Program Yesus dan Program Kita Sama: Kasih yang Membebaskan

0
205 views
Ilustrasi: Yesus mengutus para rasul mewartakan Kerajaan Allah by Vatican News

Minggu Biasa 3, C; 23 Januari 2022

  • Neh. 8:3-5a.6-7.9-11;
  • 1Kor. 12:12-14.27;
  • Luk. 1:1-4.4:14-21

HARI Minggu tanggal 23 Januari 2022 ini, kita memulai perjalanan hidup kita bersama Yesus. Berdasarkan Injil Lukas.

Sesudah Yesus mengalami kehadiran Roh Kudus di Sungai Yordan yang menegaskan bahwa Ia mempunyai tugas khusus. Maka, selanjutnya Yesus pergi ke padang gurun. Di padang gurun Yesus menghadapi godaan dan tantangan untuk melaksanakan tugas-Nya.

Sekarang pun, Yesus siap memulai karya-Nya; Yesus menyatakan program dan sikap-Nya: Ia menjelaskan siapa dirinya (Yang Diurapi, Mesias), kepada siapa Ia datang (“kaum miskin”, yakni orang-orang yang butuh Kabar Gembira).

Tiga tugas utama-Nya: Membuat orang dapat kembali kepada Tuhan (tadinya “tawanan” sekarang bebas) sehingga dapat memandangi kehadiran-Nya (tadinya “buta”) dan membuat hati dan pikiran orang lega (tadinya “tertindas”).

Dia itu pembawa berita gembira bahwa “Tahun Rahmat sudah datang”.

Tetapi Yesus tidak memulai karya-Nya secara hebat dan meriah. Ia mulai di kampung halaman-Nya sendiri, dalam ibadat rutin hari Sabat.

Kabar Gembira

Dan inti pesan-Nya adalah Kabar Gembira bagi sesama-Nya dalam hidup sehari-hari. Dan sepanjang karya-Nya, Yesus sebagian besar waktu-Nya ada bersama orang-orang sederhana dan membantu mereka dalam berbagai kebutuhan.

Di sisi lain, Lukas menulis Injilnya kepada Teofilus. Mungkin ini nama seseorang. Kata “Teofilus” berarti: pengasih Tuhan.

Jadi, dapat saja Injil ini ditulis bagi siapa saja yang mengasihi Tuhan, yaitu kita semua yang berkumpul di sini dan ingin mengasihi Tuhan; penerima Kabar Gembira dalam hidup sehari-hari.

Sebagai pengasih Tuhan, kita bukan hanya pendengar dan penerima Kabar Gembira, kita juga penerus dan penghadir Kabar Gembira kepada orang-orang biasa dalam hidup sehari-hari mereka.

  • Tetapi apa maknanya bagi kita?
  • Bukankah kesulitan tetap saja mendera kita?
  • Mana pembebasan yang dijanjikan Tuhan?
Ilustrasi – Bahu jadi tempat sandaran kasih by Pentax.

Kita seringkali berpola pikir: Tuhan harus menolong kita dari kesulitan yang kita hadapi. Jika tidak, itu artinya Tuhan tidak perduli.

Pikiran ini diteguhkan oleh apa yang kita baca dalam Injil:

  • Orang sakit datang, Yesus menyembuhkan mereka.
  • Orang lapar, Yesus membuat mukjijad perbanyakan roti.
  • Angin ribut di danau, Yesus menenangkan ombak.

Tetapi kita harus ingat, Yesus hanya selama tiga tahun berkarya. Juga, berapa orang yang mengalami pertolongannya secara langsung. Mungkin beberapa ribu orang.

Bagaimana dengan mereka yang tidak sempat bertemu Yesus dan baru percaya kepada-Nya sesudah Pentakosta?

Gereja yang muda langsung menjadi gerakan terlarang oleh Pemerintah Romawi dan banyak orang Kristen yang dikejar, ditangkap dan dibunuh.

Apa yang terjadi kemudian? Gereja semakin tumbuh dan berkembang.

Jadi, apa makna keselamatan dan pembebasan yang dijanjikan dan diberikan Yesus kepada kita?

Kita sering berharap agar orang atau kesulitan yang ada d isekitar kita diubah agar kita aman dan nyaman.

Tetapi, jika kita menyimak karya Yesus, tekanan selalu pada imanmu telah menyelamatkan engkau atau pergilah, jangan berdosa lagi, dsb.

Yesus menekankan perubahan dari dalam lebih penting daripada perubahan situasi fisik. Keselamatan dan pembebasan yang dijanjikan Yesus bukanlah pertama-tama tidak ada masalah, soal sudah dibereskan.

