Puncta 15.12.19 Minggu Adven III: Aku Berharap PadaMu

0
168 views
Ilustrasi: Dokter tengah melakukan pemeriksaan pasien kesehatan (J. Widiantoro).

Matius 11:2-11


SAYA dulu mengikuti kuliah projek Teologi Harapan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari. Di situ kami menghadapi berbagai tipe orang yang sedang sakit.

Ada yang sakit ringan sampai yang tergolong berat. Dari ibu-ibu yang akan melahirkan sampai kakek-kakek yang hampir meninggal.

Mereka yang sedang meregang nyawa karena kecelakaan atau mereka yang sakit karena usia. Ada banyak sikap orang menghadapi penyakitnya.

Ada yang meronta, menolak, tidak terima dan protes kepada Tuhan, kenapa diberi penyakit seperti ini. Tetapi ada juga orang yang pasrah, menyerah, berharap ada penyembuhan dari Tuhan.

Biasanya orang pada awalnya menolak dan memberontak atau tidak menerima sakitnya. Tahap berikutnya menerima keterbatasannya dan tahap terakhir adalah pasrah penuh pengharapan.

Ketika orang sampai pada tahap pengharapan, mereka mengalami cepat sembuh. Pengharapan adalah kekuatan. Orang yang mempunyai pengharapan hidup untuk masa depan

Bacaan Injil hari ini mengungkapkan nuansa pengharapan itu. Yohanes Pembaptis mempunyai pengharapan bahwa Yesus yang hadir dan berkarya itu adalah Mesias yang telah dinanti-nantikan.

Yohanes menyuruh muridnya bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Di tengah kesedihan, kegalauan dan ketidakpastian, Yohanes Pembaptis mempunyai pengharapan kepada Yesus.

Dialah Mesias yang dinantikan. Dialah Juru Selamat yang dia siapkan datangNya.

Yesus tidak langsung menjawab. Tetapi Dia menunjukkan karya-karya Allah dalam diri orang buta yang melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, orang miskin mendengar kabar baik.

Itulah tanda nyata Allah yang hadir dan meraja.

Melalui karya Yesus, Allah hadir nyata di tengah-tengah manusia. Mendengar jawaban itu, kiranya Yohanes Pembaptis merasa lega. Dia telah menyiapkan jalan bagi kedatangan Almasih.

Yesus menjunjung tinggi Yohanes Pembaptis. Dia menghormati Sang Perintis Jalan.

Bagi Yesus, Yohanes lebih daripada nabi. “Aku berkata kepadamu, bahkan lebih daripada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: “Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau! Ia akan mempersiapkan jalan di hadapanMu.”

Yohanes Pembaptis dengan legawa mempersilahkan Yesus tampil ke depan. “Dia harus makin besar, dan aku harus makin kecil.”

Beranikah kita meniru Yohanes Pembaptis? Orang yang selalu mempunyai pengharapan dan optimis. Ia dengan rendah hati menyiapkan jalan bagi orang lain untuk menjadi besar.

Kuch Kuch Hota Hai digoyang merdunya
Nyanyi bersama dengan Dewi Kunti
Yohanes dicontoh karena rendah hatinya
Menyiapkan jalan bagi Sang Putera Ilahi

Cawas, minum degan sampai deg-degan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here