Sisters in Solidarity Berang, Tuduhan Pemerkosaan Uskup atas Suster Biarawati Gugur di Pengadilan

0
332 views
Protes kaum perempuan India dan suster biarawati atas kasus tudahan perkosaan yang dilakukan Uskup Mgr. Franco terhadap seorang suster biarawati (AFP via India Matters)

BUKTI forensik oleh pengadilan dianggap kurang memadai. Akibatnya, tuduhan massif terhadap uskup -tersangka kasus pemerkosaan seorang suster biarawati di India- lantas gugur demi hukum.

Ini memicu kemarahan publik dan para suster biarawati di India. Mereka lalu melayangkan surat protes kepada “KWI” India. Minta agar perlindungan dan keamanan terhadap kaum perempuan -termasuk para suster biarawati- agar tetap dijamin.

Agar kaum perempuan bebas dari jerat perangkap predator seksual; termasuk yang dilakukan oleh kaum berjubah dan tanpa kecuali uskup yang menyasar suster biarawati sebagai korban.

Seruan protes itu disuarakan oleh Sisters in Solidarity di Negara Bagian Kerala, India, menyikapi keputusan pengadilan lokal yang membebaskan Uskup Mgr. Franco Mulakhal (57) dari Keuskupan Jalandhar dari segala tuduhan telah memperkosa seorang suster biarawati.

Sejak kasus tuduhan perkosaan mencuat ke publik disertai protes oleh para suster dan kaum perempuan lainnya, Vatikan langsung menonaktifkan Mgr. Mulakhal.

Surat protes Sisters in Solidarity itu ditujukan kepada Uskup Mgr. Agnelo Gracias yang kini menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Jalandhar.

Kaum perempuan dan suster biarawati gundah

Yang pasti, surat protes itu berisi ungkapan kegundahan dan kekecewaan kaum perempuan dan suster biarawati atas keputusan pengadilan.

Juga berisi reaksi dari sejumlah organisasi gerejani yang mengaku super kuciwa dengan putusan pengadilan.

“Narasi yang mengatakan bahwa keputusan pengadilan itu sebagai ‘kemenangan Gereja’ sungguh menyesakkan hati,” demikian antara lain bunyi pernyataan protes ini sebagaimana dirilis oleh LiCas.News mengutip India Matters yang dirilis hari Selasa tanggal 18 Januari 2022.

“Apakah suster korban perkosaan itu sudah kalian anggap sebagai bukan anggota Gereja lagi?” demikian antara lain ungkapan protes Sisters in Solidarity.

Para pemrotes menyatakan betapa mereka kecewa melihat kaum perempuan begitu saja mudah dilecehkan oleh kaum berjubah dalam Gereja Katolik.

Berbagai alasan

Protes mereka ini bisa dimengerti, karena beberapa hal berikut ini.

  • Suster yang dianggap sebagai korban perkosaan dan kolega suster dalam tarekat yang sama langsung dicuekin oleh otoritas Gereja Lokal (baca: Keuskupan Jalandhar) begitu kasus ini mencuat ke publik.
  • Pemimpin Komunitas St. Francis Mission Home of the Missionaries of Jesus di Kuravilangad langsung dibebastugaskan dan disuspensi, setelah ikut melancarkan gugatan hukum melawan Uskup Mgr. Mulakhal.

Sister in Solidarity juga mencemaskan keselamatan Sr. Lissy Vadakkel, seorang suster biarawati Klaris, karena dia menjadi saksi penting di balik kasus skandal perkosaan yang melibatkan seorang uskup dengan korbannya seorang suster biarawati.

“Kami ikut bersimpati dengan Sr. Lissy yang akhir-akhir ini kesehatannya memburuk. Kami sangat prihatin bahwa beliau kini mengalami pengucilan dari komunitasnya,” demikian Sisters in Solidarity dalam pernyataannya.

Kopi surat mereka juga telah dikirim ke Ketua “KWI” India Oswald Cardinal Gracias dan Konferensi Religius India.

“Kami sungguh berharap agar Gereja sensitif peduli terhadap penyintas dan para koleganya agar tetap menjaga keselamatan dan martabat mereka di saat yang sangat sulit ini atas nama keadilan, belarasa, dan reksa pastoral sebagaimana dulu Yesus selalu mempraktikannya (terhadap kaum perempuan lemah seperti pelacur-red.),” demikian antara lain bunyi surat protes tersebut.

Sumber: India Matters, LiCas.News.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here