Amalkan Semangat “100% Katolik, 100% Indonesia”, Mgr. Ignatius Suharyo Ajak Kaum Religius di Pontianak

0
574 views
Mgr. Ignatius Suharyo bersama Ketua Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat (FKRK) Kalbar Br. Rafael MTB, Provinsial SFIC Sr. Irene dan Provinsial KFS Sr. Elisa (kanan) - Ist

KUNJUNGAN pastoral Mgr. Ignatius Suharyo ke Keuskupan Agung Pontianak  terjadi dalam rangka audiensi dengan segenap prajurit TNI-Polri se-Garnizun Pontianak. Uskup Agung Keuskupan Jakarta sekaligus Uskup TNI-Polri Ordinariat Militer Indonesia (OCI) ini mengunjungi  Pontianak selama 3 hari, 17-19 Juli 2018.

Sambutan khas Tanah Borneo pun diberikan kepada Mgr. Suharyo beserta rombongan tatkala menginjakkan kaki di Bumi Kalimatan Barat. Tradisi pengalungan syal manik-manik motif Dayak serta tarian tradisional merupakan simbol penyambutaan untuk tamu agung.

Kedatangan Mgr. Ignatius Suharyo yang juga Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) ini disambut langsung oleh Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus beserta para pejabat TNI-Polri dengan penuh sukacita.

Paparan Mgr. Ignatius Suharyo di hadapan segenap religius (imam, bruder, suster) lintas Ordo dan Kongregasi serta para imam lainnya di Biara SFIC Jl. AR Hakim, Kota Pontianak.

Dalam kunjungan perdananya sebagai Uskup Militer, Mgr. Ignatius Suharyo juga memenuhi undangan Kuria Keuskupan Agung Pontianak untuk mengadakan audiensi dan jamuan makan malam dengan para imam, biarawan-biarawati.

Berdasarkan surat undangan resmi yang ditujukan kepada seluruh Ordo dan Kongregasi yang berkarya di tlatah Keuskupan Agung Pontianak tertanggal 12 Juli 2018, Sekretaris Uskup Agung Pontianak Romo Barces CP menyampaikan, Rabu sore 18 Juli 2018 dan bertempat di Susteran SFIC Jl. AR Hakim 104 -belakang Katedral St. Yosef- akan berlangsung acara tersebut.

Dalam sambutannya, Mgr. Suharyo menyampaikan paparan tentang sejarah singkat berdirinya Keuskupan TNI-Polri Ordinariat Militer Indonesia (OCI) dan ragam reksa pastoral atau pelayanannya. “Ada 37 Keuskupan Teritorial yang tersebar di penjuru Nusantara, namun hanya ada satu Keuskupan Kategorial TNI-Polri dan itu hanya ada di Indonesia,” ungkapnya.

Lanjutnya lagi, “Berdasarkan data statistik tahun 2017, jumlah prajurit TNI Katolik aktif telah mencapai angka 10.241 personil.”

Ketika paparan itu disampaikan, data personil Katolik dari jajaran Polri belum tersedia.

Mgr. Ignatius Suharyo bersama para suster SFIC.

Cintatanah air itu penting

Di hadapan para imam, biarawan-biarawati lintas Ordo dan Kongregasi ini, Mgr. Suharyo juga menyampaikan pesan bahwa religius yang hidup dan berkarya di wilayah NKRI perlu memiliki kecintaan terhadap negeri ini.

“Cinta Tanahair adalah watak khas kita sebagai warga negara Indonesia. Seruan ‘100% Katolik, 100% Indonesia’ itu merupakan wujud dari sikap patriotik yang diimbangi dengan iman Katolik yang berlandaskan semangat Injil,” ungkapnya.

Uskup Suharyo juga mengajak para imam, biarawan-biarawati ini tentang pentingnya merawat ingatan bersama.

Para religius lintas Ordo dan Kongregasi.
Para suster lintas Kongregasi menghadiri acara ramah-tamah bersama Mgr. Ignatius Suharyo.
Kesempatan untuk saling bertemu muka dan menjalin keakraban.

“Warisan pendahulu mesti dijunjung tinggi dan tonggak sejarah perlu dirawat. Lagu-lagu kebangsaan harus dikumandangkan lagi khususnya di sekolah-sekolah sebagai ungkapan rasa cinta akan negera Indonesia,” ungkapnya.

Tambahnya lagi, “Mari kita mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.”

Mgr. Suharyo mengatakan, sebagai warga negara Indonesia, kita ini telah dipersatukan oleh bahasa yang sama, ideologi, serta sejarah  sama di masa lampau dan cita-cita yang sama pula mengenai masa depan bangsa.

Cita-cita bangsa Indonesia termuat dalam Pancasila dan UUD 1945. “Setiap bentuk kegiatan, pelayanan untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila yang amat mulia dan luhur, pastilah juga merupakan bentuk nyata dari perwujudan imam kita,” ungkapnya mengakhiri sambutan.

Para prajurit TNI-Polri berpakaian preman  terus ‘mengawal’ dan mengikuti kunjungan pastoral Uskup TNI-Polri Mgr. Ignatius Suharyo di Pontianak.

Kunjungan uskup luar Pontianak itu langka

Silahturahmi internal Mgr. Suharyo dengan para imam, biarawan-biarawati seperti itu telah membawa atmosfir segar bagi para religius ini. Pasalnya, kunjungan semacam ini sangat langka terjadi.

“Saya bersyukur boleh hadir dan berjumpa langsung dengan Mgr. Suharyo. Kalau saja bukan bertepatan dengan kunjungan pastoral sebagai Uskup Militer, kesempatan untuk berjumpa langsung dengan beliau sangat kecil, oleh karena jadwal beliau sangat padat,” ungkap Sr. Rosa Delima, suster muda Kongregasi SFIC.

Suasana pertemuan ramah tamah antarreligius lintas Ordo dan Kongregasi.

Provinsial SFIC Suster Irene mengungkapkan hal senada. Momen bisa bersilahturahmi dengan Uskup dari luar Keuskupan Agung Pontianak ini menjadi berkat luar biasa bagi segenap imam, suster, dan bruder lintas Ordo dan Kongregasi di Pontianak.

“Kunjungan Mgr. Suharyo ke Komunitas Susteran SFIC dalam rangka memenuhi undangan jamuan makan malam dan boleh bertatap muka langsung itu merupakan berkat bagi kami,” ungkapnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian tanda kasih berupa Rosario Marah Putih oleh Romo Roni Pr kepada Br. Rafael MTB, Ketua Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat (FKRK).

Saatnya makan malam bersama.
Kedua Monsinyur (kiri,kanan) mulai menikmati sajian makan malam di Biara SFIC di Jl. AR Hakim, Kota Pontianak.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here