Percik Firman: Buah-Buah Doa

0
181 views

Sabtu Imam, 6 Agustus 2022

Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya

Bacaan Injil: Luk 9:28-39 

Saudari/a ku ytk.,

BUNDA Teresa dari Kalkuta memberikan kata-kata inspiratif kepada kita tentang pentingnya keheningan dan doa dalam hidup ini : “Buah keheningan adalah doa. Buah doa adalah iman. Buah iman adalah cinta. Buah cinta adalah pelayanan. Buah pelayanan adalah damai.” 

Pada hari ini Gereja merayakan Hari Sabtu Imam dan Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya (Transfigurasi). Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan bagaimana Tuhan Yesus naik ke Gunung Tabor bersama dengan tiga murid inti, yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus. 

Untuk apa Yesus naik gunung yang tinggi? Dalam Kitab Suci, gunung menjadi symbol tempat perjumpaan manusia dengan Allah. Yesus naik gunung untuk berdoa. Di tengah-tengah karya pelayanan-Nya, Yesus mengkhususkan waktu untuk menyepi, masuk dalam keheningan, dan berdoa kepada Allah Bapa-Nya. 

Teladan Yesus ini semakin menegaskan kepada kita mengenai pentingnya doa dalam kehidupan kita. Di tengah kesibukan, pekerjaan, dan kegiatan-kegiatan kita sehari-hari, yang seringkali menyita banyak waktu dan tenaga, kita harus berani mengkhususkan waktu untuk masuk dalam keheningan dan berdoa. 

Doa yang kita lakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh, akan menghasilkan buah-buah dalam kehidupan kita sebagaimana dialami Yesus. Apa saja buah-buah doa itu? 

Pertama, Doa dapat memancarkan aura kasih dan kedamaian. Wajah Yesus berubah dan bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Dalam aura kasih itu, ada kemuliaan dan kesucian. Maka, kita seringkali menjumpai bahwa orang-orang yang tekun berdoa itu memancarkan kedamaian dan kesucian hidup. 

Kedua, Doa dapat menjernihkan arah dan tujuan hidup kita. Lewat doa kepada Bapa-Nya Yesus diteguhkan dalam mengemban misi-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Dalam doa-Nya, Yesus berjumpa dengan Musa dan Elia. Mereka adalah dua tokoh besar dalam Perjanjian Lama terkait dengan karya keselamatan Allah. Musa simbol sang tokoh pembebas dan Elia simbol para nabi utusan Allah dalam mewartakan sabda Allah dan harapan. 

Ketiga, Doa dapat menjadikan kita bisa memancarkan kebahagiaan bagi orang lain. Setelah Yesus berdoa, Petrus dan teman-temannya merasakan kebahagiaan, sehingga berkata, “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” Artinya, doa itu membuahkan kebahagiaan dalam hidup kita dan sesama di sekitar kita. 

Kalau kita menghayati hidup doa kita, kehadiran kita di mana pun akan membawa kebahagiaan bagi sesama. Wajah kita menampakkan keteduhan. Senyuman kita membawa kegembiraan. Kata-kata kita menghibur dan mencerahkan. Tindakan kita membawa berkat. Orang lain merasa nyaman berada di dekat kita.  

Sebagai seorang formator di Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Sanjaya, Jangli-Semarang, saya berharap agar para frater juga dapat berkata seperti Santo Petrus, “Guru, betapa bahagianya kami berada di Seminari TOR Jangli ini”. Semoga mereka bahagia tinggal dan dididik di Seminari TOR tertua di Indonesia ini untuk menjadi calon imam diosesan Semarang. 

Pertanyaan refleksinya, Bagaimana hidup doa Anda akhir-akhir ini? Di manakah tempat favorit Anda untuk berdoa selama ini? Apa saja buah-buah doa yang sudah Anda alami? 

Terimakasih atas aneka dukungan dan doa-doa Anda untuk kami para imam dan calon imam. Selamat berakhir pekan. Tuhan memberkati kita semua. Berkah Dalem dan Salam Teplok dari BuJang Semar (Bumi Jangli Semarang).# Y. Gunawan, Pr

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here