Terbakar Habis, Pastoran Gereja St. Lukas Paroki Apau Kayan, Keuskupan Tanjung Selor (1)

1
1,251 views
Pastoran Gereja St. Lukas Paroki Apau Kayan di pedalaman Keuskupan Tanjung Selor, Kaltara, terbakar habis, Sabtu malam 21 Januari 2023. (Paroki Apau Kayan/Romo Sixtus Pr)

UMAT Gereja St. Lukas Paroki Apau Kayan -sebuah wilayah pedalaman sangat udik dan terpencil di Keuskupan Tanjung Selor, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara)- kini mengalami kegalauan.

Karena semalam terjadi bencana insiden kebakaran yang menghabiskan semua aset paroki: seluruh arsip dokumen, harta benda paroki, alat kerja dan sarana pastoral.

Berikut kisahnya yang teramat menyedihkan.

Ini nukilan surat personal yang dikirim Romo Sixtus Pr -Pastor Kelapa Gereja St. Lukas Paroki Apau Kayan- kepada Sesawi.Net, hari Minggu petang tanggal 22 Januari 2023.

Apa pasal? Karena bangunan Pastoran Paroki Apau Kayan telah ludes hancur; tak bersisa selain sampah puing-puing dan abu bekas benda-benda yang terbakar.

“Semuanya sudah terbakar habis lantaran diamuk kobaran api yang besar. Insiden kebakaran ini terjadi hari Sabtu malam jelang pergantian hari, tanggal 21 Januari 2023, sekitar pukul 23.00 WITA,” tutur Romo Sixtus Pr menjawab Sesawi.Net.

Imam diosesan Keuskupan Tanjung Selor ini pernah berjumpa dengan Sesawi.Net dan Sr. Kristina Fransiska CP di Pastoran Tarakan, Kaltara, Februari 2018 silam.

Saat ini, kata Romo Sixtus Pr, pihak kepolisian dari Polsek Kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau masih menyelidiki penyebab insiden kebakaran tersebut.

Malah tidak berada di TKP

“Saat kejadian kebakaran berlangsung, saya sebagai Pastor Kepala Paroki, kebetulan malahan sedang tidak berada di tempat. Saya tengah dalam perjalanan mengikuti Rapat Pastores Keuskupan Tanjung Selor di Kabupaten Nunukan, Kaltara,” kata Romo Sixtus Pr.

Langsung lemas
Bagi setiap imam yang berkarya pastoral di paroki, maka pastoran menjadi rumahnya. Inilah tempat di mana para pastor paroki tinggal mengampu karya parokial.

“Mendengar insiden kebakaran tersebut, saya langsung lemes. Kondisi tubuh jadi kendor dan anjlok. Emosi langsung dibuat ‘lumpuh sampai sekarang,” tutur Romo Sixtus Pr yang sering membuat renungan dan catatan perjalanan pastoral ke kawasan terpencil di wilayah sulit Paroki Apau Kayan.

Ia lalu bertanya pada dirinya sendiri: “Oh Tuhan, ada apa ini? Semua arisp dokumen dan data Gereja telah habis terbakar. Perlengkapan misa untuk liturgi gereja juga telah ludes terbakar,” kata dia disertai lenguhan panjang.

Pastoran Gereja St. Lukas Paroki Apau Kayan di pedalaman Keuskupan Tanjung Selor, Kaltara, terbakar habis, hari Sabtu malam 21 Januari 2023. (Paroki Apau Kayan/Romo Sixtus Pr)

Tidak hanya itu saja yang habis terbakar “dimakan” Si Jago Merah.

“Semua barang-barang dan pakaianku tidak ada yang tersisa. Bahkan BBM dan tiga motor sebagai sarana dalam berpastoral, semuanya juga ikut habis terbakar,” tambahnya.

“Sekarang, saya benar-benar berada di titik nol. Di tengah proses pembangunan pusat Gereja Paroki yang juga belum rampung sampai saat ini, malah bencana lain telah datang merenggut semua impian dan semangat hidupku dalam bermisi di tempat ini,” tulisnya super sendu.

Sudah tujuh tahun berkarya di Apau Kayan

Iman Romo Sixtus Pr saat ini benar-benar terguncang.

“Di saat saya sudah rela dan ikhlas tinggal dan hidup di medan pastoral yang sulit, insiden kebakaran pastoran semalam semakin membuat hidupku semakin ruwet dan rumit. Apakah Allah begitu tega dan belum puas meremukan tubuh dan jiwaku dengan menanggung penderitaan yang saya pikul dalam berpastoral selama tujuh tahun di tempat ini?” tanyanya dengan emosi super gundah gulana.

Mau tak mau, kini harus memulai lagi dari nol. Dan itu tidak mudah. Terlebih karena posisi wilayah Paroki Apau Kayan ini termasuk yang paling “udik” dan sulit dijangkau di seluruh wilayah pastoral Keuskupan Tanjung Selor di Provinsi Kaltara.

Malu dan sungkan

Romo Sixtus Pr merasa sangat sungkan dan malu. Terlebih bila peristiwa insiden kebakaran Sabtu malam kemarin itu ikut “menggoda” dia kembali mengetuk pintu hati umat di luar sana yang ingin berbagi berkat untuk membantu Paroki Apau Kayan bisa menangani bencana ini.

Mengapa harus merasa malu?

Malu karena di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, umat pasti sedang berpeluh dan berjuang untuk bertahan hidup di luar sana.

“Untuk umat Allah yang sedang berpeluh dan berjuang di luar sana, saya mohon donasi doa kalian untuk menguatkan hidup saya dan umat Gereja St. Lukas Apau Kayan,” kata Romo Sixtus Pr, imam diosesan Keuskupan Tanjung Selor yang meniti kisah panggilannya sangat “terlambat”.

Ia antara lain pernah menjadi buruh kasar, juga pernah “berkarier” sebagai tukang cuci motor dan mobil sebelum akhirnya masuk seminari. Sudah sangat “tua”, ketika ia masuk seminari memuluskan keinginan mendalamnya ingin menjadi imam.


“Untuk umat Allah yang berkecukupan dan berkelimpahan di luar sana, bila tidak berkeberatan hati, kami memohon belas kasihan anda semua untuk meringankan beban kami saat ini,” pintanya memelas.

Untuk keperluan gerakan donasi publik ini, maka Sesawi.Net akan segera menghubungi pihak Keuskupan Tanjung Selor untuk berkoordinasi.

Baca juga: Donasi Publik untuk Bangun Kembali Pastoran Gereja St. Lukas Paroki Apau Kayan, Keuskupan Tanjung Selor (2)

1 COMMENT

  1. Semoga umat dan pastor parokinya tetap tabah dan kuat dalam menghadapi bencana ini dan kiranya banyak orang yang tergerak hatinya untuk ikut membantu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here