Ut Unum Sint

0
212 views
Dwitunggal Soekarno-Hatta

Puncta 24.05.23
Rabu Paskah VII
Yohanes 17: 11b-19

PARA penggagas Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yakni Moh. Yamin, Soepomo dan Soekarno mencantumkan persatuan berada di tengah dari kelima dasar negara.

Yang pertama nilai religiusitas atau Ketuhanan. Kedua, nilai Kemanusiaan. Paling tengah adalah Persatuan Indonesia. Keempat, nilai Kerakyatan dan terakhir nilai Keadilan Sosial.

Nilai penting dari bangsa yang heterogen ini adalah persatuan. Nilai ini mendorong semangat kerukunan antar warga bangsa yang berbeda-beda latar belakang adat, budaya, suku dan agamanya. Tanpa persatuan, kita bisa terpecah-pecah.

Perbedaan yang ada di tengah masyarakat bisa diikat dengan nilai persatuan. Maka persatuan Indonesia harus terus dijaga agar kita semua hidup rukun dan damai menuju kemakmuran bersama.

Betapa luhur dan maju pemikiran para pendiri bangsa kita. Seperti pepatah yang mengatakan, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” maka nilai persatuan ini harus terus menerus dijaga dan ditanamkan dari generasi ke generasi.

Yesus berdoa bagi para pengikut-Nya, “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.”

Yesus menghendaki kita semua bersatu dalam ikatan cinta sebagaimana Yesus bersatu dengan Bapa-Nya. Dengan semangat persatuan itu, Yesus menjaga dan memelihara seluruh kawanan.

Yesus juga mengutus kita untuk menjaga persatuan selama kita ada di dunia. “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.”

Ada banyak godaan yang mengancam persatuan kawanan. Ada banyak serigala yang ingin mencerai-beraikan ikatan persatuan. Maka Yesus mendoakan kita para murid-Nya agar tetap menjaga persatuan.

Kita ingat pesan almarhum Bapak Kardinal Darmoyuwono, “Wong Katolik kuwi kudu seneng kumpul. Yen ora kumpul mengko bakal ucul. Ning yen gelem kumpul ya kudu wani cucul.”

(Jadi orang Katolik itu harus suka berkumpul. Kalau tidak kumpul nanti akan hilang lepas. Tapi kalau sudah kumpul ya harus berani berkurban).

Apakah kita sudah menghayati nilai kesatuan di dalam Gereja dengan suka berkumpul bersama saudara-saudara seiman?

Di tengah sawah banyak burung kuntul,
Terbang kian kemari di dekat Pak Tani.
Mangan ora mangan sing penting kumpul,
Ning yen wis kumpul aja seneng ngrasani.

Cawas, supaya mereka menjadi satu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here