Nuba atau Misa

0
205 views
Misa di pinggir Sungai Tigal di wilayah pastoral Paroki Nanga Tayap, Keuskupan Ketapang. (Dok. Romo A. Joko Purwanto)

Puncta 04.09.21
Sabtu Biasa XXII
Lukas 6: 1-5

SEORANG ketua umat datang ke pastoran, “Pastor, besuk hari Minggu kita libur ya?”

“Ya pak, hari Minggu adalah harinya Tuhan. Hari ketujuh Tuhan beristirahat dari karya penciptaan. Kita menghormati hari Tuhan, jadi semua istirahat.”

Saya mencoba menjelaskan.

“Bukan itu Pastor. Besuk Minggu kita mau libur misa.”

Saya terkejut. “Ada apa kok libur misa?”

“Begini pastor, besuk Minggu di kampung ada acara Nuba Adat. Jadi mohon izin umat tidak bisa ikut misa. Pastor tidak usah ke stasi, misanya libur aja gitu.”

Bingung juga nih. Hari Minggu seharusnya orang libur dari segala pekerjaan, hari spesial untuk memuji Tuhan. Tetapi umat ini pinginnya libur. Tidak usah mengikuti ekaristi.

Padahal jadwal kunjungan ke stasi itu hanya sebulan sekali. Jadi hanya dapat jatah satu bulan sekali misa saja dimintakan libur. Gara-gara acara nuba adat.

Oh ya, nuba itu adalah menangkap ikan di sungai beramai-ramai seluruh warga kampung. Tua-muda, anak-anak, kakek-nenek, laki perempuan, semua akan turun ke sungai.

Tuba adalah sejenis racun dari akar tumbuh-tumbuhan yang ditumbuk dan dibuang ke sungai sehingga membuat ikan-ikan mabuk.

Ikan-ikan akan muncul di permukaan dan orang tinggal menangguknya.

Saya putar otak bagaimana hal yang paling penting pada hari Minggu yakni merayakan ekaristi tetap bisa dilakukan. Saya tawarkan kepada ketua umat, apakah misanya mau maju hari sabtu sore atau sebelum nuba, misa dulu di pinggir sungai.

“Bisa ya pastor misa di pinggir sungai?”

“Kenapa tidak?” Jawab saya.

“Yesus juga mengadakan perjamuan di pinggir danau bersama murid-murid-Nya.”

“Kalau begitu gak jadi libur pastor, kita tetap misa hari Minggu.”

“Ya pak, malah bagus kita doa dulu. Biar nanti dapat ikan yang banyak.” Kata saya bersemangat.

Persoalan hukum selalu menjadi perdebatan. Kaum Farisi menerapkan hukum secara kaku dan menyalahkan orang lain yang melanggarnya.

Kaum Farisi merasa diri paling benar. Mereka bersikap sombong, merasa di atas yang lain. Suka sekali menghakimi orang lain.

Inilah kecenderungan jelek kaum beragama yakni kesombongan rohani.

Yesus mengecam sikap kaku kaum Farisi. Ia lebih menekankan semangat belas kasih dan keadilan karena Allah adalah kasih.

Allah bukan hakim yang tidak punya belaskasihan, yang hanya menghukum dan menyalahkan.

Kalau Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat, Ia berkuasa atas segala waktu.

Bagi Tuhan waktu adalah saat untuk mengasihi. Waktu bukan untuk menghukum dan menyombongkan diri. Tetapi waktu digunakan untuk menyelamatkan setiap orang.

Marilah kita tidak kaku dengan aturan. Tetapi menggunakan aturan untuk menyelamatkan banyak orang.

Pergi ke sungai mencari ikan,
Banyak ikan gabus dan ikan belanang.
Hari Minggu adalah harinya Tuhan,
Gunakan waktu untuk kebaikan banyak orang.

Cawas, selalu gembira.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here