Yesus bukan manusia super yang datang untuk hilangkan masalah kita. Allah peduli adalah Allah yang membangkitkan harapan, Allah yang menunjukkan masih ada kesempatan.

Kita berhadap pandemi Covid-19 bisa selesai tahun ini.

Tapi, jelas bahwa tidak ada kepastian. Dan kesulitan hidup masih banyak.

Lalu, di mana keselamatan dari Tuhan?

Sering kali, kesulitan itu ada di dalam pikiran dan hati kita, bukan pada peristiwanya sendiri.

Pertapa suka anggrek

Ada seorang pertapa sangat menyukai bunga anggrek. Biasanya, selain memberi ceramah, waktu yang tersisa dipergunakannya untuk mengurus bunga-bunga anggrek yang ditanam di taman biara.

Pada suatu hari, ketika hendak pergi berkelana, dia berpesan kepada muridnya, harus hati-hati merawat pohon bunga anggreknya.

Selama kepergiannya, muridnya dengan teliti memelihara pohon bunga-bunga anggrek tersebut.

Namun, pada suatu hari ketika sedang menyiram pohon bunga anggrek tersebut, mereka tanpa sengaja menyenggol rak-rak pohon tersebut. Sehingga semua pohon anggrek berjatuhan dan pot anggrek tersebut pecah berantakan dan pohon anggrek berserakan.

Pensiun menikmati anggrek. (Ist)

Muridnya sangat ketakutan. Ia hanya dapat menunggu gurunya pulang dan meminta maaf sambil menunggu hukuman yang akan mereka terima.

Setelah pertapa pulang mendengar kabar itu, lalu memanggil para muridnya. Ia tidak marah kepada muridnya, bahkan berkata:

“Saya menanam bunga anggrek. Alasan pertama adalah untuk dipersembahkan di altar Sang Buddha, dan yang kedua adalah untuk memperindah lingkungan di biara ini.

Bukan demi untuk marah, saya menanam pohon anggrek ini.”

Perkataan pertapa sungguh benar, “Bukan demi untuk marah menanam pohon anggrek.”

Ia bisa demikian sabar, karena walaupun menyukai bunga anggrek, tetapi di hatinya tidak ada rasa keterikatan pada anggrek itu.

Sebab itu ketika dia kehilangan bunga-bunga anggrek tersebut, tidak menimbulkan kemarahan di dalam hatinya.

Sedangkan kita di dalam kehidupan kita sehari-hari, hal yang kita khawatirkan terlalu banyak, kita terlalu cemas dengan soal menemukan dan kehilangan, sehingga menyebabkan keadaan emosi kita tidak stabil.

Kita merasa tidak bahagia.

Maka seandainya kita sedang marah, kita bisa berpikir sejenak:

  • “Bukan demi marah saya bekerja.”
  • “Bukan demi marah saya melayani.”
  • “Bukan demi marah menjadi sahabat.”
  • “Bukan demi marah menjadi suami isteri.”
  • “Bukan demi marah melahirkan dan mendidik anak.”

Maka kita bisa mencairkan rasa marah. (Unknown: Bukan demi Marah Menjadi Manusia)

Terfokus hanya pada Yesus

Bersama Tuhan Yesus,  Ia tidak berpusat pada kesulitan dan godaan di padang gurun dalam memulai karyaNya.

Kita dapat menunjukkan bahwa masih ada cinta dan pengurbanan di tengah beban kesulitan dan kekecewaan hidup dan berhadapan dengan berbagai kesempatan untuk menang, mendapat untung dan menjadi ternama – yang menjadi dewa sembahan baru dalam masyarakat ini.

Tuhan Yesus sudah datang, tetap datang sekarang ini dan senantiasa akan datang untuk menawarkan kasih yang membebaskan itu.

Banyak orang mengikuti Yesus, by He Qi

Hidup kita tetap penuh kesulitan dan beban hidup.

Apakah hati kita sudah disentuh dan dibebaskan oleh kasih Allah itu?

Salah satu tanda bahwa hati kita sudah dibebaskan Allah ialah kita mampu melihat melampaui hidup dan persoalan kita sendiri saja.

Bersama Allah yang mendampingi kita dalam perjuangan kita, apakah kita juga sudah menjadi kesempatan bagi Allah untuk membagikan kebebasan dan kasih-Nya melalui kita?

Mari kita mohon agar program dan karya Tuhan Yesus terlaksana dalam diri kita dan melalui kita kepada dunia dan manusia disekitar kita. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here