Peta Jalan Memahami Pengutusan Awam melalui Buku “Pergilah, Kita Diutus”

0
636 views
Buku Hendro Setiawan berjudul "Pergilah Kita Diutus" terbitan PT Kanisius.

BUKU ini berjudul Pergilah Kita Diutus. Sebuah refleksi atas Pengutusan Awam Katolik di Masa Kini.

“Misa sudah selesai marilah kita pergi, kita diutus.”

Kalimat tugas pengutusan pada akhir Perayaan Ekaristi merupakan seruan Gereja dan  pembaharuan tugas pengutusan yang secara terus-menerus menjadi daya untuk “pergi dan berbuah”.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Keuskupan Agung Palembang, dalam Kata Pengantar buku itu mengatakan sebagai berikut.

Sebagai murid-murid Kristus, kita tidak boleh sekedar berpangku tangan menjadi penonton dalam kehidupan bersama kita.

Dunia membutuhkan orang-orang yang konsisten menyuarakan kebenaran seperti para nabi. Ini sebagai bentuk keterlibatan kita secara pribadi dan bersama dalam mengupayakan bonum commune di zaman ini.

Mengutip Septuaginta, Mgr. Yuwono bicara tentang nabi yang memiliki tiga makna: lokal, temporal dan fungsional. Dimaknai bahwa seorang nabi berbicara di depan orang lain, berbicara sebelum peristiwa terjadi dan berbicara atas nama pihak lain yakni Allah.  

Selain itu, Mgr. Yuwono juga memberi gambaran tentang fungsi para nabi yang melaksanakan tugas pengutusannya karena relasinya dengan Allah.

Nabi juga bertindak sebagai “corong” Allah, menghubungkan iman akan Allah yang Esa dan pengadilan-Nya dengan tuntutan keadilan sosial, pengadilan, dan penebusan serta kebenaran.

Teladan kenabian bisa ditemukan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pertanyaan reflektif yang kini menyertai adalah: Kalau Perjanjian Baru tidak menutup kenabian sesudah Kristus, lalu apakah orang-orang besar dalam sejarah dunia dapat juga disebut sebagai nabi?

Demikian tulis Mgr. Yuwono dalam pengantarnya.

Tulisan dengan gaya, bahasa, dan pendekatan awam

Buku Pergilah Kita Diutus -disertai dengan imprimatur dan nihil obstat– ditulis dengan gaya, bahasa dan pendekatan awam.

Buku ini berawal dari keprihatinan Hendro Setiawan -doktor filsafat alumnus STF Driyarkara Jakarta- dalam pelaksanaan sinode para uskup sedunia 2021-2023, justru tampak kesenjangan antara pemahaman awam secara umum tentang pengutusannya dan harapan Gereja lewat dokumen dokumen terkait.

Selain menulis buku ini, ia juga menulis buku Manusia Utuh (Kanisius: 2014) dan Awam, Mau Kemana? (Kanisius: 2016)

Membaca buku Pergilah Kita Diutus ibaratnya membaca dengan menyimak peta konsep yang hendak ditawarkan oleh penulis buku. Dengan demikian, pembaca bisa menangkap, memahami dan menghidupi seruan Gereja dalam memahami tugas pengutusan.

Kebingunganmenangkap pesan dan seruan “pergilah, kamu diutus” bisa terjawab dengan merunut pemahaman akan tugas pengutusan para nabi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; serta pengutusan dalam tradisi serta pengutusan zaman sekarang.

Satu hal yang tidak bisa hilang dari perutusan pewartaan Kabar Sukacita adalah peran Roh Allah yang menginspirasi Gereja lewat pengutusan-Nya.

Pilihan hidup di dunia masa kini

Melalui buku ini, penulis merefleksikan “memilih hidup di dalam atau di luar pengutusan dan di dunia masa kini”. Ia mendeskripsikan tugas pengutusan umat di tengah pilihan-pilihan yang ditawarkan zaman sekarang ini.

Faktor pemahaman akan sikap estetis, sikap etis dan sikap religius sangat berpengaruh pada kebijakan dalam mengambil pilihan hidup dan menerjemahkan tugas pengutusan yang diterima.

Panggilan pengutusan setiap individu berbeda-beda. Kendati demikian spiritualitas “kristiani” yang ditawarkan Gereja Katolik masih relevan dijadikan pedoman dalam menyikapi hidup secara konkrit di zaman sekarang.

Perjalanan waktu dari masa purba hingga masa kini dalam konteksnya masing-masing tetap menyelipkan karsa besar untuk kembali membangun peradaban yang lebih baik dan mewujudkan garam dan terang di zamannya.

Perjalanan pengutusan Gereja

Gereja dalam konteks pengutusan sebagai persekutuan umat Allah secara terus-menerus mengembangkan diri di bawah tuntunan Roh Kudus sesuai konteks zaman. Gereja selalu (dan) wajib menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil.

Buku ini mengajak pembaca mengenali pembaharuan Gereja berkaitan dengan peran awam dalam Dekrit Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem), pembaharuan tentang keterlibatan sosial Gereja dan pembaharuan tentang pengutusan.

Pada bagian ini, hal yang bisa menjadi catatan yang menyertai pembaharuan perutusan Gereja ditandai dengan hasil Konsili Vatikan II.

Tantangan pengutusan zaman sekarang

Ada beberapa topik refleksi penulis yang dirangkai dalam beberapa sub judul:

  • Hambarnya Sosial Politik.
  • Dunia Maya Medan Pengutusan Yang Baru.
  • Keluar Melayani Masyarakat.

Semua itu ingin mengajak pembaca untuk mengenali situasi zaman now dan tantangannya. Peran serta umat yang enggan terlibat dalam “dunia” politik; kuatnya peran  kemajuan teknologi dan dampaknya; kehendak untuk keluar melayani masyarakat dengan kesalehan yang disesuaikan dengan zaman sekarang.

Semua itu direfleksikan dan dipaparkan dalam buku ini.

“Panggilan pengutusan umat beriman masa kini di tengah masyarakat dilakukan dengan menginventarisasi masalah-masalah sosial masyarakat, mencari akar masalah, mencari nilai-nilai agama sebagai penangkalnya,” demikian tulis Hendro Setiawan (hlm. 158).

Dambaan pengutusan

Tiga bagian akhir buku Pergilah Kita Diutus memberi gambaran atau refleksi tentang “politik yang bermartabat”.

Itu membangkitkan kehendak di dalam diri pribadi umat beriman untuk mengambil bagian dalam tugas pengutusan; dimulai dari diri sendiri serta menjalani tugas pengutusan dan menyongsong “sukacita buah pengutusan”.

Buku ini memberi referensi untuk mendalami tugas pengutusan bagi awam. Sangat cocok bagi awam yang ingin mencari jawab dan menemukan “peta jalan pemahaman akan tugas pengutusan”

Secara pribadi dan sebagai katekis, saya memperoleh peta konsep yang menjadi pegangan untuk memahami makna “pergilah Kita Diutus”. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here