Sr. Carolie Hartati CB, Merintis Karya Tarekat di Amerika dan Civita Youth Camp KAJ (1)

2
331 views
RIP Sr. Carolie Hartati CB (84), perintis karya misi Kongregasi Suster CB di Amerika Serikat dan ikut merintis berdirinya Civita Youth Camp KAJ. (Titch TV/Mathias Hariyadi)

BUTUH waktu sedikit “panjang” untuk bisa “menarik hati” Sr. Carolie Hartati CB (82) untuk bersedia bicara banyak. Terutama tentang masa lampau.

Karena, kata suster biarawati Kongregasi Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB) ini, “Saya ini sekarang sudah pikun. Banyak hal sudah lupa.”

Namun, berkat daya persuasif dua suster muda CB – Sr. Franchine CB dan seniornya Sr. Birgitta CB- akhirnya Sr. Carolie Hartati CB bisa kami “geret” ke sudut pekarangan Biara Santa Anna Jl. Colombo, Kota Yogyakarta.

Untuk keperluan syuting dan wawancara. Misinya adalah “menguak” kisah sejarah panggilan hidup membiara Sr. Carolie Hartati CB dan sejarah karya Kongregasi yang pernah dia tangani selama masih aktif berkarya di tahun-tahun masa silam.

Merintis karya tarekat di Amerika, tinggal selama delapan tahun di Memphis

Sr. Carolie Hartati CB sungguh tak pernah menyangka, kalau sekali waktu Kongregasi mempercayakan tugas tidak ringan. Yakni, untuk merintis karya tarekat CB di Amerika Serikat.

“Lokasi biara kami berada tidak jauh dari bandara. Tepatnya di Silber Spring, Memphis, Philadelphia,” ungkap Sr. Carolie Hartati CB menjawab Titch TV yang dibantu kedua suster CB yang mendampingi kami saat berlangsung interpiu ini.

Masuk biara CB tahun 1960, ditentang keras oleh ibunda

Sr. Carolie Hartati CB masuk biara tahun 1960. Semula, ibunya sangat menentang keras kemauan anaknya masuk jadi suster CB, sekalipun dia anak perempuan nomor 10 dengan delapan orang puteri dan empat lelaki saudara kandung.

Bahkan, terhadap nasihat Mgr. Albertus Soegijapranata SJ yang mendorong Hartati masuk biara, Ny. Hadiwijono berani “menantang” Uskup pribumi pertama Indonesia ini. “Lah yang punya anak kan saya,” kata sang ibu “melawan” uskup.

Diskusi pendidikan di rumah keluarga

Yang menarik, Pak Hadiwijono selaku tokoh pendidikan di Kota Yogyakarta sering kali menjadi “sumber berita” bagi para imam Jesuit di Kolese de Britto dan para suster berbagai tarekat di Kota Gudeg ketika mereka diskusi tentang pendidikan.

“Bapak saya termasuk murid generasi awal didikan Romo van Lith SJ di Kolese Muntilan,” tutur Sr. Carolie CB yang mulai “ingat kembali” sejarah masa silamnya.

Sejauh masih bisa mengingatnya, tukasnya lebih jauh, rumahnya di Kotabaru Yogyakarta, sering kali menjadi tempat diskusi bagi Mgr. Albertus Soegijapranata, para imam Jesuit dan para suster berbagai tarekat manakala bicara tentang urgensi mendirikan sekolah-sekolah Katolik di Kota Gudeg tersebut.

“Sekalipun, bapak malah lebih terlibat mendirikan sekolah negeri pasca Perang Kemerdekaan di Yogyakarta,” paparnya tenang.

Tentang berdirinya sekolah Katolik di Yogyakarta, sejarah mencatat seperti ini. Pada tanggal 1 Agustus 1939 dibukalah sekolah MULO secara resmi yang telah dirintis oleh Moeder Suster Laurentia CB dan Sr. Catharina Liedmeier CB.

“Saya sendiri ini hasil produk didikan para suster CB; sejak dari SMP, SMA Stella Duce, dan kemudian kuliah di IKIP Sanata Dharma masih juga ketemu suster CB yang mengajar di perguruan tinggi Katolik milik Jesuit ini,” jawab Sr. Carolie CB.

Jadilah wajar, kata dia, “Kalau kemudian saya masuk biara CB.”

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here