Sabar Menjalani Proses

0
344 views
Ilustrasi - Terapi fisik untuk pulihkan kinerja tubuh. (Ist)

Puncta 15.02.23
Rabu Biasa VI
Markus 8: 22-26

KETIKA ada rasa nyeri di punggung akibat terpeleset dan jatuh terduduk, saya memeriksakan ke dokter. Saya diminta pemeriksaan melalui CT scan untuk melihat jaringan-jaringan lebih rinci tentang pembuluh darah, syaraf, tulang ,dan yang lainnya.

Dari hasil CT scan bisa ditemukan ada syaraf yang terjepit. Dokter kemudian menyarankan agar dilakukan tindakan terapi.

Saya harus menjalani terapi selama delapan kali dengan penyinaran di punggung sebagai proses penyembuhan.

Walaupun harus bolak-balik selama dua bulan ke rumah sakit, tetapi proses ini harus dijalani dengan sabar dan tekun. Tidak serta merta langsung sembuh, tetapi penyembuhan dijalani secara bertahap.

Kalau penyakitnya serius atau parah, bisa jadi prosesnya membutuhkan waktu lama.

Sabar dan percaya mengikuti proses penyembuhan itulah yang bisa kita lakukan. Sabar dibutuhkan untuk menguatkan diri sendiri. Percaya bahwa Tuhan sedang berkarya memberikan penyembuhan melalui tangan-tangan para tenaga medis itu akan menambah proses pemulihan kita.

Dalam kisah penyembuhan yang kita baca dari Injil hari ini, Yesus melakukan beberapa tahap untuk menyembuhkan orang buta itu.

Pertama, orang buta itu dipisahkan dari orang banyak. Kita membawa orang sakit ke rumah sakit untuk menjalani proses penyembuhan. Selain tidak ada alat medis di rumah, orang sakit perlu dirawat secara khusus di rumah sakit.

Kedua, ada beberapa tahap yang dibuat Yesus. Sering kita mendengar Yesus langsung menyembuhkan si sakit. Kali ini Yesus mengajak orang buta ini mengalami sapaan Tuhan.

Dari samar-samar dapat melihat seperti pohon-pohon berjalan, sampai ia mengenali Tuhan dengan jelas.

Setelah disembuhkan, Yesus minta orang itu pulang ke rumah tanpa harus memberitahu semua orang di kampungnya.

Kadang kita sering “pamer” kalau sudah disembuhkan. Kalau doa kita dikabulkan, kita tergoda untuk bercerita kepada semua orang. Kita lebih suka pamer kesuksesan, bersaksi kemana-mana tentang keberhasilan diri sendiri.

Yang mestinya kita lakukan semestinya bagaimana Tuhan berkarya pada kita, bukan hasil yang kita peroleh, agar kita mendapat sanjungan atau pujian. Tuhanlah yang semestinya dipuji dan dimuliakan, bukan kita.

Yang dikehendaki Tuhan bukan pameran kesuksesan atau keberhasilan, tetapi iman yang berubah.

Pertobatan hidup menuju yang lebih baik itulah yang harus terus diperjuangkan dan dijalani.

Tidak perlu memamerkan hasil untuk kesombongan diri sendiri. Yesus meminta orang itu pulang ke rumah, menjalani hidup baru dengan semangat pertobatan karena telah berjumpa dengan Tuhan.

Maukah kita dengan rendah hati mengalami perubahan diri jika kita disembuhkan, dikabulkan doa-doa kita?

Hati-hati jika kita tergoda untuk menyombongkan diri karena mendapatkan anugerah dan mukjijat Tuhan.

Malam-malam gelap diguyur hujan,
duduk di rumah sambal menikmati kopi.
Jika doa-doa kita belum dikabulkan,
Tuhan sedang mendidik kita untuk rendah hati.

Cawas, sabar dengan proses …

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here