Renungan Harian 13 Juli 2020: Formalisme

0
296 views
Ilustrasi - Mobil parkir berdempetan by ist

Bacaan I: Yes. 1: 11-17
Injil: Mat. 10:34-11:1
 

BEBERAPA tahun yang lalu, sehabis merayakan ekaristi malam Natal, kami para pastor dan beberapa umat kumpul di pastoran untuk makan malam. Kami semua bergembira, karena dua kali perayaan ekaristi malam natal berjalan dengan lancar.

Seperti biasa pada hari besar jumlah umat yang mengikuti Perayaan Ekaristi begitu banyak. Akan tetapi, semua dapat ikut Perayaan Ekaristi dengan duduk dan tenang.
 
Belum sempat saya duduk untuk ikut makan, datang karyawan memberitahu bahwa ada umat yang bertengkar di lapangan parkir.

Saya segera menuju lapangan parkir, dan keributan masih berlangsung, bahkan sempat adu jotos.

Saya mencoba melerai tetapi dua-duanya ngotot merasa tidak bersalah. Tetapi kemudian dengan susah payah dapat dilerai dan bubar.
 
Persoalannya adalah soal parkir. Satu pihak ingin cepat keluar tetapi mobilnya terhalang mobil depannya, sedang mobil di depan tidak segera keluar karena masih menerima salam Selamat Natal.

Satu pihak yang ingin cepat pergi membunyikan klakson terus menerus dengan  keras. Pihak yang lain menegur. Pihak yang ditegur tidak terima maka terjadi keributan.
 
Keributan seperti di atas sering terjadi di gereja. Orang pulang gereja, bukan menjadi lebih damai, tetapi malah mengumbar kemarahan dan menimbulkan kemarahan. Padahal di akhir Perayaan Ekaristi, imam mengatakan: “Pergilah, wartakanlah damai dan cinta kasih Allah.”

Belum juga keluar dari halaman gereja, damai dan kasih sudah hilang.
 
Bukankah ketika aku mengikuti Perayaan Ekaristi, aku mengambil bagian dalam persekutuan gereja, dengan menerima Tubuh Kristus aku dipersatukan dengan Kristus sebagai kepala dan Gereja sebagai tubuhNya?

Bukan dengan menerima Tubuh Kristus aku mengambil bagian dalam perutusan Kristus, untuk mewartakan damai dan kasih?
 
Pertanyaan besar adalah untuk apa aku mengikuti Perayaan Ekaristi dan apa yang aku dapatkan dengan Perayaan Ekaristi?
 
Jangan-jangan aku mengikut Perayaan Ekaristi hanya sekedar memenuhi kewajibanku sebagai orang Katolik, jadi tidak peduli dengan segala hal. Pokoknya, kewajibanku sudah terpenuhi. Atau jangan-jangan aku mengikuti Perayaan Ekaristi sebagai topeng untuk menutupi kedokku.
 
Kiranya kritik Nabi Yesaya pada umat Israel adalah kritik untukku juga: “Aku akan memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kalian berdoa berkali-kali, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here