Pasangan Muda Pengin Menikah Cepat, Pastor Bilang “No Way”

0
514 views
Ilustrasi - Lamaran nikah dan pertunangan. (Ist)

BAPERAN – BAcaan PERmenungam hariAN.

Selasa, 15 Juni 2021

Tema: Gentingnya perkawinan

Bacaan

  • 2 Kor 8: 1-9.
  • Mat. 5: 43-48.

APA pratanda bahwa hidup dialami sebagai sebuah rangkaian kegembiraan, sukacita, damai, dan sejahtera?

Hidup itu seharusnya dipersiapkan dan dibentuk. Tidak cukup percaya bahwa Tuhan yang akan menyempurnakan.

Betul dan sangatlah penting tetapi juga kematangan kedewasaan manusiawi dalam mengikat janji sangatlah mendasar pula.

Karena hidup adalah rangkaian keputusan-keputusan dan tindakan yang membuat pribadi mampu berkembang dalam kebersamaan dan demi kebaikan bersama.

Kepekaan pastoral

Sepasang muda-mudi berusia kurang lebih 21 tahun WA.

“Romo, saya mau menikah tanggal sekian. Kapan saya bisa bertemu?”

Melihat cara berpakaian, rupanya mereka tidak siap bertemu. Puterinya memakai celana panjang olahraga dan jaket olahraga.

Sementara laki-laki pakai kaos dan celana pendek.

Kesan saya, mereka tidak sadar untuk apa mereka datang.

Kusam.

“Kenapa harus menikah di usia muda, adik-adik? Kesannya kok terburu-buru?,” demikian kataku

Ada tenggang waktu yang cukup lama mereka menjawab.

Calon pria menunduk, selalu melirik ke calon isterinya, setiap saya ajukan pertanyaan.

“Sudah senang. Sudah saling mencintai. Mau apalagi Romo. Kawin aja,” sela si perempuan muda ini.

“Sudah kerjakah? Di mana?”

“Ya, dulu kerja. Tapi dua tahun ini tidak,” jawab perempuan.

“Saya bantu Mak di warung sembako. Dapatlah sekitar Rp 100.000,00 kalau kerja,” sahut yang pria.

“Orangtua sudah diajak bicara?”

Diam beberapa menit.

Kesan saya mereka belum dewasa untuk memahami apa itu keluarga. Masih muda dan masih suka ubyang-ubyung.

Saya usulkan tahun depan saja.

Tetapi mereka tetap nekat untuk menikah bulan depan.

Bicara dulu dengan orangtuamu. Katakan Romo usul: ditunda.

Beberapa pertanyaan awal tentang maksud dan situasi mereka tidak dijawab dengan baik.

Ada sesuatu disembunyikan.

Dua hari kemudian datang. Tetap ada kesan sama. Tidak berubah.

Calon mempelai puteri menunduk terus dan sibuk otak atik HP. Menutupi perutnya dengan tas dan jaket.

Calon mempelai pria juga menunduk. Tak berani menatap wajah Romo. Selalu lirik yang puteri.

Saya tetap menganjurkan  nikahnya sebaiknya tahun depan.

Saya merasa pihak perempuan yang memaksa menikah. Mereka kurang memahami kewajikan dari sebuah ikatan perkawinan. 

Pertanyaan tentang keluarga sangat minim.

Di pihak pria, berkali-kali melirik pasangannya dulu sebelum mengungkapkan pendapatnya.

Terkesan ragu dan terpaksa.

Mereka terkesan kurang begitu dewasa. Tidak banyak memahami bagaimana membentuk keluarga.

Payah.

Pikiran mereka terkesan belum “mlethek” (tercerahkan).

“Pulanglah dik. Bicaralah dulu dengan kedua orangtua kalian. Romo ingin bicara dengan orangtuamu,” kataku tegas.

Orangtua mereka sangat sederhana dan polos. Tidak bisa berpendapat teguh. Terpaksa menyetujui.

Puterinya ini anak tunggal.  Orangtua juga merasa pasangan puterinya temperamental, suka marahan.

Anaknya juga sering menangis. Mereka berkali-kali sudah sering menasehati untuk menunda perkawinannya.

Bentrok dan ribut hasilnya. Sang ayah hanya diam saja. Seolah-olah tidak ada jalan, kecuali membiarkan.

Bagaimana perkawinan dapat dialami sebagai suatu proses kehidupan bersama yang  panjang dan membahagiakan?

Sebuah komitmen, pasti.

Rentetan keputusan yang bebas, penting. Apakah kehendak kuat akan perkawinan Katolik bijak dilonggarkan?

Bagaimana hidup bangunan keluarga dapat dipertahankan kalau pondasi lemah?

Paulus memberi gambaran yang baik tentang kehidupan.

“Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” ay 2.

Yesus menasehati, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” ay 48.

Tuhan, ajarlah kami mengerti dan berani belajar membentuk hidup. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here