Mat 8:28-34
DI sebuah daerah, masyarakat dibuat heboh oleh kabar adanya seratus Pos MBG fiktif yang disebut-sebut telah berdiri dan melayani warga.
Dalam berbagai laporan, semuanya tampak begitu meyakinkan: ada alamat, ada data, bahkan ada angka-angka yang menunjukkan keberhasilan program.
Namun, ketika beberapa warga mencoba mencari alamat-alamat tersebut, mereka menemukan sesuatu yang janggal.
Ada pos yang ternyata berada di tengah sawah. Ada yang menurut alamatnya berada di tanah kosong. Sebagian lagi mengarah ke kebun, hutan, bahkan area pemakaman. Tidak ada bangunan, tidak ada aktivitas pelayanan, tidak ada tanda-tanda keberadaan pos yang dimaksud.
Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, kebenaran sering kali dianggap tidak penting. Data dapat dimanipulasi, laporan dapat diperindah, dan kenyataan dapat disembunyikan. Yang penting angka terlihat bagus dan manfaat pribadi tercapai.
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Lalu seluruh penduduk kota itu keluar mendapatkan Yesus. Setelah berjumpa dengan Dia, mereka mendesak supaya Ia meninggalkan daerah mereka.”
Ada ironi yang menyedihkan dalam kisah orang-orang Gadara. Mereka melihat dua orang yang selama ini hidup dalam penderitaan telah dipulihkan oleh Yesus.
Orang yang dahulu kerasukan setan, terasing dari masyarakat, dan hidup di antara kuburan kini mendapatkan kembali martabat, kebebasan, dan harapan hidup. Namun, alih-alih bersukacita, penduduk Gadara justru lebih sibuk menghitung kerugian materi karena kawanan babi mereka mati.
Mata mereka tertuju pada babi yang hilang, bukan pada manusia yang diselamatkan.
Hati mereka lebih terluka oleh berkurangnya harta daripada tergerak oleh pemulihan sesama. Karena itu mereka meminta Yesus pergi. Mereka memilih kenyamanan ekonomi daripada kehadiran Sang Penyelamat.
Dalam kehidupan kita, betapa sering kita rela menukar Tuhan dengan harta benda, kekayaan, jabatan, popularitas, dan berbagai kenikmatan duniawi. Demi keuntungan, orang dapat mengabaikan kejujuran.
Demi popularitas, orang dapat mengorbankan kebenaran. Demi kekayaan, orang dapat kehilangan kepedulian terhadap sesama. Bahkan tanpa sadar, Tuhan dipersilakan pergi sejauh Ia dianggap mengganggu kepentingan pribadi.
Bagimana dengan diriku?
Apakah ada “babi-babi” dalam hidup saya yang lebih saya cintai daripada Tuhan?












































