Buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian”, Bagaimana “Menemukan” Allah? (4)

4
1,122 views
Santo Ignatius de Loyola. (Ist)

SALAH satu ‘kesalahan’ yang sering dilakukan orang ketika bicara tentang spiritualitas hidup rohani, demikian Pastor James “Jim” Martin SJ dalam bukunya Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian, adalah kelupaan membahas tema penting berikut ini. Yakni,  bagaimana caranya  bisa ”menemukan” Allah?

Menurut Jim Martin, pertanyaan itu menandai titik awal keberangkatan untuk ”menemukan” Allah, terutama bagi para peziarah batin. Yang mengherankan, ternyata banyak buku spiritualitas malah mengabaikan hal ini.

Beberapa buku spiritualitas malah sudah beranggapan dan begitu saja mudah mengandaikan bahwa para pembaca sudah percaya pada Allah dan bahwa mereka itu telah menemukan Allah atau bahwa Allah itu sudah menjadi bagian hidupnya.

Baca juga:

Bagi Jim Martin SJ, sungguh sayang buku spiritualitas sering lupa menjawab pertanyaan penting itu. Hal ini, kata dia, ibarat orang tengah menulis buku tentang berenang, tanpa terlebih dahulu membahas pertanyaan bagaimana caranya bisa mengapung di atas permukaan air.

Enam “Jalan Besar”

Untuk menjawab pertanyaan ”bagaimana cara ‘menemukan’ Allah?”, kita sebaiknya melihat berbagai cara orang dalam upayanya  ‘mencari’  Allah.

Untuk itu, Jim Martin SJ mengintroduksi enam kategori “Jalan Besar” tentang cara atau kondisi orang saat mengenal Allah.

Setiap ‘jalan’ mengandung manfaat, namun sekaligus juga membawa perangkap.

  1. Jalan Iman

Orang bisa dengan gampang merasa diri  telah ‘menemukan’ Allah,  karena sedari kecil ia sudah hidup dalam suasasana serba ‘religius’.

Itulah suasana hidup ketika orang berada di dalam sebuah keluarga dimana terjadi  doa bersama setiap hari, seluruh anggota keluarga sering pergi menghadiri ekaristi harian, sering melakukan pengakuan dosa dan semua anggota keluarga  telah lengkap menerima sakramen di antaranya Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma serta sudah menerima komuni pertama.

Riwayat hidup Pastor Walter Ciszek SJ sebagaimana terlukis indah dalam bukunya With God in Russia adalah contoh kasus kategori ‘jalan’ ini.

Sedari kecil, Pastor Ciszek SJ tumbuh berkembang dalam sebuah keluarga katolik taat dan religius. Baginya dan seluruh anggota keluarga, gereja paroki  menjadi semacam ‘pusat’ kehidupan sosial keluarga.

Jadi tidak mengherankan,  ketika Pastor Ciszek SJ sudah ‘berani’ mengatakan hal ini  dalam bab pertama bukunya: ”Pasti berkat doa-doa ibuku dan teladan hidupnya, bahkan ketika masih duduk di kelas delapan itu pun, saya  sudah berani berkesimpulan dan telah memutuskan diri ingin menjadi imam.”

“Apa yang bagi banyak orang akan menjadi keputusan yang sulit, justru bagi Pastor Walter Ciszek yang masih semuda itu,  hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat biasa sekali,” demikian tulis Pastor Jim Martin SJ dalam bukunya  Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian.

Manfaat  ‘jalan hidup’ berada di dalam lindungan iman kepada Allah ini sangatlah jelas.  Iman telah memberi makna di balik aneka pengalaman suka-duka kehidupan.

Beriman kepada Allah berarti kita meyakini bahwa kita ini tidak sendirian. Kalau kita menyadari hal itu, maka kita merasa diri seperti terbimbing.

Dalam kondisi sulit, iman bisa menjadi pegangan hidup.  “Iman yang demikian inilah yang menjadikan Pastor Walter Ciszek SJ mampu bertahan dalam penderitaan selama bertahun-tahun harus bekerja rodi di kamp kerja paksa di Siberia, Uni Soviet,” tulis Jim Martin SJ dalam bukunya.

Godaannya adalah iman sudah dianggap sebagai keniscayaan. Tetapi bagaimana pun, iman itu harus tetap dirawat dan diolah agar tumbuh berkembang.

Seperti kalau kita ingin punya taman, maka bekal-bekal dasar seperti punya tanah rasanya belumlah cukup.  Lahan itu  harus diolah, benih harus dicari dan disemaikan, air harus dialirkan, sehingga taman itu bisa menjadi hijau dan indah. Jadi,  tetap ada ‘partisipasi’ kita .

Godaan lainnya adalah kita bisa dengan mudah jatuh pada ‘dosa’  gampang  meremehkan orang lain yang masih belum sampai ke ‘tahapan’ tingkat kedewasaan iman sebagaimana kita alami. Kesombongan macam ini  bisa membuat kita  merasa  eksklusif, entah sadar atau tidak  lalu cenderung menyingkirkan orang lain dari lingkaran zona nyaman dan komunitas imannya.

