Home BERITA Vatikan: Paus Leo Hadiri Sidang Pertama Konsistori bersama 178 Kardinal

Vatikan: Paus Leo Hadiri Sidang Pertama Konsistori bersama 178 Kardinal

0
31 views
178 Kardinal dari seluruh dunia berpartisipasi dalam Konsistori Kardinal pertama yang pertama kali digelar Paus Leo. (Vatican Media)

SESI pertama Konsistori Luar Biasa yang dipimpin oleh Paus Leo XIV mempertemukan 178 kardinal untuk merefleksikan tantangan sosial, politik, dan spiritual yang semakin besar di dunia. Pertemuan ini sekaligus menegaskan kembali misi Gereja dalam membangun persekutuan, perdamaian, dan harapan.

178 kardinal ini hadir bersama Paus hari Jumat, 26 Juni, dalam sesi pembukaan Konsistori Luar Biasa yang Tahta Suci.

Setelah merayakan Misa di Basilika Santo Petrus pagi hari, para kardinal menuju Aula Paulus VI – tempat mereka berkumpul di meja kerja yang telah ditentukan.

Para peserta dibagi ke dalam 8 kelompok kardinal elektor diosesan (termasuk para Nuncio Apostolik dan para kardinal elektor yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai uskup diosesan) serta 10 kelompok yang terdiri dari para kardinal yang bertugas di Kuria Roma bersama para kardinal non-elektor.

Setelah menyanyikan lagu Veni Creator, Kardinal Luis José Rueda Aparicio, yang memimpin sesi pertama, secara resmi membuka pertemuan dan mempersilakan Kardinal Giovanni Battista Re, Dekan Dewan Kardinal, untuk menyampaikan sambutan.

Selanjutnya, Paus Leo XIV memberikan pidato pengantar.

Meditasi Kitab Suci Kardinal Ryś

Setelah pidato Paus, Kardinal Rueda Aparicio menegaskan kembali permintaan Bapa Suci agar para kardinal mendukung pelayanannya. Ia juga menyampaikan keyakinan, sukacita, dan kesiapan mereka untuk membantu Paus.

Kemudian ia memperkenalkan tema pertemuan: Di dunia seperti apakah kita dipanggil untuk mewartakan Injil?”

Selanjutnya Kardinal Grzegorz Ryś menyampaikan meditasi Kitab Suci. Kardinal asal Polandia tersebut mengajak para peserta merenungkan penderitaan, ketegangan, dan berbagai persoalan yang dialami masyarakat serta komunitas Gereja saat ini, sekaligus mencari tanda-tanda harapan, kesetiaan kepada Injil, dan kemungkinan rekonsiliasi yang dapat menjadi bagian dari proses penegasan bersama.

Diskusi Kelompok

Setelah waktu doa hening yang cukup panjang, para kardinal berkumpul dalam kelompok kerja masing-masing untuk saling berbagi refleksi. Setiap kelompok menentukan sendiri waktu istirahat singkat sebelum kembali berkumpul dalam sidang pleno tengah hari.

Sekretaris dari seluruh delapan kelompok bagian pertama dan empat kelompok bagian kedua kemudian menyampaikan laporan hasil diskusi.

Di semua kelompok muncul kesadaran yang mendalam mengenai penderitaan yang dialami banyak orang pada masa perubahan sosial yang sangat besar saat ini.

Tantangan yang Diidentifikasi

Di antara persoalan utama yang muncul adalah:

  • meningkatnya polarisasi dalam masyarakat dan komunitas;
  • ketegangan politik dan kekerasan;
  • perpecahan sosial;
  • penyebaran informasi yang menyesatkan;
  • bentuk-bentuk komunikasi yang tidak mendorong perjumpaan.

Para peserta menilai bahwa polarisasi tersebut mempersulit pemerintahan dan hidup berdampingan secara damai. Kekerasan semakin sering dianggap sebagai cara menyelesaikan konflik, yang akhirnya memicu permusuhan pribadi, agresi, bahkan peperangan dan konflik antarnegara.

Beberapa kelompok juga menyoroti penderitaan akibat kurangnya penghormatan terhadap kelompok minoritas agama dan etnis, yang melemahkan kebebasan beragama serta memicu permusuhan, bahkan kekerasan, khususnya terhadap Gereja. Beberapa kelompok juga mengungkapkan meningkatnya fenomena antisemitisme.

Banyak kelompok membahas persoalan:

  • individualisme yang berlebihan;
  • krisis keluarga;
  • meningkatnya kesepian di kalangan lanjut usia maupun kaum muda.

Mereka melihat hal-hal tersebut sebagai penyebab munculnya persoalan yang lebih serius, seperti meningkatnya angka bunuh diri dan penyalahgunaan narkoba.

Perhatian besar juga diberikan kepada kesulitan yang dihadapi kaum muda akibat krisis ekonomi dan keuangan serta tantangan memperoleh pekerjaan.

Di banyak pembahasan muncul kesadaran akan semakin meluasnya rasa tidak percaya, fatalisme, dan ketidakberdayaan terhadap lembaga-lembaga, demokrasi, serta masa depan. Situasi ini juga berkaitan dengan:

  • menurunnya angka kelahiran;
  • berkembangnya organisasi kriminal;
  • kenakalan remaja;
  • perdagangan narkoba.

Sejumlah kelompok juga menyoroti pengaruh sekularisme, hilangnya nilai-nilai spiritual dan transenden, serta semakin berkurangnya makna hidup. Bersamaan dengan itu muncul kelelahan dan hilangnya pemahaman bersama tentang kebenaran, sehingga semakin sulit mengakui sesama dan membangun relasi yang tulus.

Para peserta juga menegaskan perlunya menghadapi persoalan migrasi secara manusiawi dan Kristiani. Mereka mengakui bahwa migrasi sedang mengubah masyarakat dan komunitas, sehingga kebijakan integrasi yang efektif semakin mendesak di tengah munculnya berbagai bentuk eksklusi baru.

Selain itu, mereka juga membahas:

  • krisis ekologi;
  • korupsi;
  • kesulitan hidup di kota-kota besar.

Gereja sebagai Ibu yang Menyambut

Menghadapi semua kenyataan tersebut, seluruh kelompok menegaskan bahwa Gereja harus tampil sebagai seorang ibu dan rumah yang terbuka bagi semua, termasuk melalui pembaruan kehidupan paroki.

Mereka mengatakan bahwa Gereja harus mampu mengakui kekurangannya sendiri, membantu penderitaan menjadi kesempatan untuk bertumbuh, dan mengingatkan dunia bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga.

Muncul pula kesadaran kuat mengenai tanggung jawab Gereja pada saat sejarah yang penting ini.

Banyak kelompok menilai bahwa ketika banyak lembaga mengalami krisis kepercayaan, Gereja justru dipanggil untuk berbicara dengan wibawa dalam membela:

  • martabat manusia;
  • perdamaian;
  • rekonsiliasi;
  • kesejahteraan bersama.

Terutama ketika Gereja tetap dekat dengan mereka yang menderita, Gereja memperoleh kredibilitas yang telah hilang dari banyak lembaga lainnya.

Para peserta menggambarkan Gereja sebagai ahli dalam membangun hubungan yang autentik dan memandang dunia dengan belas kasih.

Mereka juga mencatat bahwa semakin banyak kaum muda menunjukkan kerinduan akan Injil dan dapat membantu membangun dunia yang lebih baik melalui kedekatan dan solidaritas.

Sinodalitas dipandang sebagai jalan yang disediakan Tuhan bagi Gereja dan umat manusia dalam mencari jawaban atas tantangan zaman.

Kasih dan solidaritas dipandang sebagai kesaksian nyata yang diberikan oleh banyak umat awam yang murah hati. Para migran juga dipandang sebagai berkat bagi komunitas yang menerima mereka.

Menurut para peserta, Gereja terus bekerja demi perdamaian dan demi menyambut semua orang dalam komunitas iman.

Beberapa kelompok juga menyoroti kesaksian luar biasa Gereja ketika hidup sebagai “kawanan kecil” di tengah banyak bangsa.

Pendidikan dipandang sebagai tempat membangun kembali kesejahteraan bersama. Bertambahnya panggilan hidup membiara dan imamat, berkembangnya devosi umat, serta iman penuh sukacita dari Umat Allah semuanya dipandang sebagai tanda-tanda harapan.

Para peserta juga menegaskan pentingnya:

  • menolak kekerasan;
  • memajukan dialog, termasuk dialog ekumenis dan antaragama;
  • mengakui doa sebagai dasar dalam memelihara perdamaian.

Dalam konteks ini, beberapa kelompok merujuk pada Perjalanan Apostolik Paus ke Spanyol baru-baru ini dan menggambarkan kata-kata Paus Leo sebagai suara yang setia sekaligus bebas bagi dunia masa kini.

Penutup Paus

Paus Leo tetap hadir hingga dimulainya diskusi kelompok, kemudian kembali sesaat sebelum sidang pleno dilanjutkan.

Pada akhir penyampaian laporan kelompok, beliau mengucapkan terima kasih kepada semua peserta dan kembali menekankan pentingnya partisipasi serta dialog.

Merujuk pada meditasi Kardinal Ryś dan gambaran tentang orang yang dibiarkan setengah mati, Paus berkata: “Jika kita tidak buta, kita melihat bahwa sungguh begitu banyak penderitaan.”

Beliau melanjutkan bahwa kesepian dan penderitaan merupakan salah satu akibat dari masyarakat masa kini.

Gereja menanggapi tantangan ini dengan mengundang semua orang masuk ke dalam persekutuan, bukan hanya dengan membuka gereja dan merayakan sakramen, tetapi juga dengan menciptakan kesempatan dan pengalaman perjumpaan yang sungguh nyata.

Sesi pagi kemudian ditutup dengan Doa Angelus, dan para kardinal dijadwalkan berkumpul kembali sore hari untuk melanjutkan sesi sore.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo