Tahbisan Uskup Ruteng dalam Bayang-bayang Coronavirus, dan Hujatan yang Mengikutinya

45
12,731 views
Prosesi misa tahbisan Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat by WA

PADA hari Kamis tanggal 19 Maret 2020 ini telah berlangsung lancar prosesi misa tahbisan Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat di Gereja Santo Yosef, Ruteng, Manggarai, Flores, NTT.

Sepanjang tahbisan dan sesudahnya, lalu muncul berbagai hujatan atas peristiwa misa tahbisan uskup tersebut.

Semua berujung pada pertanyaan sekaligus imbauan: Mengapa tidak dibatalkan atau ditunda saja sampai kondisinya kondusif? Artinya, boleh tetap dilaksanakan –entah kapan— asalkan ketika wabah virus mematikan coronavirus sudah mulai reda.

Apalagi, pandemi global atas serangan coronavirus alias Covid-19 itu hingga kini masih membabibuta di kawasan Eropa. Utamanya di Italia yang di hari Kamis (19/3/2020) ini sudah “makan korban” tewas hampir menyentuh angka 3.000-an jiwa.

Perancis, Spanyol, dan tentu saja Italia sudah memberlakukan kebijakan lockdown untuk meredam sebaran coronavirus. Warga diimbau tinggal di rumah, menjauhi keramaian, dan sebaiknya –kalau bisa—bekerja melalui jaringan nirkabel. Semuanya dikerjakan dari rumah saja.

Tiba-tiba saja hari Kamis ini pula ada “berita” bahwa pemerintah melalui Kepala BNPB Letjen Doni Monardo telah mengirim surat kepada Ignatius Kardinal Suharyo.

Dalam suratnya itu yang wujud aslinya tidak pernah muncul di medsos, mantan Danjen Kopassus dan Panglima Kodam Pattimura itu meminta Kardinal Suharyo –dengan pengaruhnya yang kuat di dalam Hirarki Gereja Katolik di Indonesia—agar misa tahbisan Uskup Keuskupan Ruteng itu sebaiknya –paling tidak– bisa dibatalkan diselenggarakan pada hari Kamis ini dan bisa ditunda sampai waktu yang lebih kondusif.

Tujuannya agar jangan sampai terjadi sebaran coronavirus yang massif di Flores, khususnya di Manggarai.

Begitu informasi surat itu “bocor” di medsos namun misa tahbisan Uskup tetap berlangsung, maka sejurus kemudian mulai muncul di medsos dan media aneka bentuk ungkapan bullying terhadap Gereja Katolik.

Umumnya menuduh bahwa Gereja Katolik mengambil sikap tidak “peka situasi” dan terkesan Gereja Katolik tidak mau sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menganjurkan praktik social distancing dan menghindari kerumunan massa.

Catatan kritis

Rasanya kita perlu mendudukan persoalan ini pada proporsinya dengan beberapa argumen berikut data di bawah ini.

  • Vatikan resmi merilis pengumuman tentang penunjukan Mgr. Siprianus Hormat sebagai Uskup Terpilih Keuskupan Ruteng pada tanggal 13 November 2019.
  • Itu berarti dan tidak terlalu lama kemudian, Keuskupan Ruteng pasti sudah langsung membuat rencana panjang dan membentuk panitia penyelenggara.
  • Panitia penyelenggara itu tentu baru boleh “mengudara” dan eksis dengan segala rencananya setelah mendapat “lampu hijau” dari otoritas resmi Keuskupan Ruteng waktu itu yakni Mgr. Sylvester San dalam kapasitasnya sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng.
  • Sebelum resmi “dilantik” menjadi Uskup pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2020 hari ini, maka otoritas penuh Keuskupan Ruteng itu masih berada di tangan Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng yakni Mgr. Sylvester San; bukan pada Mgr. Siprianus Hormat yang secara legal baru resmi menjabat Uskup mulai Kamis tanggal 19 Maret 2020, hari ini.
  • Lalu muncul surat imbauan dari Kepala BNPB Letjen Doni Monardo kepada Kardinal Suharyo sebagai Ketua KWI dan surat itu dikirim ke Kantor KWI. Sampai sekarang kita tidak tahu, surat itu dikirim kapan dan kapan pula surat resmi itu telah diterima KWI. Hingga kini wujud surat itu belum pernah muncul dan konfirmasi dengan Kantor KWI hingga Kamis petang ini belum kami dapatkan.
  • Tentu saja, imbauan penundaan itu layak didengarkan dan juga harus serius dipertimbangkan. Namun, kalau –misalnya saja—suratnya itu datang sangat terlambat, maka juga amat terlambat pula untuk membatalkan semua agenda yang sudah lama direncanakan sejak November 2019.
  • Belum lagi kalau harus memikirkan agenda masing-masing Uskup selama bulan-bulan berikutnya yang tentunya sudah dirancang jauh-jauh hari.
  • Dalam kapasitasnya sebagai Ketua KWI, tentu posisi Kardinal Suharyo lebih merupakan bak “primus inter pares” di lingkungan KWI yang sifatnya sesuai namanya –hanyalah konferensi alias “rapat bersama”—sementara otoritas lokal setiap Keuskupan sepenuhnya ada di tangan Uskup masing-masing sebagai Kepala Gereja Lokal Keuskupan.
  • Dengan demikian, otoritas pengambil keputusan final apakah perlu dibatalkan terjadi hari Kamis tanggal 19 Maret 2020 hari ini atau kemudian ditunda itu idak bukan di tangan KWI, melainkan Keuskupan Ruteng itu sendiri c.q. Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng dan Panitia Penyelenggara.
  • Meski diminta sebagai Uskup Penahbis Utama dalam misa penahbisan episkopal Mgr. Sipri, tentu harus dimaklumi bahwa posisi Kardinal ini sebagai “undangan” saja. Yang punya acara adalah Keuskupan Ruteng dan bukan KWI.
Petugas jaga untuk melakukan prosedur protokol kesehatan di acara tahbisan uskup di Ruteng. (Ist)
Umat dari Jakarta diukur suhu badannya sebelum diizinkan boleh masuk ke dalam Gereja Santo Yosef di mana akan berlangsung misa tahbisan uskup – Ist
Cuci tangan dulu sebelum masuk gereja – Ist

Protokol kesehatan

Menurut beberapa umat Katolik Jakarta yang datang ke Gereja St. Yosef di Ruteng untuk mengikuti prosesi tahbisan episkopal Mgr. Sipri hari kamis ini, Panitia Penyelenggara juga, sudah mempraktikkan protokol kesehatan dan cegah tangkal guna mengurangi potensi sebaran coronavirus.

  • Saat tiba di Bandara International Komodo di Labuan Bajo, tes suhu badan sudah diterapkan. Pun pula, ketika orang tiba dan akan memasuki hotel penginapan di Labuan Bajo.
  • Protokol sama juga diberlakukan di semua akses pintu masuk ke lokasi tahbisan. Semua orang diukur suhunya. Yang kedapatan suhu badan naik karena demam diminta mundur dan tidak usah ikut serta.
  • Jauh-jauh hari juga sudah diumukan oleh panitia bahwa hanya mereka yang sehat boleh datang dan itu pun diseleksi ketat.
  • Jumlah umat yang datang tidak sampai 6.000-an orang –sebuah kuantitas yang cenderung dibuat lebai demi sensasionalitas pemberitaan—sementara laporan media utama yang lebih terpercaya hanya menyebut kurang lebih 1.500-an orang saja sesuai kapasitas gedung gereja.

Semoga hal ini bisa membantu mendudukan “perkara” pada proporsinya.

45 COMMENTS

  1. Satu kalimat pembuka: tidak ada event yang lebih penting (apapun itu!) dibandingkan risiko terjangkitnya penyakit covid-19 di sana.

    Penting juga menyadari bahwa saat ini sebenarnya kondisi negara sedang darurat. Siapapun elemen bangsa ini diminta utk berkorban. Bahkan tidak sedikit yang mengorbankan harta dan keselamatan mereka utk mencegah penyebaran penyakit ini. Kalau hanya utk mengorbankan sebuah acara yg katanya dipersiapkan jauh2 hari tentu saja amatlah kecil nilainya.

    Dalam beberapa hari terakhir kita menyaksikan kearifan tokoh2 agama lain (khususnya Muslim) dalam menyikapi imbauan pemerintah soal social distancing. Menurut saya hal itu sungguh mengharukan. Bagaimana mereka mengorbankan banyak acara (tabligh akbar kajian dll) bahkan ibadah mingguan tiap Jumat. Lha ini kok malah yg justru selama ini mengaku lebih “bijaksana” malah bersikap bebal.

  2. Serius nih ngomong “proporsi” kayak gini.
    3000 nyawa semata angka.. jika udah tau ada 3000 yang meninggal dan akan banyak yg tertular dengan adanya acara ini, kenapa gak dibatalkan?
    Berlindung pada surat Doni Monardo hanya menunjukkan ketidakpedulian gereja pada dunia.

      • Banyak sekali alasannya! Pertimbangan utama tentang potensi besar penyebaran covid-19 hanya dijawab dg protokol kesehatan sederhana. Mungkin saja para tamu tidak akan sakit, tapi apa bisa menjamin mereka tidak akan menjadi carier covid-19 setelah pulang? Hal sepenting itu dikalahkan dg dalih kesibukan dan agenda padat para hirarki gereja! Shame on you.

  3. Ini sih bukan catatan kritis! Tidak ada hal baru dalam point-per-point yang disampaikan. Koq jadi lempar-lemparan tanggungjawab sih????? Parah!

  4. Yg jadi pertanyaan, kenapa KWI tidak publish saja surat permohonan BNPB buat pembatalan acara pentahbisan? Apakah KWI hanya bertahan lewat argumen kata-kata di website? lupa jaman sekarang ini “berita/argumen yg tanpa bukti foto/video:hoaks”?
    Oh iya, kenapa tidak nampak Nuncio Vatikan untuk Indonesia Pierro Pioppo dalam acara agung ini? Apakah beliau tidak lolos scanning suhu badan di Bandara Labu Bajo?

    Saya umat Paroki St.Mikael Gombong, Keuskupan Purwokerto

  5. Sebagai umat Katolik saya sangat kecewa dengan ketidakpekaan yang ditunjukkan para pemimpin Gereja. Lingkungan kami sudah membatalkan pertemuan fisik APP untuk mengurangi penularan Covid-19. Kok malah pemimpin Gereja tetap ngotot untuk melaksanakan pentahbisan. Kalau soal repot ya mengurus pembatalan, panitia perlu mencontoh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yg membatalkan acara mereka di Ende, padahal sebagian peserta dari berbagai penjuru Indonesia sudah hadir atau sedang dalam perjalanan. Demi keselamatan bersama mereka batal kan pertemuan besar tersebut, tentu kerugian finansial tidak sedikit. Tapi mereka sadar pilihan tersebut tepat.

    • Sepertinya Gereja Katolik kurang bijaksana melaksanakan acara pentahbisan di tengah2 wabah corona
      Saya sebagai orang katolik malu dan kecewa karena Gereja Katolik malah terkesan menjadi batu sandungan. Saat pemerintah mencoba mencegah penyebaran virus. Gereja seakan tuli tidak mau mendengar. Apapun alasannya, entah aturan atau hukum gereja dll. Hukum dibuat untuk manusia jangan manusia untuk hukum. Di paroki2 umat diminta ikut himbauan pemerintah. Eehh ini malah gembalanya yang mbalelo

    • Kalau wabah Corona udah menyebar ke seluruh pelosok negeri termasuk ruteng argumen anda berterima..upaya pencegahan dilakukan panitia penyelenggara saat acara..jadi umat Katolik juga jangan terlalu berpatokan pada rasa akal Budi juga perlu dikedepankan..kritis dan logis harus sejalan.

  6. Sebagai umat Katolik saya sangat kecewa dengan ketidakpekaan yang ditunjukkan oleh para pemimpin Gereja dengan tetap mengadakan pentahbisan di tengah krisis yang sangat serius. Lingkungan kami saja di Bogor membatalkan pertemuan APP untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 kok malah pemimpin Gereja tetap ngotot meneruskan acara. Kalau soal kerepotan mengurus pembatalan; panitian perlu melihat contoh yang dilakukan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Mereka rencananya mengadakan rapat besar yang mengundang pengurus dari seluruh penjuru tanah air yang sebagian sudah di berada di lokasi dan sebagian besar lagi sedang dalam perjalanan ke Ende; tempat acara berlangsung. Demi kesalamatan bersama acara tersebut mereka batalkan. Tentu tidak sedikit kerugian yang ditimbulkan dari pembatalan tersebut. Saya heran Gereja Katolik yang lebih kuat organisasinya dengan banyak pejabatnya yang bergelar doktor justru tidak sensitif terhadap risiko bencana yang ditimbulkan.

    • Jangan samakan Ruteng dengan Bogor. Di Bogor sudah ada yang tertular. Upaya pencegahan pun dilakukan saat acara pentabhisan. So, what’ s wrong?? Kritis dan logis harus sejalan.

  7. Kita tidak saling mengenal. Seperti halnya saya tidak mengenal secara personal mereka yang menghadiri pentahbisan Uskup Ruteng. Begitu pula dengan mereka yang tidak mengenal saya.

    Namun penularan COVID-19 atau virus corona juga tidak memandang bulu. Tidak saling mengenal atau tidak berada di satu tempat yang sama; tidak meniadakan risiko penularan. Apalagi berada di satu tempat yang sama bersama ribuan orang.

    Dengan segala kerendahan hati; sanggahan yang Bapak terbitkan di sini kurang sensitif dengan situasi yang ada. Sudah berapa banyak korban yang jatuh? Setiap hari; jam; bahkan menit; pemerintah dan berbagai media nasional juga terus memberitakan perkembangan kasus corona di Tanah Air.

    Izinkan saya bertanya. Apa jaminan dari Keuskupan Ruteng; bahwa ribuan umat yang menghadiri pentahbisan tersebut; tidak tertular dan tidak menularkan virus corona?

    Saya menyertakan dengan jelas alamat email saya ketika menuliskan komentar ini. Saya akan sangat senang jika Bapak Mathias terbuka untuk mendiskusikan perihal ini.

    Saya juga berdoa semoga Bapak dan seluruh anggota keluarga Bapak dijauhkan dari infeksi virus corona.

    Terima kasih

  8. please lah Kardinal Suharyo jangan balik lagi ke Jakarta. ngeri aku dia bawa2 virus. hiiihhhh mana tuh kemaren video imbauan untuk umat Katolik taat pada imbauan pemerintah. Pemimpin umat Katoliknya malah datengin acara yang penuh dengan manusia. malu aku tuh jadi umat Katolik

  9. Pentahbisan bisa dilakukan secara sederhana dengan hanya para pejabat gereja yang utama saja yang dihadirkan. Gereja Katolik masih terlalu menjunjung upacara2 berlebihan macam ini. Being pompous is more important than protecting your own flock…?!

  10. Salah satu kebanggan saya selama ini adalah keberpihakan gereja Katolik terhadap masalah2 kemanusiaan. Tapi hari ini saya sungguh terpukul ketika gereja Katolik mendapat gelar Kadrom (Kadal Roma) plesetan dari Kadrun alias kadal gurun karena kekerasan hatinya tak berempati kepada situasi negara dan dunia yg sedang tunggang langgang karena covid19. Pemerintah gaungkan social descanting tapi kita malah ngumpul. Di WA grup acara ini jadi bulan2an dan terlalu kasar untuk diungkap. Mungkin Panitia dan pimpinan gereja Katolik perlu meminta maaf secara terbuka kepada umat dan publik supaya keteledoran ini bisa sedikit melegakan.Jangan sampai gereja katolik dianggap tidak bersama sama Indonesia yg sedang kemalangan. Jadikanlah saya bangga kembali menjadi katolik 100% dan Indonesia 100%!

  11. Sepertinya Gereja Katolik kurang bijaksana melaksanakan acara pentahbisan di tengah2 wabah corona
    Saya sebagai orang katolik malu dan kecewa karena Gereja Katolik malah terkesan menjadi batu sandungan. Saat pemerintah mencoba mencegah penyebaran virus. Gereja seakan tuli tidak mau mendengar. Apapun alasannya, entah aturan atau hukum gereja dll. Hukum dibuat untuk manusia jangan manusia untuk hukum. Di paroki2 umat diminta ikut himbauan pemerintah. Eehh ini malah gembalanya yang mbalelo

  12. Sepertinya Gereja Katolik kurang bijaksana melaksanakan acara pentahbisan di tengah2 wabah corona
    Saya sebagai orang katolik malu dan kecewa karena Gereja Katolik malah terkesan menjadi batu sandungan. Saat pemerintah mencoba mencegah penyebaran virus. Gereja seakan tuli tidak mau mendengar. Apapun alasannya, entah aturan atau hukum gereja dll. Hukum dibuat untuk manusia jangan manusia untuk hukum. Di paroki2 umat diminta ikut himbauan pemerintah. Eehh ini malah gembalanya yang tegar tengkuk dan degil hati

  13. Sebagai orang katolik saya berharap semoga Ruteng dan sekitarnya tetap aman dari Covid-19. Namun kalau 2-3 minggu mendatang banyak penderita Covid-19 di sana, saya setuju bila pemerintah memerintahkan Jaksa Agung untuk menuntut panitia tahbisan berikut hirarki Gereja Katolik di Indonesia karena tidak mau bekerjasama dgn pemerintah dalam menjaga keselamatan masyarakat.

  14. Hahah…
    Bak seorang ayah sedang gebyur-gebyur mandi sambil nyanyi pd jam 00.00, pd hal sore sebelumnya dia teriak ke anak2nya…
    “…jangan mandi malam ya.., gak sehat..”

  15. Untuk menunjukkan itikad baik pimpinan Gereja yang kami kasihi, usul saja apakah sebaiknya para Pemimpin Gereja yg datang dari Jakarta melakukan tes sukarela COVID19? Karena yg jadi isu adalah risiko penularan orang dari daerah terkonfirmasi penyakit ini ke daerah lain. Tentunya sangat bersyukur kalau hasil tes negatif. Kalaupun ada isu, tentunya bisa segera ditindaklanjuti oleh tim kesehatan sehingga Gereja Katolik berkontribusi untuk menahan perluasan penyakit ini. Mohon dipertimbangkan

      • Mohon maaf, berdasarkan pendapat ibu saya yang seorang tenaga medis, hal yang dilakukan itu sama sekali tidak efektif untuk pencegahan virus. Itu hanya standar protokol penyelenggaraan, tidak menjamin bebas virus.

  16. Gaya komentator sepak bola…lebih hebat dr pemain di lapangan. Sy yakin apa yg bapak ibu pikirkan soal keepekaan dan macam2 ada dalam pertimbangan Bpk Kardinal Mgr. IGNASIUS. Tentu beliau telah memperhatikan berbagai faktor sebelum membuat keputusan moral dalam situas dilematis tsb. Jadi jangan sok bijaksana dan menghakimi sebelum mengetahui keadaan yg sebenarnya di lapangan. Td malam sekda sdh memberi penjelasan bhw panitia sdh menjalankan SOP pencefahan COVID 19 dan umat yg dibatasi dr rencana semula 7 sd 8 ribu menjadi sek.1500 org sj. Jadi jangan sok bijaksana kita yg nonton dr jauh…

    • Y sudah kita lihat saja 2-3minggu ke depan, kalau daerah Ruteng masih bebas dari wabah ini, Puji Syukur semua karna Rahmat Ilahi & daya kerja Roh Kudus. Kalau nampak tanda2 wabah, KWI berani berhadapan dengan pemerintah? Ingat bung, kita negara hukum, bukan negara agama! Tumben Gereja Katolik Indonesia jauh lebih “bijaksana” dari kelompok seberang!

    • kan virusnya ga milih2 dia Kardinal apa bukan maliiihhhh. heran gua
      virusnya juga emangnya milih: oh ini cuma 1500 orang doang. gue milih yang 8000 orang
      ini virus apa orang brand lagi ngecekin jumlah follower influencer sih?

      udah lah. akui aja kalo gembala2 ini bebal dengan tetep ngadain acara mengumpulkan segitu banyak orang.

  17. Hujaan yg diberi lebih kepada alasan administratif. Ia langsung tidak mengambil kira situasi semasa yang kian mendesak serta tidak mengambil dari insiden sebegini di negara lain. Walaupun saringan suhu serta pembasmian kuman telah dijalankan namun ia bukan 100% berkesan. Mungkin masa untuk pentahbisan uskup sudah suntuk kerana Vatican biasanya memberi masa yang terhad untuk menyelesaikannya. Namun harus ada pertimbangan untuk keselamatan umat parioki serta masyarakat umum. Berbaloikah keuskupan Ruteng mendapat seorang uskup baru jikalau terdapat pengorbanan nyawa umat parioki dan masyarakat umum? Dimanakah perginya pengajaran Kristus Yesus untuk mengasihi jiran-jiran kita?

  18. Poin poin yg anda kemukakan semakin menunjukan keapatisan gereja melihat fakta yg sedang terjadi. Lucunya anda berlindung di balik argumntasi ” di mana fisik surat dr kepala BNPB. Shame on u.

  19. Cuma begini doang? asli.. entah mau ditao di mana ini muka sebagai ORANG KATOLIK! Tidak bijaksana-mbalelo-menentang himbauan Bapa Suci-mengabaikan perintah Presiden RI. Sungguh apakah seperti ini wajah pemimpin Gereja Katolik Indonesia????????????? Gemas bukan main membaca beritanya. Apa tidak cukup kita menjadi minoritas tertindas sekarang tambahh lagi: kadrun ngeyelan pol? Pemimpin Gereja Katolik Indonesia TIDAK sensitif dan TIDAK memperhitungkan keadaan saat ini. Intoleransi plus pandemik. BAGUS! GOOD JOB!

  20. Ya ampun.. lucu banget tanggapannya 😀 Sudah habislah kami di-bully.. kadrun level advance. Saya yang dulu bangga dengan semboyan: Fides et Ratio … sekarang… ahsudahlah.

  21. Terimakasih Pak Mathias sudah bantu menjelaskan permasalahan sesuai proporsinya.
    Saya secara pribadi juga terkejut saat mendengar dan membaca acara tahbisan tersebut di media akan tetapi saya yakin bahwa pelaksanaan acara tahbisan tersebut sudah dipikirkan matang2 oleh keuskupan setempat mengingat situasi krisis karena coronavirus saat ini.

    one thing for sure – what has been done cannot be done. walaupun ada kekecewaan; ketidaksetujuan; kemarahan; ada baiknya kita tetap focus pada tujuan kita untuk membantu sesama apalagi dalam situasi sekarang ini dan tidak berseteru satu sama lain sesama umat katolik karena beda pendapat. Lebih baik kita tunggu penjelasan resmi dari KWI atau Bapak Kardinal (apabila ada) dalam hal ini.

    terlepas dari apa acara tahbisan tersebut. tahun 2020 ini adalah tahun keadilan sosial so let focus on this – mari ambil bagian mewujudkan bela rasa bagi saudara kita yang membutuhkan. Bela rasa dengan aksi nyata termasuk dalam memberikan pendapat; kritik; komentar dapat dilakukan dengan bijak dan tetap menghargai pendapat orang lain.

    • Setuju Pak Elsju, semoga Gereja Indonesia berani bersuara secara bertanggung jawab, rasional & terukur, menimbang dampak nya bisa menjalar ke hubungan antar umat beragama. Tapi saya secara pribadi gak berharap banyak, wong Gereja Semesta aja hanya diam anteng waktu ramai kisah Yesus menikah dengan Maria Magdalena dari novel Dan Brown ?

  22. Uskup KAS Mgr Rubiyatmoko memutuskan utk tidak mengikuti rangkaian acara “meriah” itu. Ia lebih memilih bersama umat dalam menghadapi masa-masa sulit ini. Hasil rapat bersama Kuria KAS menghasilkan keputusan bahwa meniadakan misa harian dan mingguan di seluruh Gereja di KAS dan akan menyiarkan misa tsb scr online. Terima kasih Mgr Ruby. Pastor bonus. Gembala yg baik ??

  23. Sebagai umat Katolik, saya sangat kecewa dengan keras kepala untuk upacara Uskup Ruteng, apakah acara ini lebih penting dari pada menunjukan simpati dengan berpartisipasi tidak melakukan gathering secara besar2an. Tidak ada alasan surat atau himbauan terlambat, berita ada setiap hari. Ini membuktikan kalau acara uskup ruteng merupakan bentuk arogansi dari semua pendukung acara & tidak ada simpati kepada bencana covid yang sedang berlangsung. Saya tidak tinggal di Indonesia, saya malu ketika melihat berita bahwa Katolik indonesia tetap kekeh melaksanakan pentabisan uskup ruteng. Mohon berkaca, di mana kerendahan hati dari seluruh pendukung acara?

  24. Stop saling cibir. Saatnya
    DOMPET UMAT KATOLIK RI untuk ATASI KORONA:

    Ada baiknya Umat Katolik Indonesia ada gerakan GALANG DANA utk BANTU PEMERINTAH atasi penyebaran virus Korona.
    Bisa lewat KWI.

  25. Karena acara sudah terlanjur dilaksanakan maka mari kita doakan supaya tidak terjadi hal hal yg tidak diinginkan. Tapi kalau akhirnya ada peserta di ruteng yg tertular maka baiklah kita belajar membedakan antara “beriman” dan “mencobai Tuhan”.
    Tuhan juga menganugrahi manusia dengan akal budi. Misalnya masuk kandang buaya, tidak cukup hanya mengandalkan iman bahwa tidak akan terjadi apa apa. Tapi akal budi juga digunakan.
    Jadi kalau sudah tahu resikonya terlalu besar tapi tetap dilakukan hanya mengandalkan iman maka itu artinya mencobai Tuhan karena kita tidak menggunakan akal budi kita.
    Lalu apakah screening suhu badan menjadi jaminan tidak akan ada virus corona yang masuk? Saya tidak paham, tapi hati hati karena gejala awal terkena virus ini tidak selalu nampak.

    Kalau akhirnya virus semakin menyebar malah merepotkan pemerintah dan tenaga medis.
    Tetapi semoga tidak terjadi apa apa.

  26. Membaca tulisan Bapak mengenai pentahbisan, saya sangat tidak paham dengan isinya yang tidak mencerminkan pola pikir kritis yang sepertinya Bapak banggakan.
    1. Kronologis yang Bapak sampaikan menunjukan bahwa ada keterpakuan kepada prosedur namun tidak sensitif terhadap situasi.
    Apakah suatu yang sesuai prosedur tidak bisa dirubah untuk kepentingan banyak orang?
    Tentu saja bisa, seperti yang sekarang banyak dilakukan oleh pihak pemerintah, orang awam bahkan sahabat sahabat dari agama lain.
    2. Bapak menyalahkan bahwa surat dari Kepala BNPB belum didapatkan/datang terlambat, hal ini bukanlah alasan bahwa acara pentahbisan harus dilanjutkan.
    Kepekaan atas situasi yang harus dikedepankan, bukan masalah surat.
    3. Bapak menyampaikan concern bahwa para uskup sudah berbulan bulan sebelumnya merancang segalanya, ini menurut saya menunjukkan keegoisan tingkat tinggi.
    Apakah Bapak tahu banyak acara yang sudah dirancang lebih dari satu tahun dibatalkan karena penyelenggara sangat menyayangi undangan, karena jika hadir bisa terpapar virus Sars-CoV-2 yang mengakibatkan banyak derita bahkan kematian?
    4. Kardinal seharusnya bersikap “walk the talk”, menjalan apa yang disampaikan. Beliau selalu mengedepankan “belarasa”, tapi ironisnya beliau malah berbuat yang sebaliknya. Orang awam, menyebut sikap ini adalah munafik. Menurut saya sebagai undangan bisa saja beliau tidak hadir, kan namanya juga undangan.
    5. Protokol kesehatan yang Bapak sampaikan hanyalah menambah keraguan saya bahwa gereja memahami apa itu Virus Sars-CoV-2 dan Covid-19.
    Kita tentunya tahu, orang yang suhunya normal bukan berarti yang bersangkutan tidak membawa Virus Sars-CoV-2.
    Setelah masa inkubasi, dan orang tersebut menderita Covid-19, maka barulah suhunya naik.
    6. Bapak berusaha mendudukan perkara pada proporsinya? Tentunya maksudnya ingin menjelaskan bahwa acara tersebut sah dan baik untuk dilaksanakan. Namun menurut saya justru tulisan Bapak tidak menunjukkan hal itu, isinya lebih kepada pemaksaan alasan bahwa acara itu sah dan baik dilaksanakan, tidak ada isi yang menunjukkan ajaran Katolik yang afektif dan berbela rasa, atau mungkin Bapak bukan
    orang Katolik sehingga tidak tahu ajaran Katolik?
    Saya sertakan nama dan alamat email saya, saya siap untuk beradu argument dengan Bapak untuk masalah ini. Terimakasih.

  27. … Idiocy has no race, ethnic, religion or name! She goes everywhere where commonsense is utterly rejected and faith is blindly adored! …
    .
    I am Catholic and I am utterly against such act of idiocy that finally harms innocent people and later blames The Authority (or even Dear GOD for not preventing them from covid-19); then say easily as GOD’s will.
    .
    What a sadistic way to *challenge* our precious life which belongs to HIM in such a way!
    .
    unthinkable yet unbelievable!

  28. alasan dalam tulisan di atas meng-ada2.

    sebagai gereja yg dewasa, seharusnya peka terhadap situasi dan kondisi. tanpa ada permintaan dari pihak BNPB harusnya acara ini dibatalkan atau sendiri.

    bila terjadi ketidaktaatan umat memenuhi permintaan pemerintah utk mengisolasi diri selama dua minggu ini, menurut saya, gereja yg telah menyelenggarakan penahbisan umat kemarin ini telah turut ambil bagian di dalamnya. 🙁

    dan FYI saya yakin ada di antara panita atau uskup dan para imam yg hadir di acara tersebut sudah membaca tulisan berikut yg keluar 18 maret, sehari sebelum acara pamer ego dan kesombongan di ruteng.

    seperti yg ditulis pada artikel terlampir, virus corona memang telah menelanjangi gereja yg klerikal.

    CORONAVIRUS SEDANG MENELANJANGI GEREJA YANG KLERIKAL (Massimo Faggioli-Italia)

    Bencana coronavirus memaksa kita semua untuk merefleksikan kembali agama kita. Tidak hanya secara intelektual, tetapi juga visual, emosional dan antropologis dalam diri kita.

    Ini ujian yang berat untuk teologi kita: hidup liturgi dan sakramen, kegerejaan, dan relasi antara Gereja dan Negara.

    Hal ini sangat menantang bagi teologi moral kita.

    Epidemi dan pandemi cenderung membangunkan naluri bertahan hidup yang brutal dalam diri kita. Mereka juga dapat memancing reaksi dan sikap lain yang bertentangan dengan pesan Injil.

    Jika gereja ingin hadir dalam semuanya ini, haruslah dalam cara-cara yang berbeda dari posisi standar normalnya – perayaan Misa.

    Pandemi sekarang ini adalah ujian kemampuan institusi Gereja, termasuk kepausan dan Vatikan – untuk hadir, yang hampir tak kelihatan, tanpa mengandalkan aparatus Gereja yang kelihatan.

    ———————–
    Coronavirus is unmasking the clericalist Church- Massimo Faggioli

    The coronavirus emergency is forcing all of us to re-conceptualize our religion. Not just intellectually, but also visually, emotionally and anthropologically in all of us.
    This is a formidable test for our theology: liturgy and sacramental life, ecclesiology, and the relations between Church and State.

    It is particularly challenging to our moral theology.

    Epidemics and pandemic tend to awake brutal survival instincts in all of us. They can also provoke other reactions and behavior that contradict the message of the Gospel.

    If the Church is to be a presence in all of this, it must be so in ways that are different from its normal default position – the celebration of Mass.

    The current pandemic is testing the capability of the institutional Church – including the papacy and the Vatican – to be present, almost invisibly, without being able to rely on the apparatus of the visible Church.

    Source: LA Croix, International, The World’s Premier Independent Catholic Daily (18th March, 2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here