“Ini jelas cara penghayatan iman yang tidak elok, tidak mampu menghadirkan sukacita. Boleh juga dibilang contoh penghayatan  iman egois dan inilah yang dicela Yesus sebagai kebebalan rohani,” tulis Jim Martin SJ.

  1. Jalan Kebebasan

Yang masuk kategori ini adalah mereka yang suka mengambil jarak dengan lembaga agama dan tidak mau aktif, namun masih tetap percaya pada Allah.  Mereka adalah orang-orang yang ‘alergi’ terhadap ritus-ritus liturgi dan menganggap semua itu ‘sampah’.

Mengapa bisa terjadi demikian? Bisa jadi, karena mereka pernah dikecewakan oleh Gereja atau menjadi korban perlakuan tidak baik oleh oknum petugas Gereja (baca: pastor).

Akibatnya ini: sekalipun mereka masih beriman kepada Allah, nyatanya orang-orang ini merasa tidak lagi menjadi bagian Gereja. Orang-orang macam ini sering kita sebut sebagai kelompok katolik yang kecewa, menjauh atau malah suka menggugat terhadap tatanan.

“Walaupun telah menjaga jarak, banyak orang dalam kategori ini tetaplah orang yang beriman. Mereka tetap saja bisa merasakan kedamaian batin,  karena masih membiasakan diri  tetap melakukan berbagai kegiatan keagamaan yang sudah sejak kecil mereka biasa lakukan,” tulis Jim Martin SJ.

Godaannya, kelompok ini bisa menjadi perfeksionis dan cenderung melihat kegagalan semua agama.

  1. Jalan Ketidakpercayaan

Kategori ini  meliputi mereka yang  sudah tidak mau lagi  berurusan dengan organisasi keagamaan.  Lebih dari itu, orang-orang macam ini bahkan sudah sampai pada kesimpulan bahwa Allah itu tidak ada dan tidak mungkin ada.  Karena itu, mereka lalu menolak paham agama tentang eksistensi Allah.

‘Keuntungan’  berada  di Jalan Ketidakpercayaan  ini adalah bahwa mereka tidak mau begitu saja menelan mentah-mentah klaim-klaim dari agama mana pun.

Bahkan, sering kali orang-orang ini malah berpikir lebih ‘maju’ daripada pikiran orang-orang beriman. Demikian pula, sering kali  kita menemukan bahwa pribadi-pribadi yang begitu murah hati ini justru banyak berasal dari kelompok ini.

Jadi, ”santo-santa dari dunia sekuler” itu benar-benar ada.

  1. Jalan Pertobatan

Usai berbagai  pengalaman menimpa hidup, lalu orang mulai bertanya: “O, hanya begini saja?”. Ketika orang berhasil merengkuh sukses besar, maka dia pun bertanya: ”Mosok,  hanya sebegini saja?”

Atau setelah kematian orangtua, kita mulai berpikir mengenai kematian.  Dari sini kemudian muncul sebuah ”peziarahan batin”  iman, meskipun ini bukan tipikal iman yang persis sama mereka pahami saat masih anak.

Ini adalah pengalaman pribadi Pastor Jim Martin SJ.  Sejak kecil, ia sudah terbiasa memahami Allah dan mempersepsi-Nya tak lebih sebagai ”Pemberi Solusi yang Hebat”. Bila Allah itu baik, begitu asumsi Martin, maka  Dia pasti akan mengabulkan doa permohonannya. Jadi, mesti ada alasan hingga mengapa Allah sampai tidak (mau) mengabulkan doa-doanya?

Ketika Jim Martin mulai  tumbuh dewasa, konsep Allah sebagai ”Pemberi Solusi yang Hebat” itu memudar. Itu karena Allah terkesan tidak begitu tertarik mau menyelesaikan semua masalah.

“Saya berdoa, berdoa, dan terus berdoa, namun masalah-masalah saya tetap saja tidak terselesaikan. Mengapa tidak bisa rampung? Dan itu yang membuat saya heran. Apakah Allah lantas tidak memperhatikan saya?,” tulisnya dalam buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian.

Gejala ringan agnostik mulai muncul, ketika Pastor Jim Martin SJ  menyaksikan kawan baiknya Brad meninggal dunia karena kecelakaan.

“Saat pemakaman, saya duduk di dalam sebuah Gereja Episkopal, dikelilingi keluarga Brad yang sangat terpukul. Pada saat itu, pikiran saya mulai berkecamuk tentang absurditas beriman kepada Allah—karena Dialah yang telah membiarkan Brad kecelakaan dan kemudian membiarkannya  mati. Di akhir ibadat, saya memutuskan tidak mau percaya lagi kepada Allah,” tulis Padtor Jim Martin SJ.

“Ateisme baru yang waktu itu menguasai hati sungguh telah membuat saya antusias. Tidak hanya bahwa saat itu pula saya lalu merasa sebagai orang cerdas. Lebih dari itu, dalam diri saya pun mulai muncul kepuasan bahwa saya telah berhasil menghempaskan sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.  Mengapa saya mesti  percaya kepada Allah yang ternyata tidak dapat dan tidak mampu mencegah datangnya penderitaan?,” begitu gugatnya.

“Ateisme itu tidak hanya terhormat secara intelektual, tetapi juga membawa keuntungan praktis: karena sejak itu, setiap hari Minggu,  saya merasa lebih bebas dan tidak merasa perlu harus ke gereja. Dengan begitu, saya beringsut menuju Jalan Ketidakpercayaan,” begitu pengakuan jujur Pastor Jim Martin SJ sebagaimana muncul dalam bukunya  Spritualitas Yesuit dalam Keseharian.

  1. Jalan Eksplorasi

Secara historis, para Yesuit sering banyak terlibat dalam kegiatan teater, apalagi para Yesuit tempo dulu juga sering memakai seni drama di kolese-kolese Yesuit. Duduk ngobrol bersama para aktor adalah saat ketika  Pastor Jim Martin SJ tidak hanya belajar memahami dunia teater.

Lebih dari itu, inilah kesempatan bagi pastor Yesuit Amerika ini untuk  bisa bertemu dengan orang-orang yang tengah ‘berziarah’ di jalan kehidupan yang tidak pernah dia alami sebelumnya.

Mereka itu berada di Jalan Eksplorasi. Karena profesinya, hal itu juga tidaklah mengejutkan.

Seorang aktor yang baik akan selalu mencermati peran barunya, sembari selalu membuka wawasan dengan cara mengajak bicara dengan orang lain dengan latar belakang berbeda. Seorang aktor yang dikasting untuk memerankan tokoh perwira kepolisian, misalnya, tentu akan bergaul dengan polisi dalam kehidupan nyata.

Jadi gagasan ”eksplorasi” itu sebenarnya datang secara alami ‘menyapa’ mereka. Menyelami pengalaman dan hidup orang lain itu sebenarnya juga tidak terlalu jauh berbeda dengan merasuki tradisi agama lain pada kurun waktu tertentu.

Orang lain —tidak terbatas para seniman— yang lebih mapan dalam keyakinan agamanya justru akan sering mendapatkan bahwa hidup spiritual mereka itu lebih berkembang lagi berkat jalinan interaksi dengan tradisi keagamaan lainnya.

Bereksplorasi merupakan perkara biasa khususnya bagi sebagian orang tertentu. Penulis Amerika Ralph Waldo Emerson dan Henry David  Thoreau, misalnya, boleh dibilang termasuk para penjelajah batin.

Maka demikianlah bermula semua kisah tentang upaya pencarian diri. Dan persis inilah yang mau disebut Jim Masrtin sebagai metafora perziarahan batin manusia.

Keuntungan dari kategori Jalan Eksplorasi ini sangat jelas. Setelah pencarian serius, kita mungkin berhasil menemukan tradisi religius yang cocok. Para peziarah rohani biasanya merasa lebih bersyukur atas apa yang telah mereka dapatkan dan tak  mau meremehkan orang lain.

Bahaya lain adalah kurang komitmen. Seluruh hidup mungkin menjadi salah satu contoh sebuah eksplorasi batin tiada henti, pencarian spiritual. Manakala sarana menjadi tujuan dan bukan lagi mengarah pada Allah, persis di situ orang akhirnya menemukan dirinya kurang puas, bingung, tersesat jalan, dan bahkan mungkin sedikit sedih.

  1. Jalan Kebingungan

Kategori  ini bersimpangan dengan semua ‘jalan’ sebelumnya di berbagai titik singgung. Orang-orang  ini mengalami pasang surut iman.

Orang-orang ini belum mau mengasingkan diri, tetapi mereka juga tidak begitu punya keterikatan erat dengan komunitas beriman. Mereka berseru kepada Allah dalam doa, namun juga kemudian menggugat mengapa tidak ada jawaban dari Tuhan

Bagi kelompok kategori ini, bisa menemukan Allah adalah misteri, kecemasan, atau malah merupakan masalah.

Keuntungan utama Jalan Kebingungan ini adalah fakta sering kali  membantu orang bisa menyempurnakan pemahaman iman masa kecilnya. Tak seperti mereka yang sudah mantap dalam hidup beriman, orang-orang di jalan ini masih bimbang, sehingga mereka terus-menerus terdorong memurnikan pemahaman dan komitmen religius keagamaan mereka.

4 COMMENTS

  1. 1. Pak, bagaimana cara membeli buku Spiritualisme Yesuit tersebut?
    2. Dapat kah Rm.Yeremias Balapitoduan MSF, beliau pernah di KWI seksi Keluarga kurang lebih 7 thn, diundang untuk menulis di Sesawi mengenai topik Psikogenetik?

    Terima kasih

  2. Mas Mathias, saya sudah pesan seperti petunjuk yang dinfokan di sesawi, ongkos kirimnya berapa y, harga buku Rp. 110.000 jadi saya mau tranf + ongkos kirimnya..terimakasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here