Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Memahami Tanda-tanda Zaman (Signa Temporum) 14B

0
2,512 views
Paus Johannes XXIII. (Ist)

Paus Yohanes XXIIIISTILAH “tanda-tanda zaman”, sebenarnya sudah sering dipakai di lingkungan teologi Katolik sebelum Konsili Vatikan II digelar.

Istilah ini mengacu pada sabda Yesus dalam Injil Mateus dan Lukas. “Pada petang hari, karena langit merah, kamu berkata : hari akan cerah ; dan pada pagi hari karena langit merah dan redup, kamu berkata : hari buruk. Rupanya langit kamu tahu membedakannya, tetapi tanda-tanda zaman tidak” (Mt 16:2-3).

Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini ? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar ?” (Lk 12:56-57).

Menjelang Konsili Vatikan II dibuka pada tahun 1962, Paus Yohannes XXIII menerbitkan dokumen resmi Humanae Salutis. Dalam dokumen yang diterbitkan tepat pada hari Natal tahun 1961 itu, Paus Yohannes XXIII juga mengutip kata-kata “tanda-tanda zaman” dari Mt 16:3 ini, dalam menegaskan salah satu alasan mengapa Konsili yang baru perlu diadakan.

Secara eksplisit, ada 4 dokumen Konsili Vatikan II yang mencantumkan istilah “tanda-tanda zaman” ini, yaitu

  • Presbyterorum Ordinis (Dekrit tentang Kehidupan para Imam) no.9
  • Apostolicam Actuositatem (Dekrit tentang Kerasulan Awam) no.14§2
  • Unitatis Redintegratio (Dekrit tentang Ekumenisme) no.4,
  • Gaudium et Spes (Konsitusi tentang Gereja dalam dunia modern) no.4.

Biasanya, kalau berbicara tentang tanda-tanda zaman atau signa temporum, dalam Konsili Vatikan II, para teolog mengacu pada GS no.4 ini.

Dikatakan di sana:  Untuk menunaikan tugas seperti itu, Gereja selalu wajib menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil. Demikianlah Gereja – dengan cara yang sesuai dengan setiap angkatan – akan dapat menanggapi pertanyaan-pertanyaan, yang di segala zaman diajukan oleh orang-orang tentang makna hidup sekarang dan di masa mendatang, serta hubungan timbal balik antara keduanya. Maka perlulah di kenal dan difahami dunia kediaman kita beserta harapan-harapan, aspirasi-aspirasi dan sifat- sifatnya yang sering dramatis”.

Setelah itu …

Setelah 50 tahun, pada Tahun Iman ini, kita pantas bertanya: Apakah signa temporum itu masih “berbunyi” dan berarti untuk kita? Apakah kita masih menjadi pribadi dan komunitas yang peka mengerti dan menangkap tanda-tanda zaman hic et nunc, kini dan di sini, di zaman kita hidup ini?

 

Dengan bantuan mesin pencari eyang Google (yang tidak beragama dan kiprahnya lintas suku, agama, ras dan golongan), kalau Anda mengetik kata-kata: tanda-tanda zaman, yang muncul adalah akhir zaman, zaman akhir, kiamat, munculnya Imam Mahdi, datangnya Ratu Adil, hancurnya dunia, pengadilan akhir, dan hal-hal yang bersangkutan dengan kedatangan Tuhan di akhir zaman nanti.

 

Hampir tidak ada satupun artikel yang berbicara mengenai tanda-tanda zaman yang dikutip dan dimaksudkan oleh Konsili Vatikan II, khususnya dalam konteks Gaudium et Spes.

Lain ceritanya kalau kita mengetik kata : signs of the times, les signes du temps atau i segni dei tempi. Dalam konteks bahasa dan budaya Eropa yang Katolik itu, tanda-tanda zaman masih dibicarakan dalam konteks yang tidak sekedar konteks “penampakan” pada akhir zaman saja.

Yang dipesankan oleh Konsili Vatikan II kalau berbicara mengenai tanda-tanda zaman, bukan hanya aspek masa depan, eskatologis, atau bahkan kiamat akhir dunia. Pada hemat saya, tentang tanda-tanda zaman para Bapak Konsili dalam Gaudium et Spes mengajak kita:

  • peka menangkap
  • pandai menafsirkan dalam terang Injil
  • mampu menjawab tantangannya di jaman sekarang
  • dan tekun mencari maknanya dalam hidup setiap hari
  • agar memahami harapan dunia ini.  (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here