Puncta 09.03.21: Dendam Sejarah

0
175 views
Ilustrasi: Dendam. (ist)


Matius 18:21-35

TAHUKAH anda mengapa sebelum ini tidak ada nama Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk atau Jalan Majapahit di Tatar Sunda?

Sebaliknya juga tidak ada Jalan Siliwangi, Jalan Sunda, Jalan Pajajaran di wilayah Jawa Timur atau Jawa Tengah?

Belum lama ada Jalan Majapahit di Kota Bandung yang terletak di sisi barat Lapangan Gasibu. Sementara Jalan Hayam Wuruk mengganti nama Jalan Cimandiri yang ada di sisi barat Gedung Sate.

Pada 3 Oktober 2017, secara resmi nama Jalan Pajajaran, Jalan Prabu Siliwangi dan Jalan Majapahit dipakai untuk memberi nama Ring Road di Yogyakarta.

Untuk melanjutkan rekonsiliasi ini, pada 6 Maret 2018 diresmikan pula nama Jalan Sunda dan Jalan Prabu Siliwangi di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Sepanjang enam abad lebih tersimpan dendam kolektif yang diwariskan secara turun temurun. Hal ini diawali dengan peristiwa Perang Bubat tahun 1357.

Waktu itu, Hayam Wuruk sebagai raja muda di Majapahit ingin melamar Putri Pajajaran, Dyah Pitaloka. Gajah Mada diutus ke Pajajaran. Akhirnya disetujui rombongan Linggabuana dan Dyah Pitaloka pergi ke Majapahit.

Mereka membuat pesanggrahan di daerah Bubat.

Entah bagaimana duduk perkaranya, bukan perkawinan yang terjadi, tetapi mereka harus menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan kepada raja Majapahit.

Terjadi salah paham dan perdebatan tanpa ujung. Perang tak bisa dielakkan. Linggabuana dan para prajurit dibunuh. Peristiwa ini melekat sebagai dendam sejarah.

Gubernur Ahmad Heryawan waktu itu berkata, ”Penamaan jalan tersebut menjadi langkah awal rekonsiliasi antara Sunda dan Jawa. Ini merupakan langkah konkrit anak bangsa untuk semakin memperkuat harmonisnya kebhinekaan di NKRI.”

Dalam Injil hari ini, Yesus ditanya Petrus, “Sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Dendam sejarah bisa membelenggu suatu bangsa. Kita tidak bisa maju dan hidup rukun damai kalau selalu dihantui dendam kolektif.

Akan selalu muncul syak prasangka buruk, balas dendam tak berkesudahan.

Pengampunan dan rekonsiliasi harus dilakukan. Kita harus berani rendah hati dan jujur mengampuni.

Tindakan simbolik para gubernur di Jawa itu adalah upaya rekonsiliasi atas dendam sejarah yang berlangsung lama. Pengalaman masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk menatap masa depan bersama yang lebih baik sebagai suatu bangsa.

Indahnya matahari di waktu pagi.
Bersinar cemerlang bagai bidadari.
Mari kita terus dan terus mengampuni.
Biar hidup menjadi lebih heppi…

Cawas, terus menanti….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here