Berserah Diri kepada Tuhan yang Maha Baik

0
189 views
Ilustrasi: Pasrah pada Tuhan. (Ist)

IMAN mesti dilaksanakan dalam hidup sehari-hari. Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.

Ada dua petani yang menghadapi masa sulit. Dua petani ini sedih, karena ladang mereka kering. Kekeringan terjadi sepanjang tahun dan uang pinjaman dari bank sudah tidak lagi tersisa.

Kekeringan di tahun sebelumnya tentu saja membuat harapan hilang untuk tahun berikutnya. Saat ahli cuaca mulai meramalkan kondisi cuaca berikutnya, kedua petani itu datang kepada Tuhan. Mereka menengadahkan wajah ke surga dan meminta Tuhan untuk mengirimkan hujan.

Minggu-minggu berlalu. Hujan masih tetap belum datang. Saat ada yang bertanya, keduanya menjawab bahwa mereka tetap beriman, jika Tuhan akan menjawab doa-doa mereka.

Tetapi seorang petani melakukan sesuatu. Dia memanjat traktornya, membajak ladang dan menanam benih.

Lalu pada waktunya, Tuhan menjawab doa-doa para petani itu dengan mengirimkan hujan. Tetapi hanya satu petani yang memanen hasilnya. Kenapa?

Karena terlepas dari kekeringan yang terjadi, petani ini percaya bahwa Tuhan akan memberkati benih yang dia tanam dengan iman. Dia menabur benih itu dengan tangannya dan Tuhan sendiri yang memberikan pertumbuhan dan tuaian.

Memupuk Kesabaran

Dalam hidup ini ada begitu banyak tantangan yang mesti dihadapi. Ketika berani menaruh pengharapan pada Tuhan, orang akan menemukan hidup ini begitu indah. Tuhan tidak pernah lupa akan pertolonganNya.

Pada saatnya, Tuhan memberikan bantuanNya. Manusia tidak perlu mengancam Tuhan.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk senantiasa menaruh pengharapan pada Sang Pencipta.

Namun pengharapan itu mesti diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari. Orang tidak hanya berharap, tetapi mesti melakukan sesuatu bagi hidupnya sendiri. Petani yang memanjat traktor dan membajak adalah petani yang yakin akan datangnya penyelenggaraan Tuhan.

Ia tidak kehilangan harapan.

Seperti petani yang membajak dan menabur itu, setiap orang diajak untuk melakukan sesuatu bagi hidupnya. Dengan cara ini, orang menyiapkan diri untuk menerima rahmat demi rahmat yang mengalir dari Tuhan sendiri.

Namun ada juga yang memaksa Tuhan, agar segera mengabulkan permohonan mereka. Mengapa? Mungkin mereka kurang sabar dalam menanti pengabulan doa mereka.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah kesabaran sebagai penyerahan diri yang dalam kepada Tuhan. Hal seperti ini membutuhkan iman yang mendalam kepada Tuhan.

Ketika orang menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan, orang mesti yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan setiap permohonan yang dipanjatkan kepadaNya.

Mari kita terus-menerus mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, karena Tuhan akan senantiasa peduli terhadap hidup kita.

Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here