Sopir Tembak

0
241 views
Ilustrasi - Sopir.

Renungan Harian
Sabtu, 6 November 2021
Bacaan I: Rom. 16: 3-9. 16. 22. 27
Injil: Luk. 16: 9-15
 
SEORANG teman mengeluh tentang sopirnya. Pada awal bekerja, sopir itu amat baik, orangnya sopan, rajin, mengendarai mobil dengan aman dan nyaman dan merawat mobil dengan baik.

Setelah masa percobaan, maka teman saya memutuskan untuk mengangkat sopir itu menjadi sopir tetap bagi dirinya dan keluarganya. Sopir itu mendapatkan gaji yang cukup besar untuk ukuran sopir pribadi keluarga.

Sopir itu mengucapkan banyak terima kasih karena diterima kerja dan mendapatkan gaji yang cukup besar.
 
Sopir itu berasal dari luar kota, dan keluarganya tinggal di luar kota. Dia tinggal ngontrak satu kamar untuk dirinya.

Dua pekan sekali dia mendapatkan libur Sabtu-Minggu agar bisa menengok keluarganya yang ada di kampung. Hal yang baik, meski pulang kampung, Senin pagi dia sudah kembali bekerja dan tidak pernah terlambat.

Karena sopir ini baik dan rajin maka teman saya memberi tawaran agar keluarganya dibawa ke kota ini dan sopir ini boleh menempati satu rumah kecil milik teman saya.

Sopir ini amat gembira karena bisa berkumpul dengan keluarganya. Dia semakin gembira karena anak-anaknya yang sekolah dibiayai oleh teman saya. Selain itu dia juga mendapatkan pinjaman sepeda motor untuk berangkat kerja.
 
Dalam perjalanan waktu, sopir ini beberapa kali minta izin dengan alasan menengok keluarganya di kampung yang sedang sakit.

Namun karena sering minta izin, teman saya menjadi curiga, sehingga mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ternyata sopir ini menjadi “sopir tembak” untuk keluarga lain yang membutuhkan jasanya. Tentu saja teman saya marah dengan kelakuan sopir itu.

Teman saya menegur dengan keras dan memberi pilihan tetap bekerja dengannya atau mau menjadi “sopir tembak”.

Sopir itu minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Akan tetapi setelah beberapa bulan kejadian itu berulang.
 
Teman saya memutuskan untuk mengakhiri memperkerjakan sopir itu. Karena sudah tidak bekerja sebagai sopir pribadi keluarganya, maka kendaraan dan rumah diminta kembali.

Sopir itu memohon-mohon agar jangan dikeluarkan, bahkan mengajak keluarganya untuk memohon agar tetap diperkerjakan. Teman saya mengatakan bahwa dirinya sudah diberi kesempatan untuk memilih dan ternyata sopir itu tetap melakukan kesalahan yang sama hanya sekedar untuk mendapatkan keuntungan sesaat.

Sopir itu lupa bahwa apa yang selama ini diterima jauh lebih besar dan berharga dari pada keuntungan sesaat sebagai sopir tembak.
 
Dalam hidupku sehari-hari, aku sering berlaku seperti sopir itu. Aku sudah mengalami dan menikmati banyak rahmat tetapi sering kali melupakan rahmat yang begitu melimpah dengan mencari keuntungan-keuntungan sesaat.

Akibatnya, aku kehilangan rahmat yang lebih berguna bagi hidupku. Ketekunan dan kesetiaan menjadi perjuangan terus menerus dalam peziarahan hidupku.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Lukas:

“Seorang hamba tidak mungkin mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain; atau ia akan setia kepada yang seorang, dan tidak mengindahkan yang lain.”
 
Bagaimana dengan aku?

Apakah aku setia dan tekun mengabdi Allah?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here