Pelita Hati: 30.06.2018 – Iman dan Kerendahan Hati Sang Perwira

0
887 views

Bacaan Matius 8:5-17

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”  Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. (Mat.8:5-8.10)

Sahabat pelita hati,

DIALOG antara seorang perwira di Kapernaum dan Yesus ini sungguh menyentuh hat. Kita menyaksikan dua pribadi yang memperlihatkan hidup dalam kerendahan hati.

Pertama, jabatan perwira di Kapernaum tak boleh disamakan dengan orang kebanyakan, namun ia rela datang kepada Yesus untuk memintakan kesembuhan bagi hambanya alias budaknya. Sangat jarang terdengar seorang pejabat yang datang sendiri memintakan kesembuhan untuk budaknya, bukan anaknya lho. Bukankah ia sebenarnya dapat mengutus salah seorang bawahannya kepada Tuhan? Mengapa ia datang sendiri? Seorang perwira yang luar biasa rendah hatinya.

Kedua, Yesus bukanlah pribadi yang suka ‘jual mahal’ atau ‘sok sibuk’. Ia langsung menyatakan kesediaannya bahkan saat itu juga mau datang ke rumahnya. Inilah sebentuk kerendahan hati Sang Yesus. Walau Ia telah tersohor di mana-mana sebagai penyembuh namun  selalu siap melayani orang yang membutuhkan apalagi yang menderita. Apakah kita memiliki spirit seperti Tuhan Yesus? Atau kita sering  ‘jual mahal’ karena jabatan penting kita?

Ketiga, Sebetulnya sang Perwira wajib bangga dan gembira karena Tuhan bersedia datang ke rumahnya. Namun ia merasa tidak pantas dikunjungi dan yakin dengan sepatah kata saja, hambanya akan sembuh. Kata-kata perwira Kapernaum inilah yang setiap saat kita ucapkan menjelang menerima tubuh Kristus (komuni) dalam perayaan Ekaristi. Iman sang perwira begitu luar biasa. Dia percaya bahwa Tuhan memiliki kuasa yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Mukjizat terjadi tidak selalu dalam perjumpaan langsung, jamahan atau pun penumpangan tangan namun Ia bekerja dengan sabda-Nya, kapan saja dan di mana saja. Yang disyaratkan  adalah iman dan kepercayaan kita. Dan di balik iman itu sejatinya tersembunyi sikap rendah hati.

Sahabat pelita hati,

Semoga kita dapat meneladan iman dan kerendahan hati Sang Perwira ini sambil percaya bahwa mujizat Tuhan selalu ada bagi yang percaya kepada-Nya.

Mengepak sayap Sang Garuda,
lambang negara Indonesia jaya.
Mujizat Tuhan selalu ada,
bagi yang setia dan percaya.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here