Pencemaran Nama Baik

0
336 views

“Karena Yusuf, suaminya, seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” (Mat 19)

BEBERAPA waktu yang lalu, pengacara SN melaporkan 9 nama dan 32 situs karena kasus pencemaran nama baik. Satu orang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Mabes Polri dan ditangkap di kediamannya; namun keesokan harinya dia dibebaskan lagi. Pencemaran nama baik itu dilakukan dengan mengedit foto-foto SN secara tidak wajar dan dijadikan meme, yang menimbulkan rasa malu dari pihak kurban dan keluarganya.

SN merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang dicemarkan nama baiknya. Tentu ada banyak orang yang pernah dicemarkan nama baiknya, tetapi tidak sampai diperkarakan. Kurban pencemaran nama baik tentu tidak hanya orang atau pribadi, tetapi juga bisa lembaga, instansi, perusahaan, organisasi, dsb. Bahkan bisa terjadi bahwa anggota keluarga, saudara, rekan dan sahabat dekat kita pernah menjadi kurban pencemaran nama baik. Kurban pencemaran nama baik tidak hanya pejabat tinggi, pemimpin lembaga atau organisasi, tetapi juga rakyat biasa.

Mengapa orang sering mencemarkan nama baik orang lain? Orang mencemarkan nama baik orang lain biasanya karena mereka tidak mampu mengendalikan rasa marah, dendam, kecewa dan sakit hatinya. Mereka ingin menyerang, memojokkan dan menjatuhkan orang di depan publik. Mereka menjatuhkan orang bukan dengan memukul fisik atau jasmaninya; tetapi dengan mencari, menemukan dan mewartakan kekurangan, kelemahan, kejelekan, keburukan sikap atau perilaku dan kejahatannya. Ada orang yang rajin mencari-cari kesalahan orang lain dan mewartakannya kepada banyak orang, agar banyak orang ikut mencemooh. Mencemarkan nama baik nampaknya sama dengan keinginan untuk mempermalukan orang di depan umum.

Yusuf tidak mau mencemarkan nama baik isterinya di depan umum. Yusuf tahu bahwa dalam diri isterinya ada sesuatu yang tidak beres dan tidak normal, yakni telah mengandung; kandungan yang tidak berasal dari tindakannya. Namun demikian, Yusuf tetap diam dan menyimpan hal itu untuk dirinya sendiri. Yusuf tidak ngember dan nggosip, tidak menyebarkan berita itu kepada banyak orang, tidak berniat untuk memojokkan dan menjatuhkan Maria di depan banyak orang. Yusuf orang yang tulus hati, tidak mempunyai dendam dan kebencian, tidak marah dan kecewa. Yusuf justru hendak meninggalkan Maria dengan diam-diam.

Kebiasaan untuk mencemarkan nama baik tidak hanya menjadi tanda bahwa orang telah dikuasai oleh dendam dan kebencian; tidak mampu mengendalikan rasa marah dan kecewa; tidak mampu mengolah luka atau sakit hatinya; tetapi juga tanda bahwa orang tidak menyadari kelemahan dan kerapuhannya sendiri, keburukan dan kejahatannya sendiri. Orang ingin terlihat baik dan benar dengan menjatuhkan atau mengurbankan orang lain; ingin terlihat utuh, sempurna dan tanpa cacat dengan mencari keburukan orang lain. Kebiasaan seperti ini nampaknya masih melekat juga dalam diri beberapa orang yang mengaku beragama dan beriman Katolik.

Dalam peristiwa dan pengalaman apa saja, pencemaran nama baik telah kulakukan kepada orang lain dan juga menimpa diriku? Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here