Panggilan Itu Indah dan Menguatkan

0
425 views
Senangnya anak-anak Kelas Komuni Pertama berbusana layaknya para suster.

Minggu, 8 Mei 2022

  • Kis. 13:14,43-52.
  • Mzm. 100:2,3,5.
  • Why. 7:9, 14b-17.

Yoh. 10:27-30.

SALAH satu tanda yang mudah ditangkap tentang sukacita dan kebahagiaan dalam menanggapi panggilan Tuhan adalah adanya sikap saling mendengarkan dan menghormati satu sama lain

Sikap saling mendengarkan, saling mempercayai dan menghormati menjadi nilai-nilai Kristianitas yang menunjukkan kuatnya campur tangan Allah dalam gerak rahmat dalam perjalanan panggilan kita.

“Saya sudah kerja di sini selama 18 tahun. Tidak mungkin saya bertahan selama ini, jika saya bertindak curang dan tidak jujur,” kata seorang bapak.

“Sudah banyak pastor saya ikuti dan layani yang bertugas di Gereja sini, mereka bisa bersaksi atas apa yang saya kerjakan,” lanjutnya.

“Juga sudah tak terbilang banyaknya pengurus Gereja dan para aktivis Gereja yang bekerjasama dengan saya, bisa ditanyakan pada mereka, sikap, dan perilaku saya,” sambungnya.

“Saya benar-benar bersukacita boleh mengabdi Tuhan melalui pelayanan sebagai koster di Gereja ini,” ujarnya lagi.

“Bagi saya panggilan sebagai koster di Gereja itu menggembirakan dan terasa ringan karena semua saya lakukan dengan gembira hati,” katanya.

“Kadang ada juga sitausi yang membuatku merasa lelah, jika ada banyak umat yang kadang mau ikut campur terlalu jauh dengan pekerjaaan di sini. Yang menurut mereka baik, tetapi tidak bisa saya kerjakan; karena pastor kepala tidak mengizinkan,” ujarnya.

“Hal itu tidak terlepas dari adanya pengurus atau aktivis yang kadang lupa bahwa Gereja itu bukan perusahaan yang dia pimpin. Mereka kadang membawa sikapnya dalam memimpin di luar Gereja hingga kadang pola relasi yang ditampilkan layaknya pimpinan dan karyawan bukan sesama umat yang berusaha menanggapi panggilan Tuhan dengan mengabdi dalam pelayanan di Gereja,” ujarnya lagi.

“Pola relasinya pun akhirnya sebatas pekerjaan, tuan dan hamba, majikan dan pembantu. Padahal kami pun sama-sama umat yang ingin dengan sukacita menanggapi undangan Tuhan untuk terlibat dalam kasih Tuhan. Kami ingin melayani dengan sukahati,” sambungnya.

“Kami ingin dipercaya dan ingin pula didukung dalam karya pengabdian kami,” tegasnya.

“Panggilan Tuhan itu selalu mengarahkan kita untuk saing percaya dan menghargai keberadaan satu sama lain. Maka panggilan untuk hidup dalam kasih Tuhan itu indah dan menguatkan kita dalam pengabdian kepada Tuhan dan sesama,” tutupnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,”

Panggilan Tuhan itu mengundang kita untuk mampu mendengarkan dengan hati suara lembut Tuhan.

Apa yang kita dengar kita percayakan kepada Tuhan, apa yang harus kita jalani dalam menanggapi panggilan Tuhan dan bagaimana kita bertanggung jawab kepada Tuhan.

Pada titik ini kita melihat ada sesuatu yang melampaui daya kemampuan kita, sebab jalan Tuhan tidak bisa dinilai dan dilihat berdasarkan cara kita menilai dunia ini.

Demikian juga keterlibatan kita dalam hidup menggereja tidak lain sebagai wujud jawaban kita atas apa yang kita dengar dari Sabda Tuhan.

Panggilan kita tidak mungkin hanya dipandang dengan cara pandang dunia melainkan masuk dalam misteri kasih Allah sendiri yang dengan daya Roh Kudus menarik kita.

Setiap orang boleh punya motivasinya sendiri dalam menghayati panggilan Tuhan, namun yang menyatukan kita dalam komunitas gerejawi adalah sikap iman dan kepercayaan kita pada Tuhan Yesus.

Maka hanya dengan saling menghargai dan saling percaya kita bisa membangun hidup panggilan kita dalam Gereja hingga berbuah dan berdaya pikat.

Panggilan itu disyukuri dengan rendah hati bukan dijalani dengan sikap arogan dan mau menang sendiri, mau hebat sendiri.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku menghayati panggilan Tuhan dengan mendukung dan menghargai setiap pribadi yang terlibat dalam palayanan di Gereja?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here