Mutiara Keluarga – Satunya Suami-Isteri

0
142 views
Ilustrasi - Orangtua mengajak anaknya jalan-jalan. (Parenting)

UNTUK menikah diperlukan satu cinta, dan satu iman.

Mengapa? Sebab mustahil untuk berjanji hidup saling mencintai dalam untung dan malang, jika tidak ada cinta. Kalau tidak satu iman, maka bila suatu saat nanti cintanya luntur, pondasi hidup berkeluarganya akan mudah luntur pula.

Yang saya maksud dengan satu iman tidak berarti satu agama.

Satu iman berarti satu keyakinan. Keduanya mesti yakin, kalau Tuhan sendirilah yang akhirnya bisa mempertemukan mereka. Mereka mengimani bahwa mereka berdua dipersatukan untuk menjadi suami isteri.

Contoh: untuk mendapatkan isterinya, seorang calon suami setiap malam Jumat, ia berdoa, minta tolong Bunda Maria. Ketika akhirnya perempuan yang dicintainya bersedia menjadi isterinya, ia yakin bahwa pernikahannya adalah sesuai dengan kehendak Tuhan.

Baik cinta maupun iman ini mesti teruji selama proses pacaran hingga saat pernikahan. Dalam cinta biasanya ada kesulitan, ada kesakitan, ada putus sambung pula.

Dalam iman, melalui peristiwa dan pengalaman, ada putus asa. Ada pula harapan, hingga menyadari bahwa mereka berdua memang dicipta untuk saling melengkapi, saling mencintai.

Demi prokreasi, kesatuan cinta dan iman itu akhirnya mewujud konkret dalam kesatuan raga dan jiwanya.

Satu cinta, satu iman, dan satu jiwa raga
Ketika anaknya lahir, mereka berdua yakin, anaknya adalah anugerah-Nya.

Orangtua yakin bahwa Tuhan mempercayainya untuk melahirkan, membesarkan, mendidik anaknya, ya anak Tuhan juga. Kedua orangtua mesti tetap satu. Satu dalam visi, satu dalam aksi mendidik buah hati anugerah ilahi.

Contoh: Bila mamanya mengajari anaknya cinta buku, papanya mesti mendukungnya. Jangan sampai papanya malah mengajari anaknya untuk belajar lewat HP aja.

Jika ibunya mengajari anaknya untuk tidur siang, jangan sampai ayahnya mengajak anaknya untuk jalan-jalan di mal.

Satu cinta, satu iman, satu visi dan satu suara dalam mendidik anaknya. Sebab, apabila anak tahu dan merasakan bahwa kedua orangtuanya tidak satu suara, maka akibatnya bisa fatal.

Anak -kita pun- tentu akan memilih apa yang lebih enak, yang menyenangkan dirinya. Lihat HP atau jalan-jalan di mall tentu lebih menarik daripada baca buku atau dipaksa tidur siang. Apalagi kalau ajakan papa itu sengaja disembunyikan dari mamanya.

Jika hal itu menjadi kebiasaan, risikonya mungkin jadi begini. Suatu saat, bila keinginannya tidak terpenuhi anak akan mencoba berbohong demi mencapai tujuannya. Sekali berhasil membohongi orangtuanya, maka akan diulangi lagi.

Jangan heran, kalau suatu saat anak akan berbuat yang lebih dari bohong. Tidak hanya berbohong pada orangtua, tetapi memanipulasi orangtuanya.

Sekali dua berhasil memanipulasi orangtuanya, ia akan mengulanginya.

Contoh: untuk menghindari tuntutan orangtua agar melakukan sesuatu yang tidak disenangi, anak dapat pura-pura tidur, atau pura-pura sakit. Dalam kasus tertentu, anak memanipulasi orangtuanya hingga dapat mengendalikan tubuhnya. Misalnya anak membuat badannya panas. Atau memuntahkan makanan yang sudah ditelannya.

Masalahnya menjadi lebih serius, ketika kebiasaan anak tersebut tanpa disadari orangtuanya, sebab dapat mengkristal menjadi watak, karakternya.

Awalnya cuma kejadian yang berulang, tetapi akhirnya bisa jadi karakternya.

Jangan mengira bahwa anak sekecil anakmu, tak mungkin bisa memanipulasi orangtuanya. Anak-anak itu pintar dan cepat belajar.

Sederhana saja misalnya, anakmu tahu kalau mamanya tidak akan tahan mendengar tangisannya. Maka ia akan menggunakan tangisan untuk memenuhi keinginannya.

Tangisan anak itu ada dua macam. Tangis beneran dan tangis manipulatif.

Tangis beneran pasti disertai air mata. Tangis manipulatif, biasanya tanpa ada air mata. Hanya suara dan gerak menangis, tapi tidak keluar air matanya.

Demikianlah penting dan perlunya kedua orangtua satu dalam visi dan aksi, dalam cara mengasuh anaknya.

Tuntutan per-satu-an kedua orangtua dalam mendidik anak itu sebenarnya adalah undangan untuk tumbuh sebagai orangtua. Undangan untuk terus-menerus belajar dari pengalaman mendidik anak.

Oleh karena itu, yang terbaik adalah bila ibu atau mamalah yang mendidik anak. Di sana orangtua harus belajar dari anak. Maka yang benar sesungguhnya bukan “orangtua mendidik anak”, melainkan “anak mendidik orangtua”-nya.

Kita, orangtua, dididik untuk rendah hati, untuk murah hati, lapang hati. Setiap kali kita, orangtua mesti mengolah hati.

Kadang pula orangtua mesti memutar otak untuk menemani anaknya berproses menjadi dirinya, sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya.

Kiat sederhana
Karena terkendala oleh cintanya pada anaknya, tak jarang orangtua yang terjebak. Asal demi anaknya, lalu orangtua mudah mengalah pada anaknya. Memang ada baiknya, tetapi tak seluruhnya.

Bener ning ora pener”, benar tapi gak pas. Misalnya anak sudah bisa berjalan sendiri, merengek minta gendong. Karena cinta lalu anak digendong. Anak sakit tetapi nangis-nangis tidak mau diajak ke dokter gak. Karena cinta anak, lantas tidak jadi ke dokter.

Menurut saya, sebaiknya kita mesti ‘firm’, tegas melakukan yang kita yakini benar dan baik untuk anak. Kita orangtua tidak boleh ikut kemauan anak yang masih balita, apalagi batita.

Jangan biarkan anakmu memilih dan menentukan apa yang baik dan perlu buat dirinya dan kita. Tanggungjawab pendidikan anak ada padamu.

Belum waktunya anak dapat mempertanggungjawabkan tindakannya. Percayalah, kalau Tuhan memberimu anak, artinya Tuhan melihat dirimu dapat dipercaya, mampu mendidik anakmu.

YRWidadaprayitna
H 230910 AA

alovingchristianfamily

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here