91 Tahun WKRI: Mgr. Suharyo, Belarasa di Sebuah Relief Candi Borobudur (2)

0
1,517 views

BELARASA (compassion) merupakan konsep iman. Hal itu dijabarkan dengan jelas oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo pada acara Lokakarya Nasional WKRI dalam rangka ulang tahunnya ke-91.

Landasan bliblis belarasa menurut Ketua Presidium KWI ini adalah Mat 5:48 “Hendaklah kamu sempurna seperti BapaMu yang di surga sempurna adanya.” Juga, Luk 6:36 “Hendaklah kamu berbelarasa seperti BapaMu di surga berbelarasa.”

Manusia sempurna?

Apa yang dimaksud dengan manusia sempurna? Manusia sempurna merupakan manusia yang berbelarasa seperti Bapa yang berbelarasa, jelas ahli kitab suci lulusan Universitas Urbaniana di Roma, Italia ini.

Belarasa sendiri merupakan istilah yang baru dikenal 15 tahun terakhir ini. Belarasa merupakan terjemahan yang dirasa pas untuk kata compassion, yang berasal dari kata latin compassio (cum = bersama, passio = menderita) yang berarti bersama menderita. Dalam bahasa Inggris, kata Latin itu menjadi compassion, compassionate. Maka seperti tagline yang diusung oleh Keuskupan Agung Jakarta “semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbelarasa”, iman – saudara – belarasa memang berkaitan erat. Orang-orang yang beriman tentulah terhubung dalam persaudaraan yang sejati, yang diwujudkan dalam sikap berbelarasa.

Relief Candi Borobudur

Mgr. Suharyo menceritakan suatu kisah tentang belarasa yang ternyata telah diekspresikan di Indonesia sejak zaman dahulu kala. Kisah itu terlukis di salah satu batu relief Candi Borobudur.

Ada pahatan tentang seorang orang tua bongkok yang berdiri dengan tongkat di depan empat binatang. Binatang pertama adalah seekor kera dengan sebuah pisang di tangannya. Kedua, berang-berang dengan seekor ikan. Ketiga, serigala dengan sebuah mangkok susu, dan terakhir seekor kelinci yang tak membawa apa-apa.

mgr suharyo
Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo (Kiri) memberi presentasi tentang konsep iman belarasa berdasarkan landasan biblis dan tradisi local genius. Duduk di tengah adalah Justina Rostiawati. (Royani Lim/Sesawi.Net).

Konon, cerita Mgr. Suharyo, keempat binatang itu ingin membantu si pengembara tua itu dengan menawarkan sesuatu baginya.

  • Kera berkata, ‘Bapak kelihatan lelah, silakan makan pisangku’.
  • Berang-berang memberikan ikannya.
  • Serigala menyodorkan semangkok susu.
  • Si kelinci yang tidak membawa apa-apa berkata, ‘Bapak, bawalah saya, masaklah untuk menjadi makanan bagi dirimu.’

Belarasa Yesus

Mgr. Suharyo lebih lanjut menjelaskan Yesus (6 SM – 28 M) yang penuh belarasa. Hal itu harus dipahami dengan melihat latar belakang zaman dimana Yesus lahir. Kondisi realita sosial politik saat itu dipenuhi kebobrokan dan ketidakadilan. Kaum Yahudi dijajah oleh kerajaan Romawi yang merampas harta rakyat. Maka muncul banyak perampok, kaki tangan penjajah, juga pemungut cukai yang dibenci masyarakat.

Kondisi lain yang miris saat itu adalah orang yang miskin dan tersisih mendapat tambahan cap buruk sebagai ‘orang yang tidak dikasihi Allah’.

Kondisi-kondisi tersebut secara manusiawi membuat Yesus berpihak. Dalam Kitab Suci dikisahkan bagaimana Yesus bergaul dengan orang berdosa, orang yang tersingkir, orang yang dianggap tidak dikasihi Allah tersebut. Gambaran Allah yang agung tidak muncul seperti yang dipikirkan masyarakat zaman tersebut, tetapi Yesus menampilkan Allah yang berbelarasa.

Setiap gambaran Allah yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi pilihan kita bersikap, termasuk pilihan kata-kata yang digunakan,” papar Mgr. Suharyo seraya memberi contoh.

“Seorang ibu yang ingin melarang anaknya yang masih kecil supaya tidak mengambil permen berkata kepada anaknya ‘jangan ambil permen karena Tuhan mengawasi’. Anaknya kemudian mengambil dua permen, dan ketika ditanyakan oleh ibunya, dia menjawab ‘Tuhan berkata boleh ambil dua’. Sang ibu memiliki gambaran Allah yang tukang mengawasi, sedangkan sang anak memiliki gambaran Allah yang baik hati.”

Konsep iman menjadi kompetensi etis, yaitu konsep dimana kita hidup. Dalam konteks berbangsa, maka sila kelima Pancasila bisa menjadi landasan selain Ajaran Sosial Gereja (ASG).

Inti dari ASG ada empat, yaitu:

  • Hormat terhadap kehidupan dan martabat manusia.
  • Kebaikan bersama – bonum commune.
  • Mesti dikembangkan solidaritas.
  • Memberi perhatian lebih kepada yang miskin.

Untuk mewujudkan hal tersebut, maka dibutuhkan habitus baru bangsa (seperti dijabarkan dalam Nota KWI tahun 2004). Tiga pilar bangsa – negara, bisnis, masyarakat – perlu berfungsi baik. Negara menjalankan fungsinya menjaga kesejahteraan umum; bisnis menganut prinsip fairness dalam kegiatannya; dan masyarakat taat azas dan saling percaya.

Lantas, apa yang harus kita lakukan supaya lingkungan hidup kita semakin manusiawi?

Perlu dua kompetensi etis yaitu belarasa dan kerjasama.

Menurut Mgr. Suharyo, belarasa bisa dilatihkan kepada anak-anak misalnya dengan kegiatan live-in dan membuat analisa sosial tentang masalah di lingkungannya.

Paparan Mgr. Suharyo merupakan rangkaian dari Lokakarya Nasional WKRI. Organisasi katolik terbesar dan terlama di Indonesia ini, merayakan ulang tahunnya dengan sederhana namun bermakna. Lokakarya Nasional di Jakarta dihadiri tidak kurang dari 200 anggota yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia, bahkan dari beberapa provinsi di Sumatera dan Kalimantan yang sedang mengalami bencana asap. (Baca:  91 Tahun WKRI, Lokakarya Nasional Perempuan, Martabat, dan Kepedulian)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here