Pergi ke Tempat Sunyi

0
440 views
Menatap kesunyian by ist

Puncta 18.07.21
Minggu Biasa XVI
Markus 6: 30-34

RETRET adalah waktu untuk mengundurkan diri dari aneka kegiatan. Pergi ke tempat hening untuk menimba kekuatan baru bersama Allah.

Ibarat orang menebang kayu, ia berhenti sejenak mengayunkan kampak. Agar badan segar sehingga kekuatan pulih kembali.

Retret pertama di Kalimantan saya ikuti di Bodog, Sanggau, Oktober 2009. Perjalanan dari Tayap ke Bodog menempuh jarak kira-kira 300 km dengan sepeda motor.

Jalan buruk dan jauh (waktu itu Jalan Trans Kalimantan belum dibangun) tidak menyurutkan niat kami.

Kami berangkat beriringan sambil “ampir-ampiran” di pastoran yang dilewati. Singgah di Balai Semandang, kemudian Balai Berkuak, terus lanjut nyebrang Sungai Kapuas di Piansak.

Kami datang sehari sebelum retret dimulai. Ada waktu istirahat karena perjalanan jauh.

Mgr. Agus dari Keuskupan Sintang menjadi pembimbing.

Beliau berkata, “Para pastor, anggap saja ini waktu libur bersama Tuhan. Anda bebas mengatur diri. Yang penting anda bahagia ketemu Tuhan dan punya tenaga baru untuk nanti kembali berkarya di ladang Tuhan. Di paroki masing-masing.”

Saya sungguh menikmati retret itu. Meninggalkan segala hiruk-pikuk pekerjaan yang menumpuk.

Punya waktu leluasa untuk berdialog dengan Tuhan. Tidak diganggu oleh apa pun.

Masuk ke dalam keheningan dan sendiri.

Kita sangat perlu untuk menyendiri dan mengambil jarak dari segala urusan dunia.

Seperti kalau kita naik pesawat, kita ambil jarak dari dunia tempat kita berada; rumah, keluarga, pekerjaan, tugas, relasi dan tanggungjawab.

Dengan ambil jarak, kita bisa menilai, mengevaluasi diri.

Itulah gunanya kita retret, pergi ke tempat sunyi untuk menyendiri.

Setelah melaksanakan perutusan, Yesus mengajak para murid untuk retret. Pergi ke tempat sunyi, menyendiri dan beristirahat sejenak.

Mereka pergi mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.

Di dalam retret, kita mendapat nafas dan tenaga baru untuk kembali melayani. Seperti baterei yang di-recharge, kita dapat kekuatan baru dan jadi fresh kembali.

Anda butuh waktu hening dan sendiri, menenteramkan diri agar mata batin menjadi jernih.

Seperti kopi yang diaduk-aduk, didiamkan sejenak agar mengendap, baru dinikmati seruput demi seruput.

Jangan merasa rugi kehilangan waktu menyendiri bersama Tuhan.

Percayalah, akan ada banyak insight baru kita temukan.

Berjemur bikin kulit jadi hitam.
Kalau tidak tahan pakai jas hujan.
Tuhan memberi kita waktu 24 jam.
Berapa waktu yang kita sediakan bagi Tuhan?

Cawas, selalu jaga jarak…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here