Perang Microsoft Bing vs Google Search

0
239 views

PERANG di antara dua mega bintang itu, Microsoft dan Google, baru saja dimulai. Masing-masing berbekal mesin pencari (search engine) mereka. Microsoft mengusung Bing, sementara Google menandu Search.

Namun, arsenal kedua kubu itu sama: AI alias kecerdasan buatan. Pemicunya: ChatGPT, sebuah chatbot besutan perusahaan kecerdasan buatan OpenAI. Ya, sejak robot yang bisa diajak ngobrol itu diluncurkan pada November 2022, kedua raksasa teknologi informasi itu seperti dikejar-kejar sesuatu yang sepertinya akan menjadi ancaman jika tidak segera dikurung dan dijinakkan.

ChatGPT (GPT dari Generative Pre-Trained Transformer) adalah chatbot AI canggih yang dikembangkan oleh OpenAI. Bot ini dapat berinteraksi dalam suatu percakapan dengan penggunanya. Format dialognya memungkinkan ChatGPT menjawab pertanyaan, mengakui kesalahan, mempertanyakan premis yang tidak berdasar, serta menolak permintaan yang “tidak pantas”.

Selain dapat digunakan sebagai sumber informasi, ChatGPT juga dapat diminta untuk membuat esai, membantu menyelesaikan coding, menjawab soal matematika, membuat proposal, merangkai puisi, mengarang cerita fiksi dsb, dst.

Karena kemampuannya yang luas, ChatGPT berhasil menyedot 100 juta pengguna pada bulan pertama peluncurannya dan sejak itu memukau sekitar 50 juta pengguna aktif setiap bulannya. Kemunculan dan kemampuan yang fenomenal itu tentu saja lalu membuat banyak pihak menyadari ada sesuatu yang “tidak biasa” pada perangkat yang satu ini.

ChatGPT bisa menjadi game changer! Jika AI dan perangkatnya bisa mengubah lanskap permainan, bukankah sudah waktunya perusahaan teknologi memanfaatkannya?

Microsoft – Upaya Meraih Kembali Dominasi

Microsoft sudah memasang mata pada OpenAI ketika pada tahun 2019 mereka merogoh kocek untuk berinvestasi pada perusahaan mungil itu dan sejak itu sudah membenamkan 3 milyar dolar. Lalu menyusul 10 milyar dolar berikutnya yang diinvestasikan pada Januari 2023.

Mengapa Microsoft demikian bermurah hati pada OpenAI dan berjibaku untuk menguasai kecerdasan buatan? Untuk menjawabnya kita mungkin harus menengok ke belakang ketika sekitar dua dekade lalu Microsoft berhasil ditekuk oleh Google dalam bisnis browser (dengan Chrome), email (dengan Gmail), dan sistem operasi ponsel (dengan Android).

Microsoft, raksasa teknologi yang tengah menjulang megah, saat itu lengah ketika Internet mulai memasyarakat. Penyebabnya? Microsoft tengah berkutat dengan tuntutan hukum. Pemerintah Amerika menuduh Microsoft tidak fair memanfaatkan posisinya yang dominan untuk membunuh pesaing dengan mem-bundle browser mereka, Internet Explorer, dengan Windows. Bill Gates, yang ketika itu masih aktif mengomandoi Microsoft, tersedot perhatiannya pada proses hukum yang berlarut-larut dan Microsoft bagai lumpuh separuh badan.

Pada situasi seperti itulah, bersamaan dengan makin luasnya penggunaan Internet dalam kehidupan sehari-hari dan bisnis, Google muncul dengan tawaran produk yang tepat dan disukai publik. Google menawarkan moto “Don’t be evil”–sebuah pesan yang dapat dikatakan menyindir Microsoft yang kerap menguasai pasar dengan menendang pesaingnya lewat dominasi produk.

Dewasa ini Microsoft sesungguhnya masih berjaya. Valuasi perusahaannya masih unggul, tetapi konsumennya menyempit. Masyarakat seakan hanya mengenal Microsoft sebagai produsen Windows dan Office Suite–yang kini di-rebranding sebagai Microsoft 365. Sementara itu Google berkibar megah dengan basis konsumen yang luas dan produk yang populer mulai dari Docs, Gmail sampai YouTube. Dan ketika berselancar di Internet–siapa yang waktu ini tidak Internet-an?–orang hanya “melihat” Chrome, baik itu di PC maupun di ponsel. Dan jangan lupa ponsel dengan sistem operasi Android digunakan oleh 2,8 milyar orang per Januari 2023 dan 75% pangsa pasar global (di Indonesia, India, Brasil, Vietnam bahkan 85%).

Maka Microsoft pun segera memutar otak ketika melihat munculnya AI dengan ChatGPT-nya. Mereka berharap dapat kembali menjadi pemain dominan di pasar teknologi dengan merangkul AI untuk produk-produknya. Walaupun bersikap kritis terhadap kemampuan sebenarnya dari AI, Bill Gates memelototi dari dekat deal investasi Microsoft pada OpenAI.

Menurut salah seorang terkaya di dunia itu peran AI bisa jadi seperti PC dan Internet ketika pertama kali muncul. Bill Gates, dengan Microsoftnya, adalah figur penting di balik popularitas PC pada tahun 70an. Dan karena keunggulan produknya kala itu–DOS dan Windows–Microsoft berhasil mengantarkan Gates menjadi milyarder. Gates mengistilahkannya Microsoft memilik produk yang tepat di saat yang tepat.

Sam Altman, pendiri OpenAI, sebenarnya sudah wanti-wanti tentang penggunaan ChatGPT. Menurutnya, “it’s a mistake to be relying on [ChatGPT] for anything important right now.” Namun Microsoft tampaknya tidak mau berlama-lama untuk memanfaatkan modal baru teknologinya. Satya Nadella pada 7 Februari 2023 melakukan peluncuran “The New Bing” di Redmond, Washington. Bing kini dilengkapi dengan ChatGPT-4, versi bot yang lebih baru dan lebih cepat kerjanya dibandingkan yang diluncurkan pada November 2023 oleh OpenAI (ChatGPT 3.5). Dengan perangkat baru ini, pengguna Bing dapat berinteraksi dengan ChatGPT langsung di Bing dan mendapatkan pengalaman yang serupa seperti jika mereka menggunakan ChatGPT.

The New Bing masih dalam edisi terbatas. Pengguna perlu ikut dalam barisan antrean (waitlist) untuk dapat mengaksesnya. (ist)

Google – Upaya Menjaga Dominasi

Jauh sebelum “huru-hara” ChatGPT muncul ke permukaan, Google sebenarnya telah mengembangkan beberapa model AI. Sebelum OpenAI berdiri, pada tahun 2014, Google sudah mengakuisisi sebuah perusahaan perintis DeepMind dan mengembangkan teknologi Transformer yang digunakan pada ChatGPT (ingat GPT adalah Generative Pre-Trained Transfomer). Namun sampai saat ini Google belum melepas hasil olahan dari DeepMind Lab itu.

Google pun mempunyai LaMDA (Language Model for Dialogue Applications) yang, seperti ChatGPT, merupakan chatbot. Pada tahun 2022 lewat, bot ini oleh Blake Lemoine, salah seorang engineer-nya, diklaim mempunyai sentience (akal budi atau kesadaran). Walaupun sang engineer sempat membocorkan contoh-contoh percakapannya dengan LaMDA untuk mendukung pernyataanya tersebut, Google membantahnya. Blake bahkan dipecat oleh Google. Walaupun demikian, bocoran itu membuka mata publik betapa majunya teknologi robot AI yang dikembangkan Google.

Tampaknya Google menghadapi dilema ketika harus memilih antara melepaskan hasil pengembangan AI-nya ke publik atau menyempurnakannya terlebih dahulu. Perdebatan di internal Google menyangkut pemanfaatan AI pada produk-produknya secara terbuka berputar di sekitar risiko reputasional. Google dilaporkan mempertimbangkan masalah bias, faktualitas serta akurasi data yang dihasilkan oleh chatbot. Sedangkan bertahan dengan Search yang “itu-itu saja” pun berisiko ketinggalan kereta.

Sementara integrasi AI pada Bing diperkirakan dapat membuat Google Search absolut, game over pada ranah mesin pencari dan mungkin juga pada produk-produk unggulan lainnya. Dengan pesaing semacam ChatGPT, pencipta Gmail, Paul Buchhet, meramalkan Google hanya akan bertahan dua tahun. Karena apa? Karena hasil pencarian dengan AI dapat menggantikan apa yang dihasilkan mesin pencari.

Solusi “sementara” Google saat ini adalah Search yang dapat memberikan jawaban langsung ketika pengguna mencari informasi–mirip dengan respons yang diberikan ChatGPT. Sudah ada usulan rancangan untuk menyertakan chatbot pada Search. CNBC menyaksikan rancangan sementara itu dengan adanya “lima prompts berbeda sebagai kemungkinan pertanyaan” di bawah Search bar. Prompts tersebut diperkirakan akan menggantikan button “I’m Feeling Lucky” dan “Google Search”/enter.

Jawaban langsung ketika pengguna mencari informasi lewat Search Google dengan menggunakan natural language, mirip dengan respons ChatGPT. Dikatakan fitur AI pada Search berusaha menyaring informasi sehingga pengguna dapat memperoleh gambaran besar dari informasi yang dicarinya (ist)

Selain itu, Google juga akan meluncurkan pesaing ChatGPT yang mereka beri nama Bard. Sundar Pichai, CEO Google, menulis di blog Google pada 6 Februari 2023 bahwa Bard adalah “layanan percakapan AI eksperimental” yang dapat menjawab pertanyaan dan bercakap-cakap dengan pengguna. Bard diciptakan berbasis LaMDA. Pada tahap awal, layanan akan tersedia untuk kalangan terbatas dengan rencana ketersediaan untuk kalangan yang lebih luas pada minggu-minggu mendatang. Bard diupayakan dapat memberikan informasi yang lebih mutakhir–hal yang sulit dicapai oleh ChatGPT yang training datanya terbatas sampai data tahun 2021.

Bard, yang digadang-gadang sebagai pesaing ChatGPT, berbasis LaMDA dan dapat memberikan informasi yang lebih mutakhir serta akan tersedia secara luas pada minggu-minggu mendatang. (ist)

Google akan mempresentasikan perkembangan baru pada produk-produknya lewat sebuah event di Paris pada 8 Februari pukul 14.30 waktu setempat dan ditayangkan langsung lewat YouTube.

Undangan Google untuk menyaksikan presentasi mereka tentang pembaruan pada beberapa produknya berkenaan dengan perkembangan terakhir terkait AI. (ist)

Seperti telah disinggung, adu teknologi di antara kedua mega bintang teknologi ini adalah tahap awal dari pertarungan perebutan pasar yang akan makin sengit pada bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang. Sejak saat ini cara penggalian informasi lewat mesin pencari tidak akan sama lagi. Pengguna akan menuntut pengalaman pencarian yang lebih bersifat individual, sekaligus lebih “manusiawi” dan komprehensif. Waktu jugalah yang akan membuktikan apakah Microsoft dapat menguasai pangsa pasar mesin pencari seperti yang pernah dilakukan Google ketika merebutnya dari Yahoo sekitar dua dekade silam.

Diolah dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here