Puncta 02.08.20 Minggu Biasa XVIII: Didi Kempot

0
234 views
Ilustrasi: Didi Kempot by Malang Voice


Matius 14:13-21

CORONA sungguh menghancurkan sendi-sendi kehidupan banyak orang. perekonomian lumpuh, banyak pengangguran, pariwisata, sekolah, tempat ibadah ditutup. Korban berjatuhan tidak hanya orang awam, tenaga medis, dokter banyak yang meninggal. Penderitaan dan beban hidup mencekik semua.

Tergerak oleh kesusahan banyak orang, prihatin dengan suasana mudik menjelang hari raya Idul Fitri tiba, Didi Kempot membuat konser amal dari rumah tanggal 11 April 2020 yang lalu.

Didi Kempot mengajak Sobat Ambyar dan banyak orang untuk berbagi dalam kesusahan karena virus corona. Antusias penonton luar biasa. Dalam waktu dua jam sudah langsung terkumpul 4 milyar rupiah.

Didi Kempot membagun rasa solidaritas warga. Di running text KompasTV ada yang menyumbang sepuluh ribu rupiah, duapuluh ribu, limapuluh ribu. Mereka adalah kaum kecil yang senang berempati dan tergerak hati untuk menolong.

Konser ditutup pukul 22.26 wib.

Donasi yang terkumpul sebesar 5.3 milyar rupiah.

Ini adalah warisan fenomenal seorang Didi Kempot. Tidak lama setelah itu, kita semua dibuat ambyar atas kepergiannya yang mendadak.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbelarasa dengan orang banyak yang mengikuti-Nya. Lima ribu fans menyertai-Nya, belum wanita dan anak-anak. Mereka kelaparan. Kata Yesus, “Kamu harus memberi mereka makan.”

Para murid mau lari cuci tangan, tidak mau bertanggungjawab untuk menolong mereka. “Suruhlah orang banyak itu pergi.” Mungkin kita juga begitu. Kalau ada masalah, kita lepas tangan dan tak mau direpotkan.

Tidak dengan Yesus.

Dia tergerak hati oleh belas kasihan melihat kesusahan mereka. “Tidak perlu mereka pergi.” Tetapi para murid masih mencari-cari alasan untuk menghindar. Mereka masih mengeluh dengan kekurangan. “Pada kami hanya ada lima roti dan dua ikan.”

Mengeluh atas kekurangan itu paling mudah. Tetapi tidak menyelesaikan masalah.

Yesus mengambil inisiatif. “Bawalah kemari.”

Ia mengucapkan doa syukur dan membagi-bagikan lima roti dan dua ikan itu kepada para murid untuk dibagikan kepada orang banyak. Bahkan kemudian sisa duabelas bakul. Kalau kita mengeluh, beban itu makin berat.

Tetapi kalau kita mau bersyukur, selalu ada jalan dan hidup menjadi penuh berkah. Ketika hidup disyukuri, terbuka lebar jalan dari Allah. Ketika mau berbagi, pertolongan datang tak terduga.

Didi Kempot mempraktekkan ajaran lima roti dua ikan. Bagi orang beriman Katolik, lima ditambah dua bukan tujuh, tetapi limaribu dan duabelas bakul.

Hidup itu harus disyukuri selalu. Lalu akan muncul anugerah berlimpah.

Jalan pagi dengar suara burung tekukur.
Tetap jaga jarak dan rajin cuci tangan.
Seberat apa pun hidup tetap ada syukur.
Jangan pernah mengeluh, Tuhan beri jalan.

Cawas, menunggu jadwal kuliah….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here