Musuh

0
196 views
Ilustrasi: Dampak kerusuhan usai pertandingan sepakbola di Malang. (Ist)

Renungan Harian
Senin, 3 Oktober 2022
Bacaan I: Gal. 1: 6-12
Injil: Luk. 10: 25-37

TADI malam ada peristiwa yang luar biasa mengerikan dan menyesakkan yaitu adanya korban meninggal 130 mungkin lebih karena kerusuhan penonton sepak bola di Stadion Kanjuruhan Malang.

Peristiwa itu meninggalkan duka bagi banyak orang, bukan hanya untuk keluarga yang ditinggalkan tetapi duka bagi bangsa ini. Bahkan bagi dunia sepak bola internasional peristiwa ini masuk dalam sejarah sebagai peristiwa yang mengerikan di era sepak bola modern ini.

Tadi malam, saya melihat di televisi pertandingan sepak bola antara Persebaya melawan Arema Malang. Pertandingan yang menarik, karena kedua kesebelasan bermain terbuka saling menyerang.

Namun dibalik keseruan dan indahnya permainan, pertandingan menjurus ke pertandingan yang agak keras.

Banyak sekali pelanggaran yang menyebabkan beberapa pemain terluka. Pertandingan yang cenderung keras ini memancing emosi penonton yang tidak senang pemain dukungannya dilanggar.

Suasana stadion semakin memanas karena kesebelasan tuan rumah kalah 2–3 dari kesebelasan tamu. Di akhir pertandingan pendukung tuan rumah tidak terima dengan kekalahan kesebelasan yang didukungnya.

Mereka melampiaskan kekesalan dan kekecewaan dengan berteriak dan banyak yang mulai masuk stadion. Situasi itu yang kemudian menjadi kerusuhan sehingga mengakibatkan banyak korban.

Salah satu hal yang menurut saya penting adalah banyak penonton fanatic sudah sejak awal (disposisi batin) melihat pertandingan ini sebagai permusuhan. Sehingga mereka melihat kesebelasan tamu sebagai musuh bersama.

Satu hal diharapkan adalah kesebelasan kesayangan mengalahkan kesebelasan tamu. Para penonton fanatik ini tidak lagi melihat pertandingan sebagai permainan yang mengedepankan sportivitas.

Para penonton fanatik tidak melihat bahwa kedua kesebelasan adalah sesama dan bersaudara. Mereka melihat bahwa kesebelasan tamu dan penontonnya adalah bukan bagian dari diri mereka bahkan musuh mereka.

Kiranya hal itu yang memicu para penonton fanatik ini tidak bisa menerima kekalahan kesebelasan kesayangannya sehingga mereka memusuhi kesebelasan yang mengalahkan kesebelasan kesayangannya.

Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Lukas, menegaskan betapa penting membongkar sekat-sekat atau pengkotak-kotakan.

Semua manusia adalah sesama bagi siapapun oleh karena itu penting mengedepankan cinta dan belas kasih. “Orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here