Tiket Menuju Nusa Kambangan

1
115 views
Lapas Nusakambangan by Tribun Jateng

REVA merasa prihatin atas nasib Hera. Sejak bayi sampai enam belas tahun, ia yang mengurusnya. Anak bandel dan bengal ini memang sangat menyulitkan kehidupan Reva. Bahkan pernah minggat dan pulang kembali membawa lelaki yang menimbulkan petaka kelam bagi hidup Reva.

Tetapi hal itu tak bisa menghapuskan kasihnya kepada adik bungsunya ini. Ia adalah korban dari kehadirannya ke dunia yang salah, yang tidak dikehendaki oleh kedua orangtuanya. Karena sampai enam belas tahun, belum pernah ada seorang pria pun yang mengaku sebagai ayahnya mengunjunginya, bahkan ibunya pun tidak penuh sepuluh jari selama enam belas tahun menemuinya.

Nasib malang anak ini sudah dialami sejak dalam kandungan. Sungguh tragis. Ia adalah korban.

Kasusnya ditolak oleh Polresta. Ia dikirim ke polda, karena terkait dengan kasus narkoba yang besar. Setelah sampai ke Polda Jatim, ia dikirim ke Polda Jawa Tengah. Sungguh seperti bola pingpong. Seperti jalur bus, antar kota antar provinsi. Hera semakin kurus dan kusut.

Reva sendiri tidak mungkin mendampinginya. Untung ada pengacara dan psikolog yang sangat peduli dan berusaha mengungkap kasus raksasa narkoba. Kedua perempuan perkasa itu pun tidak mau dibayar. Ia bekerja demi menyelamatkan anak bangsa. Hera juga sangat percaya kepada Rosmania Dewinta, S.H.M.H. dan Widiandini Endah, M.Si. Psi.

Kasus Hera ini menjadi kasus besar yang ditangani dua polda dengan sinergitas yang melibatkan banyak polisi. Reva percaya kasus ini akan segera berakhir dan sindikat narkoba antarprovinsi, mungkin antarnegara ini bisa digulung.

***

Dengan didampingi Mbak Wied, panggilan Widiandini Endah, M.Si. Psi. yang selama dua pekan ini bersama Hera, mengalirlah pengakuan Hera yang bagai banjir bandang yang mengoyakkan ketegaran Reva selama ini.

Hera selama ini menjadi kurir yang harus mengantarkan barang haram yang diperjualbelikan suaminya di lapas. Ia harus memutar otak bagaimana cara memasukkan ke dalam penjara. Awal mula ia memasukkan pil ekstasi ke dalam kapsul. Satu kapsul bisa memuat empat sampai lima butir ekstasi kemudian dimasukkan ke dalam pastik kecil baru dimasukkan ke dalam botol sampo.

Cara itu berlangsung beberapa kali akhirnya ketahuan. Karena begitu botol sampo dituang dengan dipencet tidak keluar sampo, pasti itu palsu dan berisi narkoba. Karena ada bandar gedhe, Bos King biasa anggotanya menyebut, yang menolong Hera, ia lolos. Tetapi hal itu membuat ia semakin terikat dalam sindikat tersebut.

Cara lainnya membuat kue tradisional yang diisi narkoba. Beberapa kali percobaan gagal. Membuat klenyem, kue dari ketela pohon diparut dicampur kelapa di dalamnya diisi gula merah dan digoreng, dengan gula merah diganti narkoba justru membuat narkobanya hancur saat digoreng.

Demikian juga saat membuat kue klepon, isian narkoba dalam klepon ternyata meleleh saat dikukus. Kerugian itu harus ditanggung Hera, sehingga ia menanggung hutang yang cukup banyak. Akhirnya Hera membuat kue klepon atau onde-onde, atau lainnya yang di dalamnya berisi heroin atau sabu-sabu dari plastisin.

Membuat kue tiruan yang biasanya dipakai untuk materi pemotretan demi promosi resto,  hiasan, atau  suvenir ulang tahun atau pernikahan merupakan keahlian Hera. Kerumitan dalam memasang kelapa atau wijen beneran agar tidak dicurigai petugas membuat ia sering sakit karena kurang tidur.

Cara itu cukup lama aman. Apalagi kelihatannya ada petugas lapas yang memang membantu agar  semua itu berjalan lancar. Cara yang paling sering dipakai adalah memasak sosis babi. Sebagian besar petugas LP adalah muslim. Petugas muslimah berjilbab yang menggeledah Hera pasti akan menghindar, bila Hera mengatakan bahwa masakan yang dibawanya adalah B2 yang haram.

Cara itu dipakai Hera kalau mengirimkan barang yang banyak. Nilainya kadang ratusan juta. Cara-cara kreatif itu lama kelamaan dikenali juga oleh petugas-petugas yang idealis, yang tidak bisa diajak kongkalikong, tidak tergiur oleh iming-iming uang atau kenikmatan.

Cara yang tanpa melibatkan tubuh itu akhirnya ketahuan juga. Kekejaman terjadi ketika Hera harus mengirimkan heroin dengan botol-botol kecil yang dimasukkan ke dalam duburnya. Agar dubur mudah terbuka, Reva biasanya harus melayani beberapa teman suaminya dengan disodomi.

Peristiwa itu sangat menyakitkan dan menjijikkan. Menceritakan hal itu membuat tubuh Hera bergetar penuh ketakutan dan kesakitan. Tahulah kini. Ternyata kerusakan dubur Hera karena dipakai untuk kontainer pengiriman barang haram kepada suaminya di penjara.

Hal itu ketahuan dan membuat suaminya dipindah ke Lapas kelas I kota ini. Reva hampir pingsan mendengar cerita mengerikan itu. Dalam pelukan Mbak Wied, Hera bisa mengendalikan gemetar ketakutan dan kesakitannya.

Cara paling kejam terjadi sebulan lalu. Hera dibawa ke bidan oleh Bos King. Bidan itu dipaksa memasukkan 20 kondom berisi narkoba ke dalam rahim Hera. Bos besar memaksa Hera mengantarkannya kepada suaminya di lapas yang baru. Mengunjungi kota ini pun Hera belum pernah, hal ini membuat Reva takut dan gamang.

Dengan takut, gamang, dan kesakitan sampailah puncak pertahanan Hera hampir jebol, terjadilah peristiwa pertemuan Hera dengan Reva yang akan disandera oleh Birawa. Hera saat itu sudah sangat ketakutan. Ia membawa narkoba begitu banyak yang disertai sarung tangan yang nanti digunakan untuk mengeluarkan barang itu dari rahimnya. Ia berada di puncak ketakutan dan kengerian.

Hera tidak berani menceritakan hal itu kepada Reva, karena ia baru bertemu setelah sekian tahun. Sampai di rumah kakak iparnya pun ia tidak berani membuka rahasianya. Dan pendarahan terjadi berbarengan dengan masa menstruasinya. Namun darah tak mau berhenti.

Usaha keras Mbak Wied dan dan Bu Rosmania dan bekerjasama dengan pihak kepolisian menunjukkan titik terang. Hera diumpankan untuk pulang ke kontrakannya senja itu. Ia didampingi seorang polwan yang menyamar sebagai ibu renta yang dituntun Hera.

Malamnya kontrakan Hera digedor dan akhirnya dibakar oleh orang tak dikenal. Untung polisi bisa menggagalkannya dan menangkap 5 orang pelaku yang merupakan sindikat pengedar narkoba. Satu per satu anggota sindikat tertangkap dan kegiatan perdagangan narkobanya terkuak.

Ketika Hera menuju ke tempat praktik bidan yang dulu menjejalkan kondom ke dalam rahimnya, Hera dihadang Bos King dengan acungan senjata api. Karena kaget digerebek polisi, senjata api itu menyalak dan mengenai anak buahnya sendiri.

Seketika bos itu tertangkap dalam kondisi  mengenaskan. Akhirnya gembong narkoba yang sudah malang melintang lebih dari dua puluh tahun itu meringkung dalam penjara.

Sidang demi sidang berlangsung dengan amat menegangkan, akhirnya bos King  dijatuhi hukuman mati. Ia dikirim ke lapas tempat suami Hera dipenjara, menunggu eksekusi dilakukan. Dendam sang gembong itu kepada Hera dilampiaskan kepada Birawa. Terjadi keributan dan perkelahian di LP.

Ternyata dalam lapas itu ada beberapa kelompok sindikat narkoba yang berbeda dan berebut lahan operasi pemasaran narkoba. Ternyata Birawa telah bergabung dengan bandar lain yang merupakan musuh bebuyutan Bos King. 

Perkelahian pun pecah dan terjadi keributan dan kebakaran lapas. Bos King terbunuh dan Birawa yang sudah mencapai ujung tembok tinggal meloncat melarikan diri, namun kedahuluan senjata petugas melesat.

Birawa pun tertangkap dengan kaki harus diamputasi karena terkena tembakan petugas dan jatuh dari tembok dan harus meratapi hidupnya  di Nusa Kambangan.

Akankah hidup Hera dan Reva damai dan perjalanan hidup mereka akan mulus seperti halusnya jalan tol Trans Jawa yang sudah selesai dibangun?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here