Bongkar

0
203 views
Bongkar muatan kapal di dermaga Pelabuhan Asmat di Papua by Mathias Hariyadi

“SEDANG bongkar-bongkar almari! Walau sudah gede, anak-anak suka mengacak-acak pakaian. Yang diseterika dan ditata rapi sudah jadi messy, berantakan. Ditambah lagi, mereka suka menaruh apa saja di almari. Pokoknya, semua kacau. Bongkar! Mesti ibunya yang harus merapikan,” demikian kisah seorang ibu menjelang Idul Fitri.

Setelah tahu ketidakteraturan, bongkar-bongkar dilakukan untuk menata ulang. Yang tidak lagi rapi, dirapikan kembali. Yang tidak teratur, diatur ulang.

Satu demi satu tumpukan karung-karung beras yang tersusun rapi di palka dipindahkan. Buruh angkut memanggul dan menempatkan kembali dengan rapi di bak truck. Membongkar dan memuat.

Si Wulan juga membongkar sikap. Suka cemberut; mengurung diri; tanpa senyum. Berbalik senyum mengembang, bersua sahabat dan selalu riang.

“Itu. Paman sedang bongkar rumah. Rumah kayu sudah lapuk. Harus dibongkar. Membahayakan. Dibuat lagi, supaya layak dihuni.”

Membongkar total dan membangun baru sangat sulit, mahal perlu pengorbanan besar.

Mengubah sedikit saja timbangan pasti mendatangkan kenikmatan. Menambahkan satu angka 0 (nol) dalam laporan keuangan, pasti, mengantar pada kekayaan. Membungkus label berkualitaspada beras yang biasa saja menggelorakan sensasi nikmat.

Kapal sandar di dermaga Asmat, Papua by Mathias Hariyadi

Sukar, bahkan sering tak mau, ini dibongkar. Kenikmatan ini janganlah cepat berlalu.

Rumah rusak yang harus dibongkar dan dibuat baru: hatimu dan hatiku. Di situ semua sumber kebobrokan menghancurkan rumah kita: pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.

Bongkar. Bongkar. Bongkar. Buat rumah baru yang layak huni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here