Pesan Terakhir Puteri Mandalika

0
214 views
Ilustrasi - Pantai Mandalika (Kompas.com)

Puncta 22.05.22
Minggu Paskah VI
Yohanes 14: 23-29

MANDALIKA tidak hanya viral karena dibangun arena sirkuit balap motor, tetapi sudah tersohor sejak zaman dahulu.

Mandalika adalah nama seorang puteri kerajaan di Cakranegara. Ia sangat cantik dan menjadi rebutan para pangeran. Banyak putra raja yang melamar untuk dijadikan permaisuri.

Karena tidak ingin terjadi peperangan dan pertumpahan darah di antara kerajaan, maka dia melarikan diri dan terjun ke laut.

Dia berkata, “Aku mencintai para pangeran, tetapi aku lebih mencintai rakyatku. Jangan sampai mereka menjadi korban, karena aku memilih salah satu dari mereka. Aku berkurban demi kedamaian seluruh warga rakyatku.”

Sebelum terjun ke laut, dia berjanji, “Aku akan datang setiap tahun pada waktu tertentu. Datanglah ke pantai dan kalian akan menjumpai aku.”

Lalu terjunlah sang puteri ke laut dan hilang ditelan ombak pantai Laut Selatan.

Tiap tahun pada waktu tertentu semua warga turun ke pantai seperti pesan Puteri Mandalika.

Mereka menangkap sejenis cacing yang disebut “Nyale.”

Mereka percaya benda itu sebagai kiriman yang telah dijanjikan oleh Sang Puteri. Sampai sekarang warga hidup dalam damai dan tenteram.

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berpesan kepada para murid-Nya, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.”

Yesus akan pergi meninggalkan para murid. Tetapi Dia akan datang kembali.

“Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Aku pergi tetapi Aku datang kembali kepadamu.”

Yesus tidak meninggalkan kita sendirian. Dia menjanjikan Roh Kudus kepada para murid, ”Penghibur, yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Damai Kristus diberikan kepada kita. Damai Kristus tinggal dalam hati kita. Semua murid Kristus adalah pembawa damai.

Kita semua adalah utusan perdamaian. Maka dimana pun kita berada, dengan siapa kita hidup, di situlah kita membawa damai.

Tandanya kita membawa damai adalah jika kita diterima dengan sukacita. Kalau kita tidak diterima bisa jadi karena kehadiran kita justru mengancam perdamaian yang sudah ada.

Kita tidak diterima karena tutur kata atau tingkah laku kita menyebarkan kebencian, permusuhan, intoleransi dan tidak menghargai orang lain.

Seperti ada penceramah yang ditolak masuk ke negara tetangga, karena dikawatirkan bisa mengganggu ketentraman dan kedamaian negara yang multiras, etnis dan agama.

Mereka itu kecil tetapi berani bertindak tegas demi melindungi semua warganya yang sudah hidup damai dalam keragaman.

Kalau kita membawa damai dan sejahtera, pasti orang akan menerima kita dengan sukacita.

Sebarkanlah damai dan kebaikan, maka kita akan punya banyak saudara dimana-mana.

Sirkuit Mandalika dekat pantai,
Menjadi viral ke seluruh dunia.
Mari kita hadir membawa damai,
Hidup aman dengan semua warga.

Cawas, jadikan aku pembawa damai…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here