Refleksi Menuju Transformasi, Lokakarya Paradigma Pedagogi Reflektif Yayasan Kanisius Surakarta

0
389 views
Ilustrasi: Lokakarya bertema Paradigma Pedagogi Reflektif (PRR) bagi segenap guru di lingkungan Yayasan Kanisius Surakarta. (FX Juli Pramana)

NOTA Pastoral Pendidikan KWI tahun 2008 bertema Lembaga Pendidikan Katolik punya judul: Media Pewartaan Kabar Gembira, Unggul dan Lebih Berpihak kepada yang Miskin.

Paradigma Pedagogi Reflektif

Hal ini menjadi landasan Yayasan Kanisius sebagai lembaga pendidikan Keuskupan Agung Semarang untuk melaksanakan pembelajaran berpola PPR (Paradigma Pedagogi Reflektif).

  • PPR sebagai salah satu pola yang cocok digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan lembaga pendidikan Katolik.
  • PPR dipilih, karena di dalamnya “bertemu berbagai pendekatan ke arah pembelajaran yang berbasis nilai-nilai di dalam pengembangan kurikulum” secara utuh.

Perkembangan selanjutnya di era Kurikulum Merdeka pendekatan pembelajaran dengan memasukkan unsur refleksi seperti yang terdapat pada PPR saat ini di terapkan dalam Kurikulum Merdeka.

PPR untuk para pendidik

PPR memberi arah pendidik berinteraksi dengan murid, memahami pembelajaran, menyampaikan pertanyaan kepada para murid untuk memperoleh kebenaran, dan apa yang diharapkan dari pertumbuhan dan perkembangan murid.

Para pendidik punya tugas menciptakan terjadinya interaksi yang terus menerus antara pengalaman, refleksi, dan aksi dalam dinamika proses belajar mengajar.

Paradigma Pedagogi Ignatian

PPR tidak bisa dilepaskan dari PPI (Paradigma Pedagogi Ignatian), karena PPR dikembangkan dari PPI.

PPI didasarkan pada model pendidikan Ignatian. Inilah kekhasan pendidikan di sekolah Ignatian untuk membantu murid berkembang menjadi pribadi-pribadi bagi sesamanya (men and women for others) yang kompeten, memiliki hati nurani dan punya kepedulian (competence, conscience, compassion).

Direktur Yayasan Kanisius Cabang Surakarta Romo Joseph Situmorang SJ membuka lokakarya PRR untuk semua guru di lingkungan Yayasan Kanisius Cabang Surakarta. (FX Juli Pramana)

Lokakarya PPR Yayasan Kanisius Cabang Surakarta

Hari Sabtu, 9 September 2023 dan Sabtu 16 September 2023, di Aula Gereja Santo Antonius Padua Paroki Purbayan Solo telah dilaksanakan lokakarya PPR untuk Yayasan Kanisius Cabang Surakarta. Interaksi yang terus-menerus antara pengalaman, refleksi, dan aksi dalam dinamika proses belajar mengajar sesuai  Konteks Paradigma Pedagogi Reflektif dalam lokakarya ini semakin  diperdalam oleh para guru Kanisius.

Didampingi oleh narasumber  Drs. St. Kartono M.Hum – guru SMA Kolese de Britto Yogyakarta  sekaligus dosen Universitas Sanata Dharma dan penulis buku dan artikel media massa nasional yang produktif.

Program ini diikuti oleh sebanyak 115 guru yang dilaksanakan dalam dua kelompok.

  • Kelompok 1 Regio Klaten – Wonogori;
  • Kelompok 2 Regio Surakarta dan Karanganyar.
Menemukan motivasi luhur menjadi guru dan pendidik. (FX Juli Pramana)

Pengulangan kunci pengetahuan

Kepala Yayasan Kanisius Cabang Surakarta Romo Joseph MMT Situmorang SJ dalam kata sambutan pembukaan lokakarya  mengatakan, mendalami PPR merupakan langkah pengulangan sebagai kunci pengetahuan seperti ungkapan “repetitio mater scientiarum est”.

“Mengulang-ulang mempelajari PPR merupakan upaya pendalaman tentang PPR yang harapannya tidak menjadi sesuatu yang membosankan.

Paradigma Pedagogi Reflektif merupakan salah satu cara pendidikan yang dipilih Yayasan Kanisius sesuai misi visi Yayasan yaitu berpikir merdeka dan transformatif.

Pendidikan yang merdeka dalam pendampingan kaum muda terarah pada pendidikan yang merdeka dengan kemampuan berpikir dan berbuat refleksi,” kata Romo Joseph.

“Tanpa refleksi ibarat orang hanya memutar kran tanpa menemukan sesuatu yang baru. Melalui refleksi terbuka kemungkinan menemukan cara dan bentuk yang baru dalam pelayanan pendidikan,” ungkap romo.

Pengalaman praksis

St. Kartono mengawali pendampingannya dengan menceritakan pengalaman sebagai guru yang dijalaninya di Kolese de Britto dengan mengajak para guru melakukan refleksi: ”Demi apa menjadi guru dan demi siapa  menjadi guru?”

Selanjutanya peserta lokakarya diajak mempertegas jatidirinya dengan menjawab pertanyaan secara reflektif:

  • Apakah menjadi guru sebagai pilihan yang menggembirakan?
  • Sehingga secara personal bisa menjalani tugas sebagai guru dengan penuh kegembiraan dan mendatangkan “rahmat” bagi para murid?
Menjadi guru dan pendidik demi kemuliaan Tuhan yang semakin lebih besar. (FX Juli Pramana)

St. Kartono sebagai nara sumber yang dikenal sebagai guru kreatif dan  mendapat penghargaan “Anugerah Guru Merdeka”. Diberikan oleh Mendikbudristek RI Nadiem Makarim pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2022; berkat tulisannya yang menginsipirasi dan memotivasi dengan judul Guru (Mestinya) Selalu Mau Belajar.

Kartono memberi pendampingan lokakarya dalam tiga bagian:

  • Sesi 1: Menjadi Guru Reflektif.
  • Sesi 2: Menghidupi PPR.
  • Sesi 3: Percakapan tiga putaran tentang pengalaman guru jalani PPR di sekolah.

Menurut Kartono, menjadi guru reflektif merupakan proses pengenalan dan pencarian serta penemuan diri seorang guru dalam proses menggeluti visi spiritualitas guru.

Proses “Aku Moh Dadi Guru, Aku Milih Dadi Guru, Aku Mengajar Dengan Gembira, Aku Mantep Dadi Guru hingga Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG) Demi Kemuliaan Allah yang lebih besar” menjadi tahapan terus-menerus; merupakan pengulangan kembali serta peneguhan yang perlu dilakukan guru dalam konteks Paradigma Pedagogi Reflektif.

Program Paradigma Pedagogi Reflektif (PRR) yang semakin dipraktikkan oleh para guru di lingkungan kerja Yayasan Kanisius. (FX Juli Pramana)
Model pendidikan dengan mempraktikkan Paradigma Pedagogi Refleksi (PPR)

Mengubah diri

Proses secara terus menerus merefleksikan diri sebagai guru harapannya memberikan perubahan (transformasi): mengubah diri, mengubah siswa dan mengubah situasi dalam dunia pendidikan.

Pada sesi kedua menghidupi PPR, Kartono mengajak para guru untuk selalu  mengatasi tantangan menjadikan anak didik sebagai pribadi yang sungguh manusiawi dan utuh.

“Konteks pengalaman, refleksi, aksi, evaluasi harus menjadi pola mendidik dalam sekolah. Murid diajak masuk mengenali dirinya, lingkungan sekolahnya dan situasi yang ada di tengah masyarakat agar berani menyuarakan suara hati dan kebebasan.”

Sesi ketiga diskusi tiga putaran peserta lokakarta berdiskusi, mendengarkan pengalaman ber-PPR dari peserta lain dan dari sekolah lain.

Pada akhir kegiatan, Kartono memberi catatan peneguhan pola refleksi, examen atau pengolahan batin menjadi kekuatan warisan Ignatian yang jika dijalankan secara taat akan memberi daya transformasi seperti yang tertuang dalam visi Yayasan Kanisius: “Komunitas pendidikan yang transformatif dan menumbuhkan kemerdekaan berpikir demi terwujudnya sekolah yang unggul, peduli, dan melayani.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here