Sebelum Nikah, Sedikit Kenang Masa Silam yang Nakal

0
374 views
Ilustrasi - (Ist)

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Selasa, 18 Januari 2022.

Tema: Sejenak bergembira.

Bacaan.

  • 1 Sam. 16: 1 – 13.
  • Mrk. 2: 23 -28.

MASA kanak-kanak adalah masa bahagia.

Mereka belum peduli, apakah itu benar atau tidak; pantas atau tidak;  bermoral atau tidak. Yang penting mereka bisa sejenak keluar dari kungkungan rumah dan bermain bersama teman sebaya.

Apalagi di paroki  yang cukup besar dan welcome. Setiap umat bebas datang. Anak-anak bebas pula bermain di sekitar paroki.

Kadang, romonya memberi sesuatu.

20 tahun berselang, seorang pemuda ingin melangsungkan pernikahan mereka.

Kebetulan calon pengantin perempuan berada di paroki saya. Segala urusan dipersiapkan. Mulai kursus perkawinan, kanonik, dan perayaan Sakramen Perkawinan mereka.

Pada awalnya saya tidak begitu “ngeh” dengan calon mempelai laki-laki.

Ketika mereka mendaftarkan diri ada sedikit pembicaraan.

Berkas-berkas sudah masuk kira-kira sebulan sebelum kanonik. Saya pelajari.

Ada sesuatu yang menarik.

Rasanya, saya sedikit mengenal keluarga calon mempelai laki-laki, tetapi saya agak  lupa. Samar- samar dan ragu-ragu.

“Romo, kenalkan saya berasal dari kota A. Kami berencana berkeluarga.”

“Iya, baiklah. Saya kenal keluarga calon mempelai perempuan pasanganmu.”

“Perihal dirimu, bagaimana?”

“Bapak dan ibu juga aktif di paroki. Bapak-ibu titip pesan untuk Romo.”

“Kenal ta? Dimana ya?”

“Dulu saat masih frater, kan romo pernah berpastoral di paroki kami.”

Saya mengingat-ingat dan mulai sedikit dapat menerka-nerka.

Lalu dia meneruskan pembicaraan.

“Romo lupa ya. Saya memang berubah agak drastis. Fisik saat kecil dengan keadaan sekarang banyak orang agak sulit mengenali.

Selesai akademi, saya bekerja di luar negeri. Cukup lama. Saya pulang melanjutkan pekerjaan di sini dalam perusahaan yang sama. Mereka membuka cabang di Indonesia

Romo, ingat nggak ada misdinar yang sering mengambil mangga pastoran. Bahkan menjadi bahan pembicaraan umat dan para pastor.

Beberapa misdinar dicap agak “nakal”. Kadang dihukum oleh romo paroki.”

“Saya mulai mengingat-ingat beberapa misdinar yang energik. Bahkan di luar tugas mereka. Saya mulai tersenyum-senyum mengingat kenakalan kecil mereka pada waktu itu.

Waktu itu, saya diminta untuk mendampingi misdinar. Saya juga pernah ikut menghukum mereka.

Saya berkunjung ke rumah orang tua mereka. Memberi tahu kelakuan anak-anak mereka. Orangtua malu dan memarahi mereka.

Namun dalam perjalanan waktu lalu kami berbicara baik-baik dan hasilnya sungguh sangat mengagumkan.

Lima anak misdinar yang agak nakal itu kami minta menjaga empat pohon mangga di paroki. Mereka boleh mengambil kalau sudah matang.

Mereka dapat bagian 10%. Romo paroki adalah penentu “matang” dan saat panen.

Lalu ada tulisan di setiap pohon mangga. “Silakan mengambil buah mangga, jika matang. Kematangan dan saat panen dan dibagi kepada umat, romo paroki yang menentukan.”

Warta sukacita itu itu diumumkan di dalam Gereja.

Tidak tahu sebab apa, umat sampai tersenyum dan kemudian bertepuk tangan.

Rupanya sudah menjadi refren negatif bahwa pohon mangga di pastoran ada penunggunya. Tidak tahu kapan buahnya menghilang.

Setiap siang sampai sore, kelima anak ini main di pastoran. Kebetulan ada aktivis berprofesi sebagai guru. Beliau mau memberi pelajaran tambahan.

“Saya salah satu pentolannya romo,” akunya sambil malu-malu.

 “Oh… kamu to. Kami pun ketawa sejenak.”

“Ih… mas senenge nyolongan wiwit cilik,” timpal sang calon mempelai perempuan. “Pantesan aja,” ungkapnya manja

“Sekarang kamu juga mencuri hati calonmu,” kataku.

Mereka tersenyum.

Kenakalan-kenakalan masa kecil kadang memberi kenangan dan tawa. Indahnya masa kecil.

“Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.” ay 23.

Tuhan, Engkaulah yang memelihara hidup kami. Merancang masa depan kami. Kami bersyukur kepada-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here