Lin, Selamat Hari Valentine!

0
1,888 views

TIGA tahun lalu aku tersentak melihatmu. Benarkah ini Lin, sahabatku?

Badanmu masih  selangsing dulu. Rambutmu masih sebahu. Senyum masih merekah, namun kamu terlihat sedikit berbeda.

Ah,hanya  sorot matamu yang membedakan dulu dan sekarang. Kini,  aku melihat adanya sorot mata yang menyiratkan kesedihan, keputusasaan, dan penderitaan. Lin, siapa yang menyakiti jiwamu yang merdeka? Siapa yang tega membungkam rasa humorismu?

Engkau tidak pernah bercerita.  Hanya ada senyum kecil dan senantiasa mengelak ketika kukomentari mengapa menjadi sekurus sekarang?  Kok kurusan ya. Kurus ya?  Bisa jadi sedikit turun berat badan, namun masih suka pakaian sama. Tentu bukan karena ingin hemat bukan?

Sedari dulu, Lin boleh dibilang termasuk tipe pribadi yang mandiri dan memang cenderung introvert.. Aku ingat kamu begitu intens mendengar isi curhatan teman-teman. Kamu selalu mencoba menawarkan telinga dan hatimu pada lingkunganmu.

Pelan-pelan kuselidiki dengan cara mengajakmu bercerita panjang lebar, sambil menyelipkan pertanyaan-pertanyaan di antara obrolan kita. Lantas akhirnya sekilas aku tahu apa permasalahanmu.

Pernikahanmu kurang bahagia, pasanganmu kurang menghargaimu. Walau engkau hanya berkomentar dia itu baik, orangnya baik hati, suka berdiam diri dan cenderung terlalu serius. Ah, Lin yang selalu suka usil dan selalu menemukan hal lucu untuk dikomentari dari sekelilingnya akhirnya menikah dengan cowok tipikal serius dan rupanya tidak suka diajak  tertawa apalagi ditertawakan.

Tapi Itu tiga tahun lalu.

Hari ini kita bertemu lagi, wajahmu masih sama seperti dulu. Penampilanmu juga seperti template itu-itu, tapi lagi-lagi aku menangkap ada yang jauh berbeda. Engkau nampak cerah, wajahmu bersinar, sorot matamu berkilat indah. Lin, engkau bahagia!

Pernikahan kalian makin membaik, itu yang kudengar dari kiri kanan. Suamimu pernah mengungkapkan betapa berharganya istrinya, dan Lin juga menurunkan harapan indah dalam relasi hidup berkeluarga. Perbandingan antara tingkat harapan dengan kenyataan yang menentukan tingkat kebahagiaan kita, begitu teorimu dulu menyontek teori kepuasan konsumen yang kita pelajari.

Semakin tinggi harapan diletakkan, semakin sulit mencapai kebahagiaan karena kenyataan sulit mencapainya. Maka kalau ingin bahagia, turunkanlah harapan sedekat mungkin dengan kenyataan atau tidak usah berharap sama sekali.Itu isi kelakarmu kuingat selalu.

Biasa saja. Itu selalu isi komentarmu setiap kali ditanyai kabarmu selama ini. Engkau memang selalu merendah. Kamu tidak mau membanggakan keberhasilanmu atau menceritakan kegagalanmu.

Happy Valentine Lin! Seruku begitu melihatmu. Sama-sama Li, sahutmu langsung sambil tersenyum manis. Wah, hepi banget, baru dapat hadiah Valentine dari suami ya? Godaku.

Ah, suamiku sama sekali tidak suka Valentine.Bahkan mengucapkan Happy Valentine saja tidak mau hehe. Tidak pernah ada perayaan, apalagi hadiah apa pun, cetusmu sambil terkekeh.

Lin, aku iri, karena walaupun  tidak ada perayaan Valentine apa pun dalam keluargamu, tidak mendapat coklat sampai beberapa potong seperti Winda atau sekuntum bunga mawar seperti Kris, engkau mengalami Valentine tiap hari.

Selamat Valentine Lin, semoga kami juga setegar kamu dalam menjalin hidup. Akan kuingat perbandingan harapan, kenyataan, dan kebahagiaan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here