau bos bukanlah di sini tempatnya!” Sesuai ajaran Paulus: “Aku menjadikan diriku hamba bagi semua orang, supaya aku dapat memenangkan sebanyak mungkin orang.”

Hal ini menggambarkan semangat memberikan segalanya untuk orang lain.

Mgr. Victor meneruskan, “Ini berlaku untuk semua orang beriman yang sudah dibaptis dan dipanggil, sebagai tanggungjawab untuk menyampaikan. Bahwa ada Juru Selamat bagi semua manusia di dunia, yaitu Tuhan Yesus, bukan nabi atau malaikat. Dia adalah Allah yang rela menebus kita, satu-satunya Allah yang bangkit dari antara orang mati, itulah yang harus diwartakan.”

Menyampaikan Kabar Gembira

Dalam bacaan Injil, Mgr. Victor menjelaskan bahwa Yesus menyampaikan Kabar Gembira kepada setiap orang melalui sinagoga.

“Dia masuk ke Sinagoga, karena di situlah intinya; Dia bertemu dengan Bapa-Nya, berbicara, dan mendengarkan sabda Bapa-Nya, menyampaikan kebijaksanaan Bapa-Nya kepada segala bangsa,” ungkapnya.

Yesus mendapatkan berbagai rahmat melalui Sabda itu, membebaskan, menyembuhkan penyakit, mengusir setan, dan berbagai mujizat lainnya. Setelah itu, Dia menyendiri untuk berdoa, bersatu dengan Bapa, membiarkan hati-Nya dikuatkan oleh Bapa-Nya agar kasih-Nya berkobar-kobar. Kedekatan yang begitu erat dengan Bapa menjadi inti atau pusat dalam pelayanan-Nya.

“Kedekatan kita dengan Tuhan memberi kita kekuatan, kebijaksanaan, dan sukacita,” tegas Mgr. Victor.

Ia menekankan bahwa keberadaan iman menghasilkan semangat, harapan, kasih, dan kekuatan untuk menjadi pewarta Kabar Gembira.

Mgr. Victor menyoroti pentingnya memupuk dan merawat iman, terutama bagi mereka yang mengenakan jubah. “Bagaimana kita dapat berbicara tentang Tuhan jika kita tidak pernah berbicara dengan Tuhan?” katanya.

Ia menyadari bahwa perjalanan rohani tidak selalu mulus, terutama bagi umat dan kaum religius, yang kerap dihadapkan pada kesulitan. Namun, dalam Bacaan Pertama mengenai Ayub yang akan mengeluh, Mgr. Victor menekankan bahwa dalam perjalanan panjang kita, iman harus tetap kuat dan hadir dengan kegembiraan. Iman bukan hanya menjadi suatu kewajiban, tetapi juga harus dijalankan dengan sukacita.

Demikianlah Mgr. Victor mengakhiri homilinya dengan nasihat yang sangat berarti.

Suara para frater

Perwakilan Frater TOR diberikan kesempatan untuk berbicara mengenai pengalaman mereka dalam upacara penjubahan hari ini.

Pertama-tama, mereka menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mgr. Victor yang telah menghadiri misa penjubatan angkatan 37. Mereka mengungkapkan keyakinan bahwa segala yang mereka alami adalah bagian dari kehendak Tuhan.

Penerimaan jubah ini dianggap sebagai awal dari perjalanan panjang yang masih memerlukan sikap berserah diri kepada Tuhan. Mereka menekankan bahwa mengenakan jubah ini bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari tekad dan ketekunan yang lebih besar.

Frater tersebut menegaskan bahwa mengenakan jubah tidak membuat mereka menjadi “PR” (Pria Romantis), tetapi sebaliknya, hal tersebut mendorong mereka untuk semakin tekun dan berjuang bersama dalam semangat motto 37 frater penerima jubah pertama: Fraternitas in Christo (Persaudaraan dalam Kristus) dalam menjalani proses panggilan Tuhan.

Selain itu, mereka menyampaikan harapan dan permohonan bimbingan untuk tahap selanjutnya agar mereka dapat setia dalam menjalani panggilan sebagai seorang imam.

Seminari TOR Lawang tampung dari 10 keuskupan

Direktur Seminari TOR Lawang Romo Louis Pr menjelaskan bahwa Seminari TOR merupakan tempat pendidikan awal bagi calon imam diosesan, dengan masa pendidikan di seminari tersebut berlangsung selama satu tahun. Setelah itu, mereka akan melanjutkan pendidikan selama tujuh tahun di Seminari Tinggi.

Jumlah peserta pendidikan 37 frater pada tahun ini terdiri dari 10 Keuskupan. Rinciannya adalah:

  • 31 frater berasal dari Keuskupan di Kalimantan.
  • 3 Frater dari Keuskupan Denpasar.
  • 3 Frater dari Keuskupan Malang.
Para Frater Ketapang di Malang dan Surabaya mengucapkan selamat kepada Fr. Egi satu dari 37 frater tahun rohani ssal Keuskupan Ketapang, Kalbar, yang baru saja menerima jubah. (Proclmator Aryo)

Menurut Romo Louis, upacara penerimaan jubah bukanlah akhir dari proses pembentukan para frater. Penjubahan hanya merupakan bentuk penegasan di TOR dan Seminari Tinggi, yang merupakan masa formasi untuk membentuk pribadi yang layak menerima rahmat imamat dan menjalani tugas sebagai imam di masa depan.

Transformasi dari pakaian adat ke pakaian jubah menjadi simbol perubahan ini. Nuntius Dubes Vatikan untuk RI Mgr. Piero Pioppo, saat tahbisan sebagai Mgr. Victor jadi Uskup Keuskupan Banjarmasin, mengatakan bahwa ia telah melihat semua sesuatu sesuai dengan kenyataan di hadapannya. Dan saat ini adalah waktu Mgr. Victor bekerja.

Dalam kegembiraan ini, diharapkan bahwa para frater dapat menjalani hari-hari mereka di Seminari dengan keseriusan, semakin mencintai Yesus, dan menjalani hidup dengan filosofi hidup yang bermakna, termasuk filosofi Kalimantan.

Romo Louis menjelaskan bahwa filosofi Kalimantan adalah

  • Kali: tentang melewati sungai.
  • Mantan: meninggalkan mantan atau masa lalu, dan memohon doa agar dapat melanjutkan perjalanan panggilan.

Ungkapan tersebut disambut dengan gelak tawa dari umat yang mendengarnya.

Romo Louis juga mengucapkan terimakasih kepada Romo Tri Wardoyo CM yang telah mendukung misa kudus penjubahan tersebut, serta kepada para penderma yang membantu membuat jubah, dekorasi yang indah, dan warna-warni.

Tidak lupa juga ucapan terimakasih kepada Pastor Paroki di St. Perawan Maria tak Bernoda Lawang dan Pasuruan,yang membantu dalam proses di Seminari Malang.

Tidak lupa, Bapak Uskup Mgr. Victor juga menyampaikan rasa terimakasih kepada Direktur TOR yang memberikan kontribusi besar terhadap Keuskupan Banjarmasin dan keuskupan-keuskupan lain yang telah mengirimkan calon imam untuk dibina di rumah pembinaan ini.

Bapak Uskup juga mengucapkan terimakasih atas dukungan dan perhatian yang diberikan oleh para anggota keluarga dari para frater yang dengan ikhlas melepaskan anak-anak mereka untuk menjadi calon imam yang kelak akan melayani Gereja dan masyarakat.

Harapannya adalah bahwa Tuhan pasti akan membalas pengurbanan dan persembahan yang telah diberikan oleh para orang tua dan keluarga frater ini.

Bapak Uskup juga menyampaikan rasa terimakasih kepada para donatur dan pemerhati seminari yang telah memberikan dukungan kepada keuskupan, sehingga mereka dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik. Terimakasih juga disampaikan atas perhatian moral dan spiritual yang telah dipersembahkan, sehingga para calon imam semakin sadar dan setia terhadap panggilan mereka.

Bapak Uskup juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada para undangan yang telah hadir, memberikan persembahan waktu, tenaga, dan segala bentuk dukungan kepada semua yang terlibat. Juga berterimakasih kepada anggota koor, petugas liturgi, dan semua pihak yang telah berkontribusi sehingga misa dapat berjalan dengan baik. Setelah misa, acara dilanjutkan dengan sesi berfoto bersama dan ramah tamah.

Foto: Seksi Dokumentasi Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang.

Baca juga: Romo Bas Soedibya SJ dan Romo Aang Tinggalkan Seminari Tinggi San Giovanni XXIII Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here