Peregrinasi dengan Hanya Mengandalkan Tuhan

0
1,066 views
Ilustrasi: Mencari arah baru. (Ist)

Puncta 03.02.22
Kamis Biasa IV/C
Markus 6: 7-13

KETIKA masih menjadi frater, kami pernah diminta untuk mengadakan peregrinasi atau mengembara. Kami diutus pergi berdua-dua dan tidak boleh membawa bekal apa-apa.

Hanya bawa KTP dan baju yang melekat di badan saja. Tidak boleh mengaku frater atau menunjukkan identitas diri.

Kalau mau makan harus mengemis atau meminta kepada orang.

Ketika sampai di Ambarawa, perut kami sudah kelaparan dan kaki mulai pegal. Perjalanan di bawah terik matahari membuat cepat lelah dan haus.

Saya memberanikan diri ngemis di sebuah warung. Ibu yang punya warung berkata, “Mas, nanti tak kasih makan, tapi bantu cuci-cuci di belakang mau?”

Tanpa pikir panjang, karena sudah lapar, kami menuju ke dapur tempat piring gelas dan perabotan kotor.

Kami diupah dengan sepiring nasi, sayur oseng daun pepaya dan seekor lele goreng. Ada sisa potongan kepala lele juga diberikan kepada kami. Waktu itu makan sungguh nikmat rasanya.

Kebaikan Tuhan ada di mana-mana lewat banyak orang.

Peregrinasi adalah sebuah formatio yang bertujuan untuk merasakan kasih Tuhan dan hanya mengandalkan kebaikan-Nya saja.

Dalam segala situasi kita diajak percaya pada pemeliharaan Tuhan. Saya ingat pesan kakek, “Yen gelem obah mesti mamah.” (Kalau mau kerja, pasti bisa makan).

Yesus mengutus murid-Nya pergi berdua-dua. Mereka diberi pesan untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat; roti pun tidak boleh dibawa, demikian pula bekal dan uang dalam ikat pinggang.

Mereka diutus memberitakan pertobatan dan menyembuhkan orang sakit. Mereka harus mau menolong sesama yang menderita.

Mereka diminta tidak membawa apa-apa. Hal ini dimaksudkan agar mereka percaya kepada Yang Mengutus. Dengan jalan apa pun Tuhan akan memelihara mereka.

Tuhan menolong kami melalui ibu yang punya warung. Kami diminta membantu kerepotan ibu itu dengan mencuci piring, gelas, sendok dan alat-alat makan lainnya.

Dengan itu Tuhan memelihara hidup kami. Tuhan yang mengutus, Tuhan pula yang akan mengurus segalanya.

Dari pengalaman peregrinasi itu, kami makin percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Memang tidak semua mulus. Ada pula teman-teman kami yang ditolak, diusir dan tidak diterima.

Pengalaman itu pun bisa diberi makna. Tuhan sendiri juga ditolak dan disalibkan.

Namun perutusan Tuhan bagi kita untuk mewartakan Kabar Gembira harus terus dijalankan. Ditolak atau diterima itu bukan urusan kita.

Tuhanlah yang akan menyelesaikan semuanya.

Kita semua diutus untuk pergi. Kita semua sedang dalam perjalanan. Kita semua di dunia ini adalah pengembara, musafir.

Mengandalkan Tuhan itulah satu-satunya sikap batin yang benar.

Percaya pada penyelenggaraan-Nya, bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita, itulah pegangan penting bagi kita semua.

Naik sepeda berkeliling-keliling kota.
Singgah sebentar membeli kacamata.
Tuhan pasti memelihara hidup kita.
Jangan meragukan belaskasih-Nya.

Cawas, Yesus andalanku….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here