Renungan Harian 5 Juni 2020: Pilihan

0
290 views
Ilustrasi - Pilihan by ist

PW St. Bonifacius, Uskup dan Martir

  • Bacaan I: 2Tim. 3: 10-17.
  • Injil: Mrk. 12: 35-37.

DALAM adegan goro-goro di sebuah lakon wayang kulit, ada dialog antara Semar dan anak-anaknya. Dialog ini aslinya dalam bahasa Jawa yang saya terjemahkan bebas.

Bagong: “Pak, apakah hidup sebagai orang baik dan benar itu harus menderita?”

Semar: “Heeeeh anakku kenapa kamu tanya begitu?”

Bagong: “Itu buktinya, bendoro-bendoro kita Pandawa, hidupnya benar dan baik, tetapi selalu mengalami penderitaan yang seolah tanpa henti. Apakah memang takdir dan kodratnya orang baik dan benar itu menjadi orang menderita.”

Semar: “Anakku, orang baik dan benar menjadi orang yang menderita itu bukan takdir dan kodrat ya nak ya.”

Bagong: “Lho nyata di dunia itu begitu kok Pak?”

Semar: “Heeeeh anakku jangan mencampur aduk. Harus dipilah-pilah. Pertama hidup menjadi orang baik dan benar itu adalah pilihan. Jadi kamu boleh memilih mau jadi orang baik atau tidak , benar atau tidak. Tidak ada yang bisa memaksakan. Setiap orang punya kebebasan ngger (nak) untuk memilih.”

Bagong: “Terus hubunganya dengan menderita?”

Semar: “Heeeh orang kok gak sabaran. Penderitaan itu konsekuensi dari pilihan untuk menjadi orang baik dan benar. Ketika tatanan masyarakatnya amburadul cenderung tidak baik dan tidak benar maka orang yang memilih menjadi baik dan benar itu menjadi terasing ngger. Keterasingan itu yang menyebabkan penderitaan.

Orang baik dan benar yang hidup dalam tantanan yang amburadul, penderitaan itu seperti bayangan. Selama orang itu ada di tempat yang terang bayangannya selalu ada dan mengikuti, tetapi kalau dia dalam gelap ya gak ada bayangannya lagi. Paham ngger?”

Bagong: “He… he…”
 
Mengikuti Yesus adalah sebuah pilihan dengan konsekuensi menderita. Seperti kata St. Paulus kepada Timotius: “Setiap orang yang mau hidup saleh dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”.
 
Pilihan hidup mengikuti Kristus tidak harus menderita dan juga belum tentu menderita. Akan tetapi bila penderitaan itu hadir sebagai konsekuensi mengikutiNya, apakah aku siap dan sanggup?

Pilihan ada dalam kebebasanku